Turis Ditodong, Asita Desak Pemko Batam Perkuat Pengamanan Objek Wisata

779
Pesona Indonesia
Mark Thang dan Samantha Moberg, sepasang WN Singapura yang menjadi korban pemerasan di Kaki Bukit Clara Batam Centre, Minggu (17/4/2016) siang, membuat laporan di Mapolsek Batam Kota. Foto: Dalil Harahap/batampos
Mark Thang dan Samantha Moberg, sepasang WN Singapura yang menjadi korban pemerasan di Kaki Bukit Clara Batam Centre, Minggu (17/4/2016) siang, membuat laporan di Mapolsek Batam Kota. Foto: Dalil Harahap/batampos

batampos.co.id – Pemalakan terhadap dua turis Singapura di siang bolong, Minggu 17/4/2016) di kaki Bukit Clara saat keduanya sedang mengambil foto dengan latarbelakang “Welcome to Batam”, membuat Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA) Kota Batam angkat bicara.

Mereka yang tergabung di ASITA meminta Pemko Batam bersama petugas kepolisian memberikan jaminan keamana  di objek-objek wisata.

“Penodongan dua turis Singapura di kaki Bukit Claras Batam Centre mencoreng Pariwisita Batam,” ujar Sekjen Asita Kepri, Febriansyah seperti dikutip koran Batam Pos (grup batampos.co.id), Rabu (20/4/2016).

Baca Juga: Dua Warga Singapura Diancam Parang di Bukit Clara, Seluruh Harta Dirampas

Menurut ASITA, kasus serupa sering terjadi, namun tidak banyak wisatawan yang menjadi korban yang mau melapor. Alasannya, tidak mau repot dalam proses penyidikan di kepolisian yang bisa menyita waktu liburan mereka.

“Kami sebagai pelaku Pariwisata, sangat berharap kejadian tidak berulang kembali,” kata Febri.

Ia mengungkapkan Batam adalah daerah kunjungan wisata para wisman. Seharusnya Pemerintah Kota Batam sudah memikirkan keamanan dan kenyamanan Batam. Sehingga dapat membuat wisman ini datang kembali, atau menyebarkan trend positif di negaranya.

“Target wisman kita tinggi loh, sekitar 1,8 juta. Kalau begini, target tersebut tak akan tercapai,” ujarnya.

Berita Terkait: Tak Ingin Repot, Dua Turis Singapura yang Diperas di Bukit Clara Batalkan Laporan

Ia mengungkapkan dirinya bersama teman-teman dari pelaku wisata, tak dapat berbuat banyak untuk pengamanan wisman. Oleh sebab itu, Pemerintah Kota Batam harusnya lebih aktif, untuk pengamanan tempat-tempat wisata.

“Jangan terulang kembali, kalau tidak nilai tawar kita di dunia pariwisata bakal rendah,” ungkapnya.

Suburnya dunia pariwisata, kata Febri, tak hanya tergantung dengan destinasi atau fasilitas yang ada saja. Tapi juga pada keamanan dan kenyamanan. Bila faktor ini disepelekan maka menjadi pintu kehancuran pariwisata.

“Masalahnya tak peduli pada keamanan, maka citra Batam yang akan dipertaruhkan,” ujarnya. (ska/bp)

Respon Anda?

komentar