Evina Dewi, Penarik Becak Perempuan di Tanjungpinang

727
Pesona Indonesia
Evina Dewi, mengangkut muatan dengan becaknya di jalan Kemboja Tanjungpinang, Rabu (20/4). F.Yusnadi/Batam Pos
Evina Dewi, penarik becak di tanjungpinang mengangkut muatan dengan becaknya di jalan Kemboja, Rabu (20/4). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Siang itu, suasana Jalan Kemboja Tanjungpinang cukup ramai, cuaca cukup bersahabat, cerah sehabis hujan turun. Tampak seorang dengan rambut yang telah ditumbuhi uban penuh semangat dan keringat mengayuh becak bermuatan kayu cukup berat yang diletakkan dalam sebuah drum. Namun dia bukan seorang lelaki, melainkan seorang perempuan penarik becak.

“Nama saya Evina Dewi, cantikkan nama saya,” ujarnya sambil tertawa saat sedang beristirahat disamping tong sampah jalan kemboja Tanjungpinang, Rabu (20/4).

Saat ditanya mengenai Hari Kartini, Evi panggilan akrabnya mengatakan ia sangat terinspirasi oleh sosok Kartini yang menurutnya telah memberi semangat kepadanya untuk selalu berusaha dan berdoa.

“Saya tahu dengan sosok Kartini, saat masih sekolah dulu, Kartini itu Pahlawan,” kata Evi yang tinggal di Lorong Teladan Tanjungpinang ini.

Sambil membongkar muatan dibecaknya, Evi pun mulai menceritakan kisah hidupnya yang cukup keras dan sederhana. Ia mengatakan sejak tahun 2007 sudah menarik becak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sebelumnya ia hanya mengurus rumah tangga.

“Alhamdulillah dapat rezeki, saya membeli becak untuk membantu suami memenuhi kebutuhan sekolah anak,” ujar ibu empat anak tersebut.

Menurut Evi, suaminya Ali yang bekerja sebagai tukang servis kipas angin di Pekanbaru keberatan dengan keputusan Evi menarik becak, namun keinginannya untuk membantu keluarga sangat kuat.

“Daripada saya mengemis ataupun mencuri, lebih baik menarik becak, halal dan tidak menyusahkan orang lain, malu saya meminta minta” ujarnya sambil mengelap keringat di mukanya.

Evi mengaku jam kerjanya menarik becak tidak tentu, kadang ia keluar rumah pagi, kadang siang hari bahkan ia juga menarik becak pada malam hari.

“Tidak menentu, tergantung panggilan untuk mengangkut muatan,” ungkapnya.

Menurutnya, selama sehari penuh ia kadang harus mengayuh becak lebih kurang sejauh 15 kilometer bolak balik. Evi pun tidak menentukan tarif angkut kepada pelanggannya. Ia pun selalu mengucap syukur, berapapun yang diterimanya

“Alhamdulillah rezeki sudah diatur Allah, jadi saya tidak pernah menentukan tarif, seikhlasnya saja,” katanya.

Evi mengatakan ia tidak pernah mengeluh dengan kehidupannya sebagai penarik becak. Menurutnya pekerjaannya sekarang adalah pekerjaan terbaik untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya.

“Selagi masih sehat, tiap hari harus semangat menarik becak, semuanya ini untuk anak,” ujarnya.

Tidak lupa Evi menanamkan sikap dan perjuangan Kartini kepada dua anak perempuannya yang kini masih duduk di bangku SMA untuk terus selalu belajar dan tidak ingin anak-anaknya menjadi seperti dirinya.

“Saya selalu memberikan semangat kepada anak-anak untuk selalu belajar agar menjadi orang pintar dan baik,” ungkap Evi.

Ibu dari Rahma, Rahmi, Al Vindo dan Al Khadafi ini mempunyai harapan dan cita-cita untuk dapat menyekolahkan ke empat anaknya hingga perguruan tinggi.

“Insya Allah dengan menarik becak ini, saya dapat menyekolahkan anak-anak hingga jadi orang pintar dan tidak menyusahkan orang lain,” harapnya.(odi/bpos)

Respon Anda?

komentar