Miris! Demi Bertahan Hidup, Pasutri Miskin Ini Makan Kadal

606
Pesona Indonesia
(foto: Radar Tegal/JPG)
(foto: Radar Tegal/JPG)

batampos.co.id – Tarsono (38 tahun), mantan pembantu polisi alias Banpol di Polres Tegal, Jawa Tengah, kini hidup terlunta-lunta bersama istrinya, Triyani (19 tahun). Sudah dua bulan ini mereka tinggal di kolong jembatan Kali Cenang di jalur pantai utara (pantura) Jawa, Tegal.

Pada saat air pasang, praktis Tarsono dan Triyani harus mengungsi. Ia menumpang di gubuk tambak milik Surip di perbatasan yang masih berada di bawah dekat Jembatan Kali Cenang.

Semula pasutri malang itu tinggal di Jalan Proklamasi Nomor 8 RT 7/RW 10, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Nahas, tahun 2000, rumah yang mereka tempati bersama keluarga besarnya ludes terbakar.

Pasca-kebakaran itulah Tarsono tak mempunyai tempat tinggal lagi dan sering sakit-sakitan. Saat ditemui Radar Tegal, Senin (18/4), Tarsono tengah terkena herpes. Sekujur tubuhnya gatal-gatal dan memerah serta sebagian kulit luarnya mulai mengelupas.

Saking sakitnya, Tarsono pun tak bisa bekerja. Kini dia dan istrinya hanya mengandalkan makanan yang ada di sekitar gubuk.

Menurut Tarsono, tak jarang ketika rasa lapar tak bisa ditahan lagi maka kadal pun jadi santapan. Sedang ketika haus, mereka minum air perasan tebu milik petani yang sudah mulai dipanen.

Tarsono pun hanya bisa berkaca-kaca saat disinggung mengenai masa depannya bersama Triyano. Dia hanya bisa menjawab dengan menghela nafas panjang. Pasalnya, untuk makan hari ini saja dia tidak tahu akan mencari kemana, apalagi jika ditanya masa depan yang belum tentu bisa dia lalui.

“Sekarang kondisi kesehatan saya terus memburuk karena tidak mampu untuk berobat, bahkan, istri saya juga mulai ketularan herpes karena disini tidak ada air untuk mandi,” katanya dengan suara terbata-bata.

Triyani pun memiliki kisah yang tidak kalah sedih. Sebelum bertemu Tarsono sekitar setahun silam, dia hidup menggelandang dan meminta-minta di sekitar Kota Tegal.

Akhirnya, dia bertemu Tarsono yang merasa kasihan dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menikah. Sejak sang suami tidak memiliki tempat tinggal tetap, mereka hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk sekadar berteduh dari sengatan matahari dan guyuran hujan hingga akhirnya mereka menempati kolong jembatan.

Beruntung, saat seorang warga yang merasa iba dan menyuruh mereka tinggal sementara di gubuk di bawah jembatan. Tapi kondisi itu membuat penyakit yang diderita suaminya semakin parah hingga tidak bisa bekerja.

Beberapa kali dia mencoba untuk meminta bantuan untuk berobat, tetapi lokasi yang dia tempati dan KTP asal mereka berdua berbeda. Akhirnya mereka hanya bisa pasrah menerima keadaan seperti ini.

“Jangankah untuk berobat, untuk makan saja kami terkadang harus puasa karena memang tidak ada yang bisa dimakan,” ujarnya sembari mengusap air mata. (jpnn)

Respon Anda?

komentar