2.050 Karung Bahan Dasar Peledak Ini Senilai Rp 6,6 Miliar

522
Pesona Indonesia
Kepala Kanwil DJBC dan Kapolda Kepri memberikan penjelasan tentang penangkapan bahan dasar peledak. foto:sandi/batampos
Kepala Kanwil DJBC dan Kapolda Kepri memberikan penjelasan tentang penangkapan bahan dasar peledak. foto:sandi/batampos

batampos.co.id – Kapal Patroli BC 20005 milik Kanwil Khusus DJBC Tanjungbalai Karimun yang mengikuti Operasi Gerhana di Sumatera Utara berhasil menangkap KM Harapan Kita B 29 No 769 yang membawa muatan 2.050 karung ammonium nitrat atau bahan dasar peledak bernilai Rp 6,6 miliar di perairan Berakit pada Sabtu (16/4), tanpa dilengkapi dengan dokumen impor yang resmi.

”Penangkapan ammonium nitrat sebanyak 2.50 karung atau setara 51 ton ini dilakukan sekitar 30 mil Timur Laut Perairan Berakit, Kepulauan Riau pada posisi 01-36-00 Utara/ 104-56-00 Timur. Muatan ini dibawa dari Pasir Gudang, Johor Bahru, Malaysia dengan tujuan Sulawesi. Menurut pengakuan nakhoda kapal yang sudah dijadikan tersangka biasanya ammonium nitrat ini untuk dijadikan bom ikan,” ujar kepala kanwil Khusus DJBC Tanjungbalai Karimun, Farjiya kepada Batam Pos, Rabu (20/4).

Awalnya, kata Farjiya, pada saat anggota BC melakukan pemeriksaan muatan di dalam kapal, kemasan ammonium nitrat ini tidak terlihat. Karena, kemasannya telah dipalsukan dengan kemasan lain berwarna putih dengan tulisan Mitsubishi Japan. Namun, setelah dibuka lapisan karungnya, diketahui bahwa muatannya adalah barang larangan yang harus mendapatkan izin dari Kementerian Pertahanan untuk mengimpornya.

”Kita melihat ada unsur kesengajaan untuk mengelabui petugas di lapangan dengan memberikan lapisan karung lain. Dan, hasil investigasi yang kita lakukan, jika memang untuk bom ikan, maka hanya dibutuhkan 10 sampai dengan 20 gram saja. Tapi, ini jumlahnya sangat banyak, sehingga, kita berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan juga Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) untuk melakukan penyelidikan pemilik barang,” ungkapnya.

Kapolda Kepri, Brigadir Jenderal Sam Budigusdian secara terpisah menyebutkan, bahwa dalam hal penyidikan, maka pihak BC akan melakukan penyidikan dengan aturan yang berlaku, sementara kepolisian akan melakukan penyidikan dengan menerapkan Undang-undang RI Nomor 12 Tahun 1951 tentang Darurat. ”Dampak yang ditimbulkan dari penggunaan ammonium nitrat ini jika untuk bom ikan tetap akan merusak lingkungan. Kemudian, jika sebanyak ini apakah mungkin digunakan untuk pupuk dan bom ikan saja. Makanya, akan kita terapkan undang-undang darurat,” tegasnya.

Satu hal lagi, kata Kapolda, bahwa sinergitas antara polisi dengan BC sudah lama terjalin. Untuk itu, BC dalam hal menjalankan tugasnya akan tetap mendapatkan bantuan dari kepolisian. Jika seandainya ada pihak-pihak tertentu yang melakukan penyerangan terhadap BC, maka dia akan menyikat habis pelaku penyerangan tersebut. Karena, BC merupakan lembaga negara.

Plt Gubernur Kepri, Nurdin Basirun yang ikut meninjau hasil tangkapan BC ini memberikan apresiasi kepada jajaran BC yang telah berhasil melakukan penangkapan dan penindakan kapal yang melakukan penyelundupan. ”Tugas BC dalam mengamankan perairan, khususnya Kepri memang tidak mudah. Dan, apa yang dilakukan oleh BC merupakan salah satu tugas mulia. Sehingga, dapat menjadi sebuah ibadah,” katanya.

Data yang dihimpun Batam Pos, dalam Operasi Gerhana 2016 yang dilaksanakan oleh BC, tidak saja melakukan penangkapan bahan dasar untuk membuat peledak. Tapi, juga berhasil menangkap KM Khalifah GT 50 yang membawa muatan ballpress atau pakaian bekas dari Port Klang, Malaysia dengan Tujuan Tanjungbalai Asahan, Sumatera Utara, sebanyak 948 ball dengan nilai Rp 2,8 miliar. (san/bpos)

Respon Anda?

komentar