Rahma-Rahmi Butuh Biaya Besar, Yuk Bantu!

666
Pesona Indonesia
Orang tua bayi kembar siam, Warmin Bahrudin melihat kondisi anaknya Rahma-Rahmi di ruang perawatan khusus Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, Lubukbaja, Rabu (20/4/2016). Kondisi bayi kembar siam normal dan mengalami peningkatan setiap harinya. Foto: Rezza Herdiyanto/ Batam Pos
Orang tua bayi kembar siam, Warmin Bahrudin melihat kondisi anaknya Rahma-Rahmi di ruang perawatan khusus Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) Batam, Lubukbaja, Rabu (20/4/2016). Kondisi bayi kembar siam normal dan mengalami peningkatan setiap harinya. Foto: Rezza Herdiyanto/ Batam Pos

batampos.co.id – Setelah memeriksa kondisi kesehatan bayi kembar siam Rahma-Rahmi, Tim Kembar Siam (TKS) dari RSUD Dr Soetomo Surabaya yang akan mengoperasi Rahma-Rahmi, langsung menggelar rapat bersama Tim Kembar Siam dari Kepulauan Riau.

Mereka membahas hasil pemeriksaan sekaligus kesiapan tim melakukan operasi. Persiapan itu meliputi, persiapan pasien dan keluarga, persiapan alat, dan persiapan obat-obatan.

Wakil Ketua TKS RSUD Dr Soetomo dr Poerwadi menyatakan, butuh partisipasi segala pihak untuk membantu terwujudnya operasi yang pertama kalinya ini di wilayah Kepulauan Riau, khususnya Batam. Ini bukan soal kemanusiaan biasa. Ada rasa nasionalisme yang harusnya terbangun dari operasi ini.

“Ini Batam, daerah yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Kita harus tunjukkan kalau Batam bisa. Makanya, kami merasa perlu datang ke sini,” tutur pria yang memiliki spesialisasi keahlian bedah anak itu lagi.

Selain soal nasionalisme tersebut, dokter juga merasa tidak manusiawi jika bayi tersebut yang harus diterbangkan ke Jakarta atau Surabaya. Alasan pertama, kedua bayi masih dalam fase neonatus. Dan kedua, permasalahan finansial.

Memang, biaya operasi tetap akan gratis. Tapi biaya di luar biaya operasi akan sangat besar. Jumlahnya, “bisa lima kali lipat lebih besar daripada ketika operasi itu dilakukan di sini,” kata dr Poerwadi lagi.

Orangtua Rahma-Rahmi bukan termasuk orang berada. Kondisi ekonomi mereka bisa dibilang belum stabil. Warmin Bahrudin, sang ibu, seorang buruh pabrik garmen dengan gaji UMK.

Sementara Junaidi Bakri Ratu Loli, sang ayah, buruh bangunan yang baru bekerja ketika proyek memanggil. Saat ini, tidak ada proyek yang mempekerjakannya. Pemenuhan biaya kehidupan murni bergantung pada gaji Warmin.

Inilah yang membuat dr Poerwadi meminta dukungan banyak pihak. Terutama, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Selanjutnya, Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Pemerintah, juga masyarakat.

Ia berharap BPJS Kesehatan mampu menjamin keseluruhan biaya perawatan, operasi, serta pasca operasi bayi kembar siam tersebut. Sebab, tidak bisa dipastikan, kedua bayi bisa dibawa pulang ketika operasi selesai dilakukan.

Bahkan, sebelum operasi dilakukan, bayi tersebut tidak bisa dibawa pulang. Mereka harus dirawat di rumah sakit untuk memantau kondisi kelainan jantungnya.

“Bayi kembar ini menjadi tanggung jawab BPJS Kesehatan. Karena sesuai amanat Undang-Undang, semua warga negara ditanggung kesehatannya oleh BPJS,” kata dr Poerwadi.

BPJS Kesehatan Kantor Cabang Utama Batam, yang diwakili Kepala Unit Hukum Komunikasi Publik dan Kepatuhan Irfan Rachmadi, menyanggupi permintaan dr Poerwadi tersebut. Asal, biaya tersebut sesuai dengan diagnosa. Serta, tidak ada kenaikan kelas. Saat ini, kedua bayi dijamin dengan fasilitas BPJS Kesehatan kelas II.

“Tidak ada batasan biaya dan hari rawat karena sudah ditentukan dalam INA-CBGs berdasarkan diagnosanya. Semakin berat diagnosanya, semakin bertambah juga biaya yang akan ditanggung,” kata Irfan usai rapat bersama.

Perawatan berdasarkan kelas itu hanya akan berlangsung, katanya, selama perawatan persalinan ini. Ketika operasi pemisahan nanti, paket biaya INA-CBGs-nya yang dikenakan akan berbeda. Begitu juga ketika resiko kelainan jantung si bayi terjadi.

“Masalah jantung itu nanti termasuk emergency dan akan langsung masuk ICU. ICU itu tidak mengenal kelas,” tuturnya lagi.

Namun Irfan tidak dapat memastikan tidak ada biaya tambahan yang dikenakan ke pasien. Sebab, ini sangat bergantung pada tindakan medis di lapangan. Ia baru menjamin tidak akan biaya tambahan jika operasi dilakukan di luar Batam.

“Makanya kenapa kami menyarankan untuk dirujuk ke Rumah Sakit Harapan Kita karena di sana sudah pernah melakukan dan terbukti tidak ada biaya tambahan,” katanya lagi.

Selain itu, menurutnya, peralatan di RS Harapan Kita lebih lengkap. Tenaga ahli atau spesialis juga lebih banyak di sana. Dua hal tersebut akan membuat penanganan lebih komprehensif.

Irfan menilai, RSAB belum mampu untuk operasi ini. Sebab, belum ada dokter di RSAB yang memiliki kompetensi tersebut. Selain itu, RSAB juga belum pernah melakukan operasi semacam ini.

“Sebenarnya, kita lihat juga dari segi hukum apakah sudah legal apa belum. Tapi kalau dari pemerintah sudah oke ya oke. Kalau BPJS kan melihatnya dari segi fasilitas dan kompetensinya,” tuturnya lagi.

Meskipun masih belum ada kepastian adanya biaya tambahan, tim terpadu bayi kembar siam berniat menggalang dana. Melalui CSR Batam Pos, tim akan membuka Dompet Tali Asih untuk operasi bayi kembar ini.

Usep RS, Penanggung-jawab Pos Penggalangan Dana ini memastikan akan ada sumbangan dana untuk membantu biaya pengobatan kedua bayi kembar ini.

Sebenarnya, tanpa BPJS Kesehatan, biaya sewa ruang perawatan dan ruang operasi rumah sakit dapat digratiskan dari Persi. Begitu pula dari tim dokter.

TKS RSUD Dr Soetomo menyatakan, mereka tidak akan membebankan biaya sepeser pun pada pasien. Beban biaya yang harus dipikirkan adalah obat-obatan dan peralatan habis pakai karena itu dibeli dengan uang.

“Makanya, saya bilang semuanya harus bersatu padu. Termasuk masyarakat,” kata dr Poerwadi lagi. (sumber: Weni CP/koran Batam Pos)

Respon Anda?

komentar