Operasi Gabungan Narkoba, 4.170 Kasus, 5.519 Tersangka

664
Pesona Indonesia
Jajaran Ditipid Narkoba Bareskrim Polri menunjukkan barang bukti sabu dan pelaku saat rilis kasus narkoba di Ditipid Narkoba Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (18/4/2016). Penyidik Ditipid Narkoba Bareskrim Polri berhasil mengungkap dua kasus sindikat narkoba internasional dengan menangkap dua warga negara Taiwan, satu warga negara Nigeria, serta satu warga Indonesia dengan barang bukti sabu seberat 14,1 Kg. FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA
Jajaran Ditipid Narkoba Bareskrim Polri menunjukkan barang bukti sabu dan pelaku saat rilis kasus narkoba di Ditipid Narkoba Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (18/4/2016). Penyidik Ditipid Narkoba Bareskrim Polri berhasil mengungkap dua kasus sindikat narkoba internasional dengan menangkap dua warga negara Taiwan, satu warga negara Nigeria, serta satu warga Indonesia dengan barang bukti sabu seberat 14,1 Kg. FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA

batampos.co.id – Operasi besar-besaran memberantas peredaran narkoba yang digelar aparat gabungan Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), serta Ditjen Bea Cukai, bertajuk berantas sindikat narkoba (Bersinar), mengungkap sedikitnya 4.170 kasus narkoba.

Jumlah tersangkanya juga mencapai angka yang fantastis, yakni 5.519 orang. Di tengah keberhasilan pemberantasan narkotika itu, over kapasitas penjara kian menjadi momok.

Kasus penyelundupan narkotika yang paling baru diungkap Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipid Narkoba) Bareskrim Polri. Jumlah narkoba yang diamankan adalah sabu seberat  14,1 kg. Dari jumlah itu, 12,1 kg berasal dari jaringan narkoba Taiwan dengan dua tersangka yang diamankan yakni Lie Chun Wei dan Siao Zheng Long.

Aparat juga menemukan fakta menarik bahwa jaringan Taiwan ternyata terhubung dengan jaringan Nigeria. Akhirnya, ditangkaplah Nwaeze Mbamaeze Benjamin yang kedapatan membawa sabu 2 kg. Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba (Wadir Tipid Narkoba) Bareskrim Polri Kombes Nugroho Aji mengatakan, belasan kilogran sabu ini dikirim melalui jalur laut dan udara.

”Mereka memakai perusahaan ekspedisi untuk mengirimnya,” terangnya, kemarin (18/4).

Sementara Karopenmas Divhumas Mabes Polri Brigjen Agus Rianto mengatakan, pengungkapan kasus kali ini merupakan bagian dari operasi Bersinar yang dilaksanakan sejak 21 Maret hingga 21 April.

”Operasi bersinar ini benar-benar efektif dalam mengungkap jaringan narkotika,” terangnya.

Sesuai data Polri, ada 4.170 kasus narkoba yang tersangkanya mencapai 5.519 orang. Ribuan tersangka itu terdiri dari pengecer sebanyak 3.153 orang, pemakai mencapai 1.658 orang, bandar sekitar 682 orang, pemodal mencapai 12 orang, dan pengadar ganja mencapai 13 orang.

”Ini wujud dari upaya pemberantasan narkotika,” paparnya.

Menurut dia, jumlah kasus dan tersangka itu bisa jadi terus bertambah. Sebab, kasus narkoba tersebut terus diusut petugas.

”Kasus narkotika itu berbeda dengan kasus lain, kami terus mencari, makanya akan terus diungkap,” paparnya.

Namun, keberhasilan Operasi Bersinar ini juga akan memberikan dampak lainnya. Dengan adanya 5 ribu lebih orang ditangkap, maka penjara akan kembali disesaki penghuni baru. Over kapasitas penjara akan kian tidak terkendali.

Menanggapi itu, Kabareskrim Komjen Anang Iskandar menjelaskan, solusi utama dalam mencegah penjara terjadi overkapasitas adalah dengan menjalankan UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

”Terutama pasal 54 yang menjamin pecandu dan penyalahguna narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan sosial,” terangnya.

Dia menuturkan, tidak hanya penyidik yang memiliki tugas menjalankan amanat undang-undang ini, jaksa dan hakim juga harus mengikutinya. ”Tentunya, semua memiliki perannya masing-masing untuk menjalankan undang-undang,” tuturnya.

Polri sudah berupaya dengan mengeluarkan surat keputusan Kapolri nomor STR/865/X/2015 tanggal 26 Oktober 2015. Meski kebijakan itu baru berjalan hampir 6 bulan, sudah menunjukkan adanya perbaikan.

”Jumlah pengguna narkotika yang dipenjara sudah mulai menurun,” terangnya.

Pada akhir 2015 jumlah pengguna narkotika yang dipenjara mencapai sekitar 20 ribu orang. Namun, pada Maret 2016 itu tercatat turun sekitar 5 ribu orang, sehingga total pengguna yang dipenjara mencapai sekitar 15 ribu orang.

”Ini menunjukkan penegak hukum mulai untuk merehabilitasi pengguna,” tuturnya.

Dia yakin bila kebijakan tersebut terus dilanjutkan, maka over kapasitas penjara akan bisa dikurangi. Sehingga, masalah yang terjadi akibat over kapasitas, dari kerusuhan dan peredaran narkotika di penjara juga bisa ditekan.

”Kalau pengguna itu direhabilitasi, tidak mungkin penjara itu kelebihan penghuni,” paparnya. (idr/agm/jpgrup)

Respon Anda?

komentar