Mahasiswa UI Jatuh ke Jurang Saat Naik Gunung Slamet

973
Pesona Indonesia
(Foto: Radar Banyumas/JPG)
(Foto: Radar Banyumas/JPG)

batampos.co.id – Seorang pendaki yang mengalami kecelakaan di Gunung Slamet berhasil dievakuasi oleh petugas SAR gabungan Kabupaten Banyumas, Senin (18/4) siang. Tim SAR mengevakuasi Irfan Hidayat (19) yang jatuh ke jurang.

Tim evakuasi yang membawa Irfan tiba di posko lapangan PMI Banyumas sekitar pukul 13.40 WIB. Selanjutnya, mahasiswa Universitas Indonesia (UI) itu segera dibawa ke Rumah Sakit Tentara (RST) Wijayakusuma Purwokerto.

Tim SAR gabungan juga menjemput 12 rekan korban yang ikut mendaki Gunung Slamet bersama Irfan. Saat ditemui wartawan, salah seorang teman Irfan, Lutfi (19) mengatakan bahwa mereka baru pertama kali mendaki Gunung Slamet.

“Kami teman sekampung dari Sumatra, 11 orang kuliah di UI dan dua orang kuliah di ITS,” kata mahasiswa UI itu saat ditemui Radar Banyumas di posko darurat.

Mereka mulai mendaki Gunung Slamet pada Sabtu (16/4) melalui jalur Baturraden. Nahas, kecelakaan justru terjadi saat mereka menuruni puncak Gunung Slamet.

“Waktu itu, saya berada di barisan paling depan, kemudian diikuti Noval dan Teguh. Posisi Irfan sekitar barisan nomor tujuh,” kata Lutfi.

Saat itu, Lutfi sudah mendekati batas vegetasi dan kemudian mendengar teriakan. Ternyata terjatuh.

“Saat itu ada teriakan dari atas dengan kemiringan sekitar 45 derajat supaya diminta untuk mencari bantuan. Tak jauh dari batas vegetasi, ada rombongan dari Yogyakarta yang akan nge-camp dan kami minta tolong untuk menghubungi bantuan terdekat,” ucapnya.

Saat itu, dengan bantuan rombongan dari Yogyakarta, komunikasi terjadi dengan kamp dari Kaliwadas, Brebes. Lutfi melanjutkan, semua anggota rombongan berjumlah 13 orang belum ada yang berpengalaman naik Gunung Slamet. “Ini baru kali pertama mendaki Gunung Slamet dari Baturraden,” katanya.

Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banyumas, Heriana Ady Candra mengatakan, jalur pendakian Gunung Slamet dari Baturraden bukan jalur resmi. Posko yang ada di jalur pendakian via Baturaden pun jauh dari permukiman warga.

“Jalur ini (Baturraden) bukan jalur resmi seperti jalur pendakian di Bambangan, Purbalingga kemudian jalur Kaliwadas, Brebes, jalur Guci, Tegal. Karena poskonya jauh dari permukiman penduduk,” ungkap Ady.

Kakak sepupu Irfan yang menunggu proses evakuasi di posko panjcuran tujuh, Aulia Rahman (23) mengatakan, saudaranya memang bukan anggota Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI. Meskipun hobi mendaki gunung, Irfan tidak tahu dasar-dasar pendakian.

“Ini merupakan pendakian kedua yang dia lakukan. Sebelumnya dia mendaki Gunung Papandayan,” kata Aulia yang mengakui tahu musibah menimpa Irfan dari salah seorang teman kos adiknya di Depok, Jawa Barat.

Petugas medis dr. Trisma Nur Indra, mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan, napas dan kesadaran Irfan masih bagus. Tim medis menemukan luka di kepala luar, namun tidak ditemukan tanda cedera vertikal maupun cedera tulang belakang.

Hanya saja, hasil pemeriksaan awal itu harus dikonfirmasi dengan hasil uji laboratorium atau radiologi di rumah sakit. Ia menduga korban terluka karena terbentur benda tumpul atau batu. “Saat pemeriksaan awal, tidak ditemukan adanya patah tulang,” katanya. (jpnn)

Respon Anda?

komentar