Antisipasi Risiko Ekonomi Global

717
Pesona Indonesia

Lembaga Dana Moneter Internasional kembali memangkas outlook pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2017 menjadi 3,5%, menyusul pelambatan ekonomi Cina serta lemahnya harga minyak dunia. Dalam laporan terakhir World Economic Outlook IMF seperti dilansir Reuters pada Selasa (12/4/2016) dini hari, angka perkiraan tersebut lebih rendah 0,1% dibandingkan dengan outlook bulan Januari lalu.

Dalam laporan tersebut, IMF juga memperkirakan pertumbuhan global tahun ini akan berada di angka 3,2%, turun dari perkiraan 3,4% yang dirilis pada Januari lalu. Selain pelambatan ekonomi China dan pelandaian harga minyak, IMF juga menggarisbawahi pelemahan ekonomi yang nyaris berkelanjutan di Jepang, Eropa, dan AS. Pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah berarti terdapat lebih sedikit ruang untuk toleransi kesalahan.

Efek dari pertumbuhan yang kurang kuat dapat melemahkan permintaan, mengurangi lapangan kerja, dan memangkas potensi hasil produksi lebih jauh, serta bisa menciptakan skenario stagnasi sekuler. Lebih lanjut, laporan IMF tersebut juga memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2016 untuk Jepang menjadi 0,5% dan untuk AS menjadi 2,4%.

Dengan kata lain, pemulihan ekonomi global masih menghadapi risiko yang terus membesar dan ancaman frustasi atas ketidaksetaraan ekonomi (ketimpangan) yang berpeluang besar untuk menyuluk terjadinya peningkatan potensi proteksionisme. Bahkan beberapa waktu lalu, Direktur Pelaksana International Monetary Fund, Christine Lagarde, juga sempat mengatakan bahwa prospek ekonomi dunia telah meredup selama enam bulan terakhir, diperburuk oleh perlambatan ekonomi di China, harga komoditas yang lebih rendah, dan risiko pengetatan keuangan di banyak negara. Sementara di sisi lain, ekspektasi pertumbuhan dari negara-negara berkembang untuk mencapai ekonomi yang lebih maju juga belum terjadi.

Data dari IMF menunjukan bahwa tingkat ketidaksetaraan telah menurun pada skala global. Dan komentar dari Legarde mengenai ekonomi global tersebut mengawali sinyal bahwa IMF memang akan menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global di saat merilis update World Economic Outlook 12 April lalu dimana menteri-menteri ekonomi dan para gubernur bank sentral dari 188 negara anggota ikut berkumpul di Washington, dalam pertemuan musim semi IMF. Meskipun demikian, sinyal positif untuk pemulihan ekonomi sejatinya masih ada dan terus berlanjut secara perlahan.

Dengan kata lain, ekonomi dunia masih tumbuh. Meskipun tidak berada di bawah-bayang krisis, tapi ancaman tetap ada dibalik pengguntingan proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Pasalnya, pemulihan ternyata berjalan sangat lambat, terlalu rapuh, dan risiko terhadap daya tahannya meningkat. Pertumbuhan di Amerika Serikat cenderung datar karena penguatan dolar AS, sementara rendahnya investasi dan tingkat pengangguran yang tinggi membebani pertumbuhan di zona Eropa. Begitu pula dengan pertumbuhan dan inflasi di Jepang yang ternyata lebih rendah dari yang diharapkan.

Sementara itu, transisi perekonomian China ke model ekonomi yang lebih berkelanjutan membuat pertumbuhan mereka juga ikut bergerak dalam dinamika yang lebih lambat. Parahnya lagi, kemerosotan di Brazil dan Rusia ternyata jauh lebih buruh dari yang diperkirakan, sedangkan negara-negara di Timur Tengah juga terpukul akibat penurunan harga minyak. Memang ada banyak kemajuan sejak krisis keuangan besar (2007-2008), tetapi karena pertumbuhan yang rendah berlangsung terlalu lama, akhirnya banyak negara yang tidak terlalu merasakan efek pertumbuhanya.

Pemulihan global terasa semakin komplek takala ditambah dengan kehadiran kebijakan suku bunga negatif (Negatif Interest Rate Policy/NIRP) yang ditetapkan oleh bank sentral di Jepang dan Eropa untuk memerangi deflasi. Suku bunga jangka pendek yang negatif sejatinya adalah kebijakan yang tidak lazim. Bank komersial membayar bank sentral untuk dana yang mereka tempatkan. Di satu sisi, kebijakan ini mungkin saja akan mendukung pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih kuat karena deflasi berkemungkinan bisa ditekan dan pertumbuhan ekonomi mungkin akan terdongkrak.

Setidaknya secara teoritik, dampak jangka pendek keputusan suku bunga negatif memberi sentimen positif bagi pasar saham. Buktinya ketika Jepang mengambil kebijakan NIRP, bursa saham di Tokyo langsung melonjak dan nilai tukar Yen terhadap Dolar AS langsung turun, sementara yield surat utang langsung parkir diarena negatif. Namun, menurut Macquarie dalam sebuah laporan risetnya yang dimuat di Wall Street Journal, kebijakan bank sentral dengan suku bunga negatif dan quantitative easing sampai hari ini belum terbukti mengatasi masalah perekonomian seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi meskipun pelonggaran moneter tersebut akan membuat mata uang menjadi lebih murah kemudian sedikit ikut membantu pertumbuhan ekonomi sebuah negara.

Lebih jauh Jana Randow juga menjelaskan, secara teoritik suku bunga negatif dapat mengurangi bunga pinjaman dan meningkatkan permintaan kredit/pinjaman. Namun pada praktiknya, ada risiko bahwa kebijakan ini malah akan berbahaya. Nasabah akan lebih memilih menyimpan uangnya di rumah daripada di bank yang dapat mengakibatkan bank kekurangan likuiditas. Janet Yellen pada 2013 juga pernah menyebutkan bahwa kebijakan suku bunga nol akan berdampak bagi pasar uang karena menganggu pendanaan lembaga keuangan/bank.

Selain itu, juga ada risiko perang mata uang (currency wars), di mana negara berlomba-lomba melemahkan mata uangnya demi mengejar pertumbuhan seperti yang pernah dikemukakan oleh para ekonom Deutsche Bank pasca Jepang menerapkan NIRP. Dan akhirnya keuntungan dunia perbankan akan terpangkas tajam.
Pendek kata, bagi Indonesia, semakin menipisnya tingkat pertumbuhan ekonomi global akan memperburuk prospek ekspor komoditas andalan dan akan memperburuk keseimbangan antara ekspor dan impor.

Sementara itu, harga minyak yang kian tergerus akan membuat harga komoditas ekspor Indonesia juga terancam. Dengan kata lain, akan ada dua ancaman sekaligus yang mengintai sektor ekspor, yakni penipisan permintaan dan harga jual yang semakin murah. Lebih lanjut, ketidakpastian moneter global akan terus menghantui nilai tukar Rupiah dan suku bunga acuan Bank Indonesia. Kurs mata uang yang kurang stabil akan membuat suasana bisnis dalam negeri menjadi kurang kondusif karena asumsi nilai tukar selalu meleset. Begitu pula dengan gonjang-ganjing suku bunga the Fed dan perlambatan ekonomi Tiongkok, proses pelongggaran moneter melalui instrument suku bunga akan berjalan lambat yang kemudian mengurangi oli perekonomian nasional.

Untuk itu, ada beberapa hal yang harus segera dilaksanakan, bahkan diprioritaskan oleh pemerintah agar tetap mampu menjaga irama perekonomian domestik alias tidak terbawa pusaran ketidakpastian global. Pertama, segera realisasikan janji-janji deregulasi dan debirokratisasi yang termaktup dalam semua paket ekonomi untuk memuluskan para penanam modal, baik domestik maupun asing. Kedua, segera atau percepat realisasi belanja pemerintah, terutama untuk belanja infrastruktur dan belanja modal.

Ketiga, segera temukan racikan-racikan yang tepat untuk menjaga penerimaan negara agar tidak terancam shortfall yang terlalu lebar seperti tahun lalu, termasuk memberikan kepastian terhadap nasip UU Tax Amnesty. Dan terakhir, pemerintah harus fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah karena akan sangat membantu kelancaran belanja modal dan bahan mentah yang berasal dari import, terutama untuk mendukung kelangsungan pasokan proyek-proyek infrastruktur. Semoga. ***

 

Ronny-P-Sasmita

Respon Anda?

komentar