Batasi Ruang Gerak Abu Sayyaf, Patroli Bersama Dinilai Tak Efefktif

918
Pesona Indonesia
Tentara Filipina. Foto: istimewa
Tentara Filipina. Foto: istimewa

batampos.co.id – Kesadaran tentang pembajakan di perairan Asia Tenggara terus meningkat seiring sandera anak buah kapal (ABK) Abu Sayyaf yang bertambah. Untuk upaya pencegahan, wacana patroli maritim antar tiga negara terkait di wilayah sekitar perairan Filipina selatan disuarakan pemerintah Malaysia dan Indonesia. Namun, hal tersebut dinilai bukan solusi yang tepat karena permasalahan politis di wilayah Filipina Selatan.

Pengamata Hubungan Internasional Hikmahanto menjelaskan, wacana yang dibicarakan pemerintah Indonesia itu bukan solusi yang tepat. Pasalnya, masih ada aspek politis dalam kasus perompakan yang terjadi di Filipina selatan. Hal tersebut jelas membedakan antara pengamanan perompak di Selat Malaka dan Perairan Kepulauan Sulu.

’’Wacana yang beredar di publik jelas tidak masuk akal. Pertama, kebanyakan pembajakan terjadi di laut teritorial Filipina. Jelas kapal militer Indonesia tidak bisa masuk kesana. Lebih tepatnya, Filipina pasti akan menolak karena berkaitan dengan harga diri negara,’’ terangnya di Jakarta, Senin (18/4/2016).

Dia menegaskan, Abu Sayyaf sampai saat ini masih menyandang label kelompok pemberontak yang ingin memerdekakan diri dari pemerintah Filipina. Artinya, permasalahan di Filipina selatan adalah isu konflik politik dalam negeri. Indonesia harusnya tak ikut campur dalam permaslahaan tersebut.

’’Indonesia kan tidak berperang dengan kelompok tersebut. Jadi, harusnya Indonesia bersikap netral terkait isu ini. Kalau terlalu agresif, Indonesia secara tidak langsung telah mengambil sikap memilih satu pihak,’’ ungkapnya.

Terkait pencegahan, dia mengaku lebih masuk akal jika Indonesia membuat peta daerah rawan di perairan Filipina. Peta tersebut nantinya diberikan acuan bagi kapal yang ingin berlayar ke negara tersebut. Meski secara biaya lebih besar, hal tersebut dirasa lebih aman daripada terkena resiko perompakan.

’’Saya kira ini lebih tepat daripada harus melarang kegiatan ekonomi antar dua negara. Usulan agar ada pengawalan kapal dari militer indonesia pun tak bisa karena melanggar kedaulatan Filipina,’’ ujarnya.

Berbeda pendapat, Staf Khusus Badan Nasional Penanggulangan Teroris  (BNPT) Wawan Hari Purwanto mengaku rencana tersebut tetap diperlukan. Dia tak menampik bahwa Abu Sayyaf mengaku sebagai kelompo separatisme. Namun, dia merasa bahwa keamanan merupakan prioritas utama dalam situasi seperti ini.

’’Dengan motivasi apapun, tindakan yang mereka lakukan adalah kriminal. Jadi, militer negara terkait harus melakukan langkah untuk mencegah hal tersebut terjadi. Salah satunya adalah dengan melakukan kerjasama operasi militer,’’ tegasnya. (jpgrup)

Baca Juga:
> Militer Filipina Kuasai 3 Markas Abu Sayyaf, Sandera Belum Ditemukan
> Abu Sayyaf Keluarkan Ultimatum Soal Uang Tebusan
> 14 WNI masih Disandera Abu Sayyaf
> Batasi Ruang Gerak Abu Sayyaf, TNI Kerjasama Filipina dan Malaysia
> Ini Nama ABK TB Henry yang Diculik Militan Abu Sayyaf
> 10 Sandera Belum Dilepas, Abu Sayyaf Kembali Culik 4 ABK TB Henry
> Sudah 20 Hari, Lokasi 10 WNI Disandera Abu Sayyaf Tak Diketahui
> Tunggu Komando, Pasukan TNI Siap Gempur Militan Abu Sayyaf
> Kata Menlu, 10 Sandera Selamat dari Serangan
> Militer Filipina Mengamuk, 8 Militan Abu Sayyaf Ditembak Mati
> Filipina Tetap Lanjutkan Operasi Pembebasan Sandera
> Ahli Bom Militan Abu Sayyaf Tewas
> Inilah Hambatan bagi TNI untuk Serbu Kelompok Abu Sayyaf
> Abu Sayyaf Suka Menculik lalu Minta Tebusan
> Militer Filipina Berguguran, JK Tetap Yakin 10 WNI yang Disandera Aman
> Mau Bebaskan 10 WNI yang Disandera, 18 Tentara Filipina Tewas, 59 Luka
> Militer Filipina Bentrok dengan Abu Sayyaf, Pemerintah Klaim 10 WNI Masih Aman
> Abu Sayyap Akhirnya Bebaskan Satu Orang Sandera
> Sandera Abu Sayyaf: 10 WNI, 1 Italia, 1 Belanda, 2 Kanada, 1 Norwegia, 3 bakal Dieksekusi Hari Ini
> Batas Tebusan Sandera Berakhir Hari Ini, Retno: 10 WNI Masih Hidup
> Perusahaan Siap Tebus Peter Cs, Warga Batam yang Disandera Abu Sayyaf
> 4 WN Malaysia yang Diculik Diduga Sudah di Markas Abu Sayyaf
> 4 Bulan Lalu, WN Malaysia Dipenggal Militan Abu Sayyaf
> Ini Nama 4 WN Malaysia yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> Kapal TG Massive 6 Dirompak, 4 WN Malaysia Disandera, 2 WNI Lolos
> Batas Pembayaran Tebusan Diperpanjang 8 April, 10 WNI yang Disandera Dipecah Dua
> Pulang dari Filipina, Menlu Yakinkan 10 WNI yang Disandera Masih Aman
> Batas Waktu Pemberian Tebusan Habis, Keluarga 10 WNI Disandera Abu Sayyaf Khawatir
> Abu Sayyaf Banyak Link di Indonesia, Ini Saran Mantan Kombatan Filipina
> Batas Pembayaran Tebusan Berakhir Hari Ini, Menlu: 10 WNI yang Disandera Masih Hidup
> Filipina Tolak TNI Ikut Bebaskan Sandera Abu Sayyaf
> Peter Cs Disandera Militan Abu Sayyaf Bersama 11 WNA
> Lokasi 10 WNI Disandera Sudah Diketahui, Tapi…
> Kalau Abang Tak Berangkat Kita Makan Apa? Eh, Ditangkap Militan Abu Sayyaf
> Tolong Selamatkan Peter dari Penyanderaan Abu Sayyaf!
> Menhan RI Kontak Menhan Filipina untuk Operasi Pembebasan Sandera
> Kapten Kapal yang Disandera Militan Abu Sayyaf Ber-KTP Batam
> Inilah Kekuatan Operasi Pembebasan 10 WNI yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> 10 WNI Disandera Militan Abu Sayyaf, Jokowi Kumpulkan Petinggi TNI
> Menanti Pasukan Khusus TNI Selamatkan 10 WNI yang Disandera di Filipina
> Ini Foto-Foto Kapten Kapal TB Brahma 12 yang Disandera Militan Abu Sayyaf
> Kapal WNI yang Disandera Bawa 7.000 Ton Batu Bara
> 10 WNI Disandera, Militan Abu Sayyaf Minta Rp 15 Miliar

Respon Anda?

komentar