Perjalanan Bisnis Samadikun Hartono, Perampok Dana BLBI

2485
Pesona Indonesia
Buron kasus Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono (tengah) tiba di Bandara Halim Perdanakusums, Jakarta, Kamis malam (21/4/2016). FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS
Buron kasus Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono (tengah) tiba di Bandara Halim Perdanakusums, Jakarta, Kamis malam (21/4/2016). FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

batampos.co.id – Samadikun Hartono, buron dana bantuan likuiditas bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp 169 miliar, barhasil ditangkap dan dipulangkan ke Indonesia. Seperti apa kiprah Samadikun sebelumnya?

Ya, meninggalkan Indonesia sejak 13 tahun lalu, tak membuat kerajaan bisnis grup Modern runtuh. Kerajaan bisnis itu  tetap megah, meski Samadikun tak lagi dalam lingkaran kerajaan bisnis itu.

Perusahaan yang dibangun buron BLBI selama 13 tahun itu kini seolah menjadi perusahaan yang lahir kembali dan dikelola oleh para pewaris dari saudara kandung mantan Komisaris Utama PT Bank Modern itu.

Kelahiran bisnis grup Modern sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari kiprah Samadikun. Pria kelahiran Bone, 4 Januari 1948, itu membantu ayahnya, Ho Tjek (Otje Honoris) dalam merintis usaha terutama saat hijrah ke Jakarta.

Saat itu, tahun 1971, sang ayah yang sebelumnya merintis usaha di Makassar bersama putra ketiganya itu bersama-sama mendirikan PT Modern Photo Film (MPF) karena berhasil mendapatkan hak sebagai agen resmi produk Fuji Photo Film dari prinsipalnya di Jepang.

Dari situ lah bisnis level nasionalnya mulai bergulir. Pada 1982 Otje meninggal dunia dan Samadikun mengambil alih nahkoda perusahaan.

Tentu saja melibatkan tiga saudara kandungnya, Luntungan Honoris, Sungkono Honoris, dan Siwi Honoris. PT Inti Putra Modern dibentuk menjadi perusahaan induk.

Pada 1989 Samadikun memutuskan masuk bisnis perbankan dengan mendirikan PT Bank Modern.

Perusahaan bidang keuangan itu lah yang kemudian menjeratnya kepada kasus BLBI pada 1998 dan divonis penjara 4 tahun karena merugikan negara Rp 169 miliar.

Setelah itu, grup Modern kalang kabut sejalan dengan krisis moneter yang melanda. Di awal tahun 2000an bisnis grup Modern nyaris tidak ada. Terlebih mulai masuk bisnis digital, penjualan Fuji film kian termegap-megap.

Catatan Bareksa, setelah krisis 1997-1998, dua perusahaan terbuka milik Modern yaitu PT Modern Photo Film (sekarang PT Modern Internasional Tbk (MDRN)) dan PT Modernland Realty Tbk (MDLN) terlilit utang dalam jumlah besar.

Pada tahun 1997 rasio utang terhadap modal (debt to equity ratio, DER) MDRN melonjak menjadi 262 persen dari sebelumnya hanya 66 persen. Total utang membengkak sekitar kali empat menjadi Rp 710 miliar dari sebelumnya hanya Rp 205 miliar.

Puncaknya, pada 2004, utang mencapai Rp 829 miliar sebaliknya nilai ekuitas menciut menjadi Rp 162 miliar dari sebelumnya sekitar Rp 310 miliar.

Generasi ketiga, digawangi putra dari Luntungan Honoris dan Sungkono Honoris mulai bergerak. Terutama Henri Honoris, putra dari Luntungan yang berjuang mendapatkan merek dagang convenience store, 7-Eleven di bawah bendera MDRN.

Di bidang property, William Honoris ikut berjuang. Meski, di MDRN, para pemilik saham harus rela melepas sebagian saham kepada Asialink

Electronics yang sempat menjadi pemilik mayoritas di MDRN sebesar 53,1 persen sedangkan PT Inti Putra Modern menyisakan kepemilikan 17,2 persen.

Hal tersebut dilakukan untuk menambah modal dan memerbaiki kinerja. Generasi Honoris itu lah yang namanya kini terpajang di grup Modern.

Adapun penerus Samadikun Hartono tidak lagi tercantum. James Hartono, putra Samadikun, justru memilih bisnis otomotif mendirikan PT Foton Mobilindo yang berfokus pada kendaraan niaga.

Politikus PDIP, Charles Honoris, putra dari Luntungan Honoris juga menegaskan bahwa pihaknya sudah tidak ada sangkut paut lagi dengan Samadikun terutama terkait dana BLBI.

”Charles Honoris bukan anak dari Samadikun Hartono. Charles Honoris adalah putra dari Luntungan Honoris,” kata Ketua Tim Pemenangan Charles, Rhugby Adeana S, dalam keterangan resmi setelah Charles dipastikan lolos menjadi anggota DPR RI pada 2014.

Charles menurutnya tidak memiliki keterkaitan atau keterlibatan apapun baik secara hukum maupun secara personal dengan kasus BLBI.

Di susunan komisaris MDLN, Luntungan Honoris menjadi Komisaris Utama dan William Honoris menjadi Direktur Utama.

Di susunan pengurus MDRN, Sungkono Honoris menjadi Direktur Utama bersama Henri Honoris sebagai Direktur Penjualan dan Pemasaran. Komisaris Utama (independen) dipercayakan kepada Achmad Fauzi Hasan.(gen/jpgrup)

Respon Anda?

komentar