Dua Pemalsu Kupon BBM hanya Dituntut 4 Bulan Hukuman Penjara

465
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Mujianto (35) dan Joko Santoso (30), dua terdakwa pemalsuan kupon bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax milik salah satu instansi pemerintah, hanya dituntut empat bulan penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rudi Bona Sagala dari Kejari Tanjungpinang, dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Selasa (19/4).

Dalam tuntutannya, JPU menyatakan kedua terdakwa terbukti bersalah membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu dan dinyatakan melanggar Pasal 263 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (KUHP) junto pasal 55 KUHP.

”Atas perbuatan itu kami meminta Majelis Hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 4 bulan,” ujar Rudi saat membacakan tuntutannya.

Adapun pertimbangan JPU yang meringankan hukuman para terdakwa dalam tuntutannya, menyebutkan bahwa terdakwa telah mengembalikan kerugian milik pihak SPBU atas pemalsuan kupon BBM. Sehingga unsur kerugian yang dimaksud dalam pasal sudah tidak terpenuhi.

”Pihak SPBU yang sebelumnya dirugikan telah memaafkan para terdakwa dan kerugian yang timbul atas perbuatan itu telah dikembalikan seluruhnya oleh para terdakwa kepada pihak SPBU,” sebut Rudi.

Setelah pembacaan tuntutan itu, para terdakwa pun menyampaikan menerima atas tuntutan yang diajukan oleh JPU dihadapan Majelis Hakim. Dihadapan persidangan itu pula, para terdakwa menyampaikan penyesalannya dan meminta Majelis Hakim untuk memperingan hukumannya, sebagai nota pembelaan (pledoi) yang disampaikan secara lisan oleh para terdakwa.

Setelah pledoi dari para terdakwa, Ketua Majelis Hakim, Zulfadli pun menunda sidang untuk dilanjutkan pada pekan depan dengan agenda pembacaan putusan setelah Majelis Hakim melakukan musyawarah untuk menentukan putusan kepada para terdakwa.

Sekedar mengingatkan, kasus ini bermula saat Polres Tanjungpinang menangkap para terdakwa atas dugaan pemalsuan kupon Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax milik salah satu instansi pemerintahan, pada Sabtu (16/1) silam. Saat itu, dari tangan para pelaku polisi mengamankan barang bukti kupon palsu sebanyak 1.463 lembar dengan harga per kuponnya sebesar Rp 100 ribu. Selain kupon palsu tersebut, polisi juga mengamankan barang bukti berupa alat penunjang pencetakan kupon BBM berupa laptop, printer dan stempel.

Terungkapnya tindak pidana penipuan tersebut berawal dari informasi masyarakat bahwa adanya kejanggalan pada prosedur penukaran kupon BBM jenis Pertamax tersebut. Selanjutnya, anggota Satuan Reserse Kriminal (reskrim) langsung melakukan penyelidikan. Modus yang dilakukan kedua tersangka tersebut mencetak kupon BBM dengan meniru kupon asli. Kemudian, pada saat masyarakat membeli BBM dengan jenis yang sama, maka uang yang dibayarkan tersebut diganti dengan 1 lembar kupon.

Kedua tersangka tersebut mengaku telah melakukan hal ini sejak 6 bulan sebelum ditangkap. Meski dipalsukan, pihak instansi pemerintahan tersebut sama sekali tidak mengalami kerugian, namun pihak SPBU yang diduga mengalami kerugian akibat ulah kedua pelaku tersebut.(ias/bpos)

Respon Anda?

komentar