Jadi Korban Trafficking, Lepas dari Lokalisasi, Masuk Pelukan Buaya Darat

1103
Pesona Indonesia
Korban trafiking (tengah) saat di kantor polisi. foto:eggi idriansyah
Korban trafiking (tengah) saat di kantor polisi. foto:eggi idriansyah

batampos.co.id – Kasus human trafficking atau perdagangan manusia kembali terjadi di Batam. Kali ini menimpa salah seorang gadis yang berasal dari Muara Dua, Oku Selatan, Palembang.

Umurnya baru 19 tahun. Kulit yang putih dengan paras wajah yang manis. Sesekali menampakkan keluguannya dan kepolosannya yang membuat orang di sekitarnya menjadi tertawa dan tersenyum.

Sebut saja namanya Mawar. Saat ditemui gadis yang memakai baju kaos berwarna merah dan rambut panjang ini awalnya masih tampak trauma dan takut untuk menceritakan kisah pilu yang ia alami dalam beberapa bulan terakhir.

Kemudian, setelah dibawa bercanda dan beberapa orang meyakinkannya bahwa saat ini ia sudah aman, barulah kata demi kata keluar dari mulutnya yang mungil.

Mawar mengaku awalnya ia dijanjikan pekerjaan oleh tetangganya di kampung bernama Ririn. Dalam pengakuannya, Ririn menjanjikan pekerjaan kepadanya di salah satu rumah makan yang terletak di Lampung, dengan upah Rp 100.000 perharinya.

Setelah mendapat tawaran pekerjaan dari Ririn, hati Mawar gembira bukan kepalang. Ia siap banting tulang demi membiayai sekolah adiknya agar tidak bernasib sama dengannya dan bisa membantu perekonomian keluarganya.

“Saya SMA tidak tamat, sekolah hanya sampai kelas dua SMA aja,” ungkapnya saat ditemui di Setral Pengaduan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapolresta Barelang, Rabu (20/4) sore.

Mawarpun tak menunggu waktu lama dan langsung mengabari orang tuanya di rumah terkait pekerjaan itu. Lantas ia meminta restu kepada orang tuanya agar bisa pergi ke Lampung untuk bekerja.

Karena yang menawarkan pekerjaan itu adalah tetangganya sendiri, Mawar dan orang tuanya pun tidak menaruh curiga sedikit pun kepada Ririn.

Akhirnya, tepat pada tanggal 5 Februari 2016 Mawar berangkat meninggalkan rumahnya dengan harapan yang telah memuncak dan semangat yang telah menggebu-gebu.

Dalam perjalanan pertamanya, ia berangkat dari kampung halamannya menuju Palembang dengan menggunakan taksi bersama Ririn.

Di sela-sela pembicaraannya dengan supir taksi, tanpa sepengetahuan Ririn, rupanya Mawar telah diperingatkan oleh supir taksi untuk hati-hati dalam menerima pekerjaan. Namun, Mawar mengacuhkannya dan lebih mempercayai Ririn.

“Dia udah bilang untuk nyuruh aku pulang. Nanti kamu dijual orang,” ungkap Mawar sembari menirukan perkataan ucapan supir taksi itu.

Sesampainya mereka di Palembang, Ririn bukannya mengajak Mawar menaiki bus dengan tujuan Lampung, ia justru dibawa oleh Ririn menuju Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

“Saya tanya, kenapa gak menaiki bus menuju lampung. Lalu dia meminta saya untuk diam saja dan mengikutinya,” terangnya.

Rasa penasaran Mawar mulai dari bandara hingga dalam pesawat makin bertambah. Di dalam hati ia sebenarnya ingin sekali bertanya kepada Ririn kemana tujuan mereka. Tapi karena perasaan takut ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.

Setelah mendarat di Bandara Hand Nadim Batam, akhirnya Mawar tahu saat itu ia sedang berada di Batam setelah membaca tulisan-tulisan yang terpampang di sepanjang jalan. Ia dibawa ke Tanjunguncang, ke tempat seorang wanita bernama Dewi.

Setelah sampai di tempat Dewi yang terletak di Simpang Hyundai Tanjunguncang, Mawar langsung di suruh berkenalan dengan semua orang yang ada di cafe remang-remang itu.

Dewi adalah kakak dari Ririn. Selain adik dari Dewi, Ririn juga merupakan salah satu Pekerja Seks Komersial (PSK) di tempat kakaknya. Mawar baru mengetahui hal ini setelah beberapa lama ia terpasung di dunia malam itu.

Setelah melakukan perkenalan dengan semua orang yang berada di cafe itu. Di hari keduanya Mawar langsung dipaksa memakai pakaian yang serba terbuka demi menarik perhatian para lelaki hidung belang.

Mawar kemudian dipaksa oleh Dewi yang juga merupakan maminya untuk melayani hasrat laki-laki hidung belang. Jika menolak melayani laki-laki, siksaan dari mami telah menanti Mawar.

Mawar pun akhirnya hanya bisa pasrah menjalani kehidupan barunya. Mempunyai wajah yang ayu dan tubuh yang langsing, tentu saja membuat Mawar menjadi incaran utama setiap tamu yang datang.

Karena Mawar selalu menerima tamu, tentu saja hal ini menjadi kecemburuan dari teman-teman seprofesinya. Mawar mengaku selalu diancam bahkan hingga dicekik oleh teman-temannya yang lain.

“Mereka pernah nyekik aku, dan bilang jangan ambil tamu orang lain,” cerita Mawar dengan polosnya.

Hari demi hari harus dilewati Mawar dengan perasaan sedih yang cukup mendalam dan terpaksa. Hingga suatu hari Mawar pun mencoba kabur di saat yang lainnya tertidur pulas.

“Aku kaburnya jam 7 pagi, saat itu semuanya sedang tidur,” lanjutnya.

Dalam pelariannya, Mawar tidak tahu kemana arah dan tujuan dari pelariannya. Setelah berlari dan berjalan akhirnya Mawar berjumpa dengan Ardian. Seketika itu juga Mawar langsung sedikit menceritakan apa yang dialaminya dan meminta tolong kepada Ardian.

Ardian akhirnya setuju untuk menolong Mawar dan membawa Mawar ke rumahnya untuk bersembunyi sementara waktu. Setelah melewati beberapa waktu dalam persembunyiannya, akhirnya Dewi pun mengetahui persembunyian Mawar.

Seketika itu juga Dewi langsung menemui Ardian untuk mengembalikan Mawar. Namun Ardian tidak begitu saja menyerahkan Mawar kepada Dewi.

Namun Dewi tetap bersikukuh untuk tetap ingin membawa Mawar kembali. Setelah melewati perdebatan yang cukup alot, akhirnya Ardian bisa membawa Mawar dengan syarat membayar uang sebesar Rp 4 juta sebagai pembayaran utang Mawar kepada Dewi selama ini.

“Dia mintanya empat juta sebagai pembayaran utang aku dari tiket keberangkatan ke Batam. Padahal setahu aku biaya tiket itu cuma sejutaan,” cetusnya.

Adrian pun akhirnya setuju untuk membayar seluruh uang tersebut. Namun, lagi-lagi kisah pilu dalam kehidupan Mawar semakin besar. Ardian tidak hanya memberikan uang itu karena berniat ingin menolong. Sebagai gantinya, Ardian meminta kepada Mawar harus mau menjadi istrinya.

Dengan perasaan terpaksa dan merasa hutang budi kepada Ardian, akhirnya Mawar tidak mempunyai pilihan lain, selain menuruti kemauan Ardian.

Beberapa waktu Mawar harus melewati kehidupannya yang semakin tertekan karena tinggal bersama orang yang tidak dicintainya sama sekali.

Akhirnya, Mawar mendapatkan kesempatan untuk kabur dari rumah itu. Pada saat itu, Aridan sedang bermain futsal bersama teman-temannya. Karena rumah yang saat itu kebetulan kosong, Mawar tidak menyiakan kesempatan untuk kabur.

Dalam pelariannya, Mawar kembali merasa kebingungan, ia tidak tau mau dibawa kemana tubuhnya yang mungil itu.

Mawar kembali menemukan seseorang yang diharapkannya menjadi sesosok malaikat penolongnya bernama John. Bersama John, Mawar kembali menceritakan sedikit kisah pilunya.

Hingga akhirnya Mawar meminta tolong kepada John untuk memberinya uang Rp 1 juta demi biaya pulang kampung.

Karena saat itu John tidak mempunyai uang, akhirnya John membawa Mawar ke rumahnya di salah satu perumnas yang terletak di Batuaji sembari menunggu biaya untuk kepulangan Mawar ke kampung halamannya.

Kisah hidup Mawar bersama John tidak jauh berbeda dengan hidup yang dijalani Mawar sebelumnya. Di dalam rumah John, Mawar juga harus melayani John layaknya suami istri.

Namun setelah menunggu hampir sebulan, kebosanan Mawar memuncak, hingga akhirnya ia kembali kabur dari rumah John.

Dalam pelariannya, Mawar langsung menemui Ketua RT perumahan itu. Kepada sang ketua RT, Mawar menceritakan semua yang dia alami di Batam dan berharap mendapat surat keterangan domisili karena identitasnya di tahan oleh Dewi.

Hingga akhirnya Mawar ditanyai oleh Ketua RT tempat asalnya dengan tujuan agar Mawar dapat segera di pulangkan ke kampung halamannya melalui paguyuban daerah asalnya di Palembang.

“Pak RT ini yang mengantarkan saya ke paguyuban, sampai saat ini saya datang ke kantor polisi,” terang Mawar.

Di kantor polisi Mawar mengaku masih dirundung ketakutan akan keselamatan keluarganya di kampung. Sebab, Dewi pernah mengancam Mawar apabila dirinya melaporkan kejadian ini kepada polisi.

“Saya takut keselamatan keluarga saya. Saya pernah diancam jika lapor polisi, keluarga saya di kampung akan dibunuhnya,” terangnya lagi.

Saat ini tidak banyak keinginan yang ada di benak Mawar. Ia hanya ingin segera pulang untuk bertemu dengan keluarganya dan berkumpul lagi seperti sedia kala dengan keluarganya.(eggi/bpos)

Respon Anda?

komentar