Penari Langit dan Impian Kami untuk Dunia

Oleh Ricky Elson

1364
Pesona Indonesia

Ini adalah surat cinta dari Ciheras. Balasan untuk tulisan Pak Dahlan Iskan di New Hope Senin (18/4).

Abah tercinta,

Maafkan, saya ingin sedikit meluruskan. Pertama, Penari Langit bukanlah nama ilmiah. Juga bukan analogi kincir angin atau pembangkit listrik tenaga bayu.

Penari Langit adalah cikal bakal nama produk dari kincir angin impian saya waktu memulai riset dan pengembangan di Jepang sepuluh tahun lalu.

Waktu itu produk AS dan Jepang memiliki brand yang bagus. Seperti AirX buatan Southwest. AirDolphin buatan Zephyr. Atau KazeNagashi Kujira buatan Nikko.

Semuanya kelas kecil 500 watt hingga 1.000 watt peak. Mereka merajai dunia untuk kelas itu. Dari teknologi hingga marketing.

Impian saya melahirkan kincir angin kecil di kelas yang sama, yang jauh lebih baik daripada tiga produsen itu. Tentu saja yang terbaik di dunia.

Dalam mewujudkan impian itu, saya berguru kepada Prof Izumi Ushiyama, guru besar kincir anginnya Jepang. Hampir 80 persen textbook tentang kincir angin.

Mulai pengenalan hingga advance beliau tulis selama 25 tahun ini. Saat ini beliau adalah rektor di Ashikaga Institute of Technology, Jepang.

Bahkan, awal mula dari impian saya mengembangkan kincir angin adalah ketika beliau berpesan, ”Ricky-san, di masa depan, teknologi kincir angin akan semakin andal dan semakin menuju kapasitas super-raksasa. Namun, itu hanya kepentingan industri baru. Untuk pemenuhan ekonomi negara maju. Dengan label renewable energy industry.”

”Namun, Ricky-san, ketahuilah, usia saya saat ini sudah 60-an tahun. Ada penyesalan dalam hidup saya yang tak kesampaian.”

Di dunia ini, ada 7 miliar lebih manusia dan 70 persen hidup di negara berkembang. Dan, 30 persen lebih dari 7 miliar manusia itu belum menikmati kemajuan dunia yang bernama peradaban elektrik ini.

”Saya bermimpi menerangi mereka. Dengan kincir-kincir yang kecil. Karena sudah pasti mereka tak akan mampu membeli yang besar itu.”

”Ricky-san, meski 20 tahun ini saya berjibaku mengembangkan bilah terbaik untuk mereka, yaitu low tip speed ratio type, inverse taper wind turbine, saya tak bisa mewujudkan generator penghasil listrik terbaik untuk pasangan turbin ini.”

”Ricky-san, Anda masih muda. Anda bisa mewujudkan mimpi ini. Bahkan bisa lebih dari itu. Maka, jangan berhenti dari Nidec Corp. Meskipun berat.”

Itu pesan beliau di kali pertama pertemuan kami, Oktober 2006.

Air mata saya berderai. Padahal, saya yang mendatangi beliau untuk melarikan diri dari penggemblengan dengan disiplin yang sangat keras di tiga bulan pertama saya di Nidec Corp.

Yang membuat saya ingin berhenti dan melanjutkan S-3 saja ke tempat Prof Ushiyama.

Namun, setelah bertemu beliau, saya kembali ke kantor. Menundukkan kepala yang pongah karena tak berisi dan penuh kesombongan ini kepada semua atasan saya dan mulai membangun langkah kecil untuk mimpi besar di bawah bimbingan ahli mesin elektrik nomor 1 di Jepang, Prof Takashi Kenjo. Juga dibimbing secara spirit Jepang oleh dua orang bijak, Prof Nobufuji Kaji dan ”Prof” Hitoshi Inoue.

Jalan terjal yang tak mudah. Saya adalah lulusan jurusan teknik mesin yang membenci segala sesuatu yang berbau kelistrikan.

Di usia 26 tahun, Juni 2006, mulai belajar listrik dan elektronika dasar, elektromagnetika, mesin listrik, material listrik serta magnetik, power elektronik, dan lain-lain. Semua yang saya benci sepenuh hati selama ini.

Demi impian yang menggetarkan hati saya. Titipan Prof Izumi Ushiyama. Dream for world humanity.

Belajar membongkar dan menguji performa ratusan dinamo Tamiya siang malam akhirnya mengantarkan saya menuju sebuah teknologi kunci pembangkit listrik tenaga angin ini, yaitu high efficiency dan cogging-less design of permanent magnet motor/generator.

Yang dimulai penerapannya di motor penggerak power steering dan motor penggerak sepeda bantu listrik desain saya yang akhirnya mengalahkan performa mesin buatan Panasonic Bicycle yang sudah 17 tahun merajai Jepang.

Dengan teknologi itu, saya mendatangi Prof Ushiyama. ”Subarashii. Mengagumkan,” puji Prof Ushiyama dengan mata berkaca-kaca.

Saya pulang ke Nidec, membawa semangat membara, mewujudkan kincir angin skala kecil terbaik di dunia bersama tim di kantor. Lebih dari Rp 100 miliar digelontorkan perusahaan sepanjang 2009 ke 2012 untuk mimpi saya dan Prof Ushiyama yang bisa menjadi mimpi kami bersama.

Hanya untuk kincir angin skala maksimum 500 watt. Bayangkan jika mengembangkan yang seperti dilihat oleh Pak Dahlan Iskan di Texas itu.

Saat itulah saya yakin ini terwujud. Dan, saya mulai mempersiapkan diri untuk kembali ke Indonesia. Dengan mimpi mengalahkan AirDolphin, AirX, KazeNagashiKujira, prototipe pertama itu saya beri nama Sora no Odori-ko atau The Sky Dancer atau Penari Langit. Itulah sebabnya nama produk buatan kami itu TSD-500.

Namun, seperti di Indonesia, pada akhir 2011, angin politik berembus kencang di dalam perusahaan. Semua panutan saya, Prof Kaji dan Prof Inoue, dijauhkan dari saya karena ”berbahaya” terhadap kebijakan perusahaan jika bersama.

Saat itu kami juga sedang merintis pusat RnD baru yang sekarang telah berdiri dan beroperasi di Kota Kawasaki.

Saya pun segera ”mengepak” koper. Menyelamatkan bayi Penari Langit itu. Dan, alhamdulillah, pada 27 Desember 2011 saya diantarkan ke Ciheras, tempat yang jauh dari ”jangkauan tangan” politik perusahaan.

Dengan mengajukan proposal dana pengujian penelitian ke NEDO (Badan Energi Terbarukan Jepang), Prof Kaji dan Prof Ushiyama menyelamatkan saya dan sang Penari Langit ke Indonesia.

Pada 30 April 2012, saya bertemu ”induk semang” baru. Pesan dari Prof Kaji, yaitu Bapak Dahlan Iskan (DI), yang bermimpi mewujudkan mobil listrik anak negeri. Pada hari pertemuan itu, saya ceritakan mimpi tentang Penari Langit. Sebagai barteran ikut serta mengembangkan mobil listrik.

Saya persembahkan mesin mobil listrik pertama buatan Indonesia, 25kW Permanent Magnet BLDC Motor, yang dititipkan ke PT Pindad, yang menjadi cikal bakal mesin mobil listrik program Molina-nya ITB dan UI.

Sebagai gantinya, saya memohon kepada DI untuk membantu mewujudkan implementasi Penari Langit di timur Indonesia, Pulau Sumba, yang saat itu baru masih netek tujuh bulan di Ciheras.

Mengapa Sumba? Sebab, sampai hari ini pun, hati saya teriris perih. ”Mereka” menjual Sumba bersama LSM internasional sebagai tempat pemasaran produk kapital dunia. Dengan label Sumba Iconic Island.

Terus terang, saya tak rela dan tak berdaya menghadapi ini semua. Lebih dari lima tahun program ini berjalan. Apa yang berubah? Hanya memperkaya LSM-LSM tersebut.

Hingga awal September 2014, seratus kincir angin kecil yang kami rawat di Ciheras, para Penari Langit kecil itu, berhasil menerangi tiga desa di Sumba Timur, NTT.

Pada 5 Oktober 2014, dua minggu sebelum habisnya masa jabatan Dahlan Iskan sebagai menteri BUMN era SBY, beliau saya ajak nge-date berdua ke tiga desa itu.

Menyaksikan Penari Langit beraksi di bawah biru indah langit Sumba yang tak sekelabu langit Indonesia di tulisan beliau, Senin (18/4).

Tanggal 5 Oktober 2014 itulah kali pertama kosakata Penari Langit tertanam kukuh dalam benak seorang Dahlan Iskan. Betapa tak kuat saya menahan haru saat melihat beliau takjub di bawah bayangan tarian kolosal Penari Langit di Desa Tanarara.

Namun, masih tak sebanding dengan guncangan sesak dalam dada ketika kali pertama listrik hasil panen Penari Langit menerangi malam Desa Kalihi, Palindi, dan Tanarara.

Ini hanya segelintir cerita sang Penari Langit ini. Tak ada apa-apanya untuk negeri ini. Tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuangan setiap insan bangsa ini membangun Indonesia hingga detik ini.
Dan kami?
Tak akan berhenti di sini.
Di Ciheras.

Hari ini bukan lagi dengan segala fasilitas, teknologi, dan uang ratusan miliar.
Namun, meski hanya dengan receh dan napas tersengal-sengal, anak-anak muda ini meneruskan mimpi ini.

Melahirkan Penari Langit generasi kedua. Dengan semua teknologi Indonesia.
Kami tak akan menyerah, Abah. Percayalah.

Langit kelabu negerimu itu akan kami jadikan biru indah. Oleh liuk lenggok indah Penari-Penari Langit kecil kami.
Kelak.
Percayalah. (*)

Respon Anda?

komentar