Ekspedisi Gurindam Sakti Eksplore Pulau Terluar yang Dihuni Tujuh Orang

743
Pesona Indonesia
Tim Ekspedisi Gurindam Sakti saat tiba di Pulau Laut, Natuna. foto:aulia rahman/batampos
Tim Ekspedisi Gurindam Sakti saat tiba di Pulau Laut, Natuna. foto:aulia rahman/batampos

batampos.co.id – Tim Ekspedisi Gurindam Sakti Kodim Natuna bersama Koramil Pulau Laut dan mahasiswa saat ini berada di Pulau Laut Natuna. Di salah satu pulau terluar Indonesia.

Tim Gurindam Sakti 2016 yang didukung pemerintah Kecamatan Pulau Laut ini banyak melaksanakan kegiatan yang menyentuh masyarakat. Selain melakukan penjelajahan pulau-pulau terluar di Pulau Laut. Diantaranya Pulau Semiun.

Pulau Semiun merupakan pulau terluar di Kecamatan Pulau Laut, saat ini hanya dihuni dua kepala keluarga, yang terdiri 7 jiwa, satu diantara balita.

Dandim Natuna Letkol Inf Ucu Yustiana mengatakan, sasaran Ekspedisi Gurindam Sakti 2016 adalah untuk mengasah kemampuan menjelajah pulau-pulau terluar.

Selain itu, Ekspedisi Gurindam Sakti memiliki program serbuan teritorial, berupa jambanisasi, pemberian wawasan kebangsaan dan outbond pelajar, pembagian buku tulis, sarana olah raga, pembersihan fasum di Pulau Laut.

Tidak hanya itu, juga dilaksanakan penelitian sumber daya alam di pulau terluar, di Pulau Laut, diteliti budidaya ikan kerapu, teripang dan habitat penyu. Penjelajahan dilakukan di tiga pulau terluar, Sekatung, Sebetul dan Semiun.

“Tentu hasil akhirnya akan dituangkan dalam satu catatan buku, nanti menjadi bahan masukan kepada pemerintah, apa saja potensi yang ada di kecamatan,” kata Dandim.

Kasi Keamanan dan Ketertuban Umum Kecamatan Pulau Laut, Bambang yang mendampingi tim Ekspedisi Gurindam Sakti mengatakan, pemerintah Kecamatan Pulau Laut menyambut positif program yang dilaksanakan TNI di Pulau Laut.

Program ini, kata Bambang, diharapkan tetap dilanjutkan pada tahun mendatang, melalui program kegiatan yang lebih ditingkatkan. Misalnya pengobatan massal dan sunatan massal.

“Penelitian penitian sumber daya alam itu sangat penting bagi kami ya g bergantung pada alam. Supaya cara budidaya lebih mudah bagi masyarakat, contohnya tripang, kerapu sampai penyu,” sebut Bambang.(arn/bpos)

Respon Anda?

komentar