Gempa Ekuador Tewaskan 272 Orang, 2.068 Luka, 60 Persen Bangunan Hancur

1327
Pesona Indonesia
Tim SAR gabungan terus berupaya mengevakuasi warga yang tertumbun reruntuhan bangunan akibat gempa dahsyat melanda Ekuador sejak, Sabtu (16/4/2016). Foto: bloomberg
Tim SAR gabungan terus berupaya mengevakuasi warga yang tertumbun reruntuhan bangunan akibat gempa dahsyat melanda Ekuador sejak, Sabtu (16/4/2016). Foto: bloomberg

batampos.co.id – Jumlah korban tewas akibat dahsyat di Ekuador terus bertambah. Hingga Senin (18/4/2016), korban tewas sudah lebih dari 272 orang.

Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau mengungkapkan bahwa dua di antara korban tewas adalah warga negaranya. Jumlah korban terluka juga ikut bertambah menjadi 2.068 orang.

Angka itu bisa terus membengkak karena masih banyak korban yang tertimbun reruntuhan dan belum mendapatkan pertolongan. ’’Ada tanda-tanda kehidupan di sebagian besar reruntuhan. Itu yang akan menjadi prioritas penyelamatan,’’ ujar Presiden Ekuador Rafael Correa.

Dia menjelaskan bahwa gempa kali ini merupakan tragedi terbesar di negaranya dalam kurun waktu 67 tahun belakangan ini. Wilayah pantai yang dekat dengan episentrum gempa merupakan area yang terdampak paling parah. Terutama Padernales.

Kota tersebut dulu merupakan spot jujukan turis dengan pantai dan jajaran pohon palem yang indah. Kini Padernales luluh lantak. Lebih dari 60 persen bangunan rata dengan tanah. Di kota itu saja, ada 91 korban tewas.

Wali Kota Padernales Gabriel Alcivar menuturkan bahwa hampir seluruh kota rata dengan tanah. Dia takut korban tewas di Padernales saja akan terus meroket hingga 400 orang. Penjarahan juga terjadi di mana-mana.

’’Padernales hancur. Gedung-gedung ambruk. Terutama hotel-hotel di mana banyak turis yang tinggal. Banyak jenazah,’’ ucapnya.

Korban tewas yang telah diidentifikasi oleh keluarganya langsung dikubur. Penduduk yang selamat membuat peti seadanya secara bergotong-royong. Mereka juga ikut membantu mencari korban selamat di reruntuhan dengan alat seadanya. Sebagian besar korban selamat tersebut tinggal di tenda dekat puing-puing rumah mereka.

’’Kalian bisa mendengar orang berteriak dari reruntuhan. Beberapa orang terjebak di gedung farmasi dan kami tidak bisa melakukan apa pun,’’ jelas Agustin Robles, salah seorang korban selamat yang mengantre air di Stadion Padernales bersama puluhan orang lainnya.

Stadion tersebut kini dipakai sebagai tempat distribusi bantuan air, makanan, dan selimut. Sebagian ruangan juga dipakai untuk merawat korban luka dan menampung korban tewas.

Gempa itu pun membuat penjara El Rodeo di Kota Portoviejo rusak parah. Sebanyak 130 orang tahanan melarikan diri. Pihak kepolisian baru bisa menangkap kembali 35 orang. Pemerintah mengerahkan 13.500 pasukan keamanan untuk menjaga situasi.

Selain itu, kredit senilai USD 600 juta (Rp 7,9 triliun) dari pemberi pinjaman multilateral telah diaktifkan untuk penanganan darurat bencana.

Institut Geofisika Ekuadro mengungkapkan bahwa pascagempa utama berkekuatan 7,8 skala Richter pada Sabtu petang (16/4/2016), masih ada sekitar 230 gempa susulan.

Profesor Geosains dari Universitas Terbuka Inggris David Rothery menyatakan bahwa total energi gempa di Ekuador 20 kali lebih besar ketimbang gempa di Jepang. Namun, tidak ada hubungan dalam dua gempa tersebut.

Pemerintah Venezuela, Chile, dan Meksiko telah mengirimkan bantuan personel ke Ekuador. Bantuan juga datang dari tim yang dikirim oleh Dokter Lintas Batas. Selain itu, masih ada 800 relawan Palang Merah Ekuador.

Peringatan adanya tsunami memang telah dicabut. Namun, Pemerintah Ekuador tetap meminta penduduk di daerah pantai mencari perlindungan di tempat yang lebih tinggi. Kilang minyak utama di Esmeraldas tidak mengalami kerusakan yang berarti, tetapi ditutup sementara untuk berjaga-jaga. Sebab, lokasinya berdekatan dengan episentrum.

Pemerintah Ekuador pun menegaskan, gempa tersebut tidak memengaruhi produksi minyak mereka. Kilang di Esmeraldas segera dibuka kembali begitu situasi memungkinkan. (AFP/Reuters/BBC/sha/c20/ami/jpg)

Respon Anda?

komentar