Mengenang Sani dalam Larik Puisi

415
Pesona Indonesia
Dua Penyair, Teja Alhab dan Ucok Pelasah membawakan puisi dan musik saat Malam Apresiasi Ayah dalam Kata di Tepi Laut Tanjungpinang, Selasa (19/4). F.Yusnadi/Batam Pos
Dua Penyair, Teja Alhab dan Ucok Pelasah membawakan puisi dan musik saat Malam Apresiasi Ayah dalam Kata di Tepi Laut Tanjungpinang, Selasa (19/4). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Kepergian yang seketika selalu mengejutkan. Gubernur Kepri Muhammad Sani pun sedemikian. Pada Jumat (8/4) yang cerah itu, kabar duka itu terdengar. Sani berpulang. Masyarakat Kepri merasakan kehilangan yang sedalam-dalamnya. Betapa gubernur yang lekat dipanggil Ayah Sani itu pergi dengan meninggalkan seluruh kenangan serta kesan terdalam dalam ingatan orang-orang di sekitarnya.

Ingatan bersama tentang Ayah Sani ini kemudian dipanggungkan, Selasa (19/4) malam di pelataran Tugu Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang. Dalam tajuk ‘Ayah dalam Kata’, orang-orang yang datang diperkenankan bersuara. Di atas panggung, sosok bersahaja Sani dikenang dalam larik-larik puisi.

Bukan tanpa alasan mengenang Sani lewat puisi. Penaja acara, Ibrahim menjelaskan, sosok Sani adalah sosok teladan. Yang, kata dia, tidak suka berkata-kata dan lebih memilih menunjukkan nilai-nilai mulia dengan perbuatan nyata. “Sebab itu, kami memilih mengenangnya dalam puisi. Ayah Sani sendiri adalah puisi,” ujar Ibrahim.

Ada banyak tokoh yang semasa hidupnya kerap mendampingi Sani hadir malam kemarin. Ada Andi Anhar Chalid, staf khusus gubernur pilihan Sani. Dalam ingatan Andi Anhar, sosok Sani adalah tiada dua. “Saya belum pernah menemukan lagi orang yang ketokohannya sebanding Pak Sani. Almarhum ini luar biasa. Hangat dan bersahaja. Sekaligus punya jasa membangun Kepri yang tiada berbilang,” ungkapnya.

Pesan yang paling sulit dilupakan Andi Anhar adalah manakala Sani senantiasa mengingatkannya arti penting menjaga silaturahmi. Apa pun yang diperbuat orang, sekalipun itu buruk, Sani selalu memilih membalasnya dengan baik. Pesan ini bagi Andi Anhar jadi bukti sahih Sani adalah pribadi yang amat bersahaja. “Hingga kita semua tahu, Pak Sani selalu bercakap, kalau orang lain lempar batu, kita balas lempar pisang,” kenangnya.

Ingatan mulia tentang sosok Sani juga datang dari kata-kata Kapolres Tanjungpinang, AKBP Kristian Siagian. Ketika kabar duka itu sampai di telinganya, Kristian merasakan ada duka kehilangan sosok kepala daerah yang santun dalam kesehariannya bertugas di ibu kota Kepri. Sebab itu, Kristian ingin memberikan yang terbaik yang bisa dilakukannya.

“Pak Kapolda langsung beri intruksi ke saya untuk memberikan pengawalan terbaik ketika jenazah almarhum tiba di Tanjungpinang. Kepada jajaran Satlantas, saya juga menekankan hal yang sama. Ini adalah penghormatan terakhir yang bisa diberikan,” ucap perwira Polri berpangkat dua melati emas ini.

Puisi-puisi kemudian dibacakan dan diperdengarkan silih berganti. Ada penyair Tarmizi dari Batam, penyair Teja Alhab, dan para penyair muda Kota Tanjungpinang lainnya. Tak kelewatan pula ajudan-ajudan yang pernah berada di sisi Sani pun ikut naik ke panggung membacakan puisi. Seketika, rasa kehilangan itu semakin ada. Semakin nyata. Tak sedikit yang tak kuasa menahan sebak di dada. Linangan air mata bercampur baris-baris kata.

Ibrahim mengungkapkan, seluruh testimoni serta puisi-puisi yang dibacakan di atas panggung itu bakal dibuhul menjadi sebundel buku. “Kami akan serahkan pada keluarga. Karena Pak Sani bukan hanya ayah dan kepala rumah tangga bagi keluarganya, tapi Pak Sani sudah jadi ayah kita semua,” pungkasnya. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar