Permudah Transaksi E-Commerce, BCA Luncurkan Aplikasi ‘Sakuku’

939
Pesona Indonesia
(foto: infobanknews)
(foto: infobanknews)

batampos.co.id – Seiring dengan semakin menjamurnya perusahaan rintisan (start-up), PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memanfaatkan hal tersebut dengan menawarkan layanan pembayaran online.

Bank swasta terbesar itu merilis BCASakuku yang menjadi e-Wallet atau e-Money untuk melayani jual-beli nontunai.

Senior Manager Pengembangan Produk Internet dan Mobile Banking BBCA Fera Agustina menyatakan, pengguna Sakuku kini mencapai 68 ribu. Untuk menggenjot pengguna, BCA kemarin menggandeng media sosial Kaskus yang memiliki lounge jual-beli.

Fera berharap ada peningkatan signifikan pengguna Sakuku setelah bekerja sama dengan situs yang memiliki 8,5 juta member tersebut.

“Kaskus kita kategorikan merchant online. Kita juga kerja sama dengan pihak lain seperti blibli.com, bhinneka.com, dan lainnya. Semua bisa pakai Sakuku,” katanya.

Di luar e-commerce, Sakuku juga sudah bisa digunakan untuk bertransaksi di beberapa toko offline. Sudah ada sekitar 100 merchant terdiri atas 500 outlet yang bisa menerima pembayaran melalui produk BBCA itu. “Sakuku juga bisa dimiliki tanpa harus menjadi nasabah BCA,” jelasnya.

Pada tahap awal, tutur Fera, pihaknya berharap Sakuku memberikan kemudahan transaksi nontunai sekaligus menjalankan keinginan regulator dalam rangka peningkatan inklusi keuangan. Karena itu, layanan transaksi kecil pun dilayani dengan batasan minimal pembelian Rp 10 ribu dan bisa transfer dengan nilai minimal Rp 5 ribu.

“Fokusnya memang bukan kepada mengejar tambahan fee based income, tetapi lebih kepada layanan saja di tahap awal ini,” paparnya.

Chief Marketing Officer Kaskus Ronny W. Sugiadha mengatakan, mayoritas transaksi jual-beli yang terjadi di Kaskus kini penyelesaian transaksinya masih cash on delivery yang berisiko. Karena itu, Kaskus mendorong member-nya untuk mengurangi metode tersebut.

“Lebih baik cashless, ditampung dulu di brankas Kaskus sampai benar-benar transaksinya sudah terjadi dan barangnya sesuai,” katanya.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pergeseran perilaku konsumen keuangan menuju layanan digital memang semakin pesat. Penelitian McKinsey & Company menyebutkan, 40 persen nasabah segmen mass affluent di Asia memilih layanan perbankan mobile.

Separonya berusia di bawah 40 tahun. Total nasabah perbankan digital di Asia mencapai 670 juta dan diprediksi tumbuh menjadi 1,7 miliar pada 2020.

Hasil penelitian Bank Dunia pada 2014 memperlihatkan bahwa Financial Inclusion Index Indonesia baru mencapai 36 persen. Artinya, baru 36 persen penduduk dewasa di negara ini yang memiliki rekening di lembaga keuangan formal. (ps)

Respon Anda?

komentar