Samadikun Hartono Dipulangkan, Rp 169 Miliar Aset BLBI yang Dirampok Belum Jelas

443
Pesona Indonesia
Kepala BIN Sutiyoso (kiri) saat menyerahkan buron kasus Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono (tengah) ke Jaksa Agung HM Prasetyo (kanan) tiba di Bandara Halim Perdanakusums, Jakarta, Kamis (21/4/2016). FOTO: MIFTAHULHAYAT/JAWA
Kepala BIN Sutiyoso (kiri) saat menyerahkan buron kasus Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Samadikun Hartono (tengah) ke Jaksa Agung HM Prasetyo (kanan) tiba di Bandara Halim Perdanakusums, Jakarta, Kamis (21/4/2016). FOTO: MIFTAHULHAYAT/JAWA

batampos.co.id – Upaya Kejagung dan BIN mengejar para koruptor dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) memang membuahkan hasil. Samadikun Hartono, salah satu buron kasus BLBI berhasil ditangkap di Shanghai Cina setelah buron 13 tahun.

Samadikun bahkan berhasil dibawa pulang ke Tanah air, Kamis malam (21/4/2016), setelah diterbangkan dari Cina ke Jakarta. Namun, masih ada masalah yang tersisa, yakni aset hasil korupsi BLBI senilai Rp 169 miliar yang belum jelas keberadaannya.

Ironisnya, Samadikun juga sudah tidak tercatat lagi sebagai pemilik sejumlah perusahaan.

Baca Juga: Perjalanan Bisnis Samadikun Hartono, Perampok Dana BLBI

Ditemui di Bandara Halim perdana Kusuma,  Jaksa Agung H M. Prasetyo menuturkan, saat ini Kejagung masih fokus ke eksekusi pidana badannya.

Namun, pengembalian uang negara itu juga tetap dilakukan dengan melakukan tracking aset. Kemana saja larinya aset Samadikun Hartono akan dikejar.

“Kami periksa dulu, ditanya hartanya apa saja dan dimana. Dari data yang ada dipelajari dimana hartanya,” paparnya.

Namun, dipastikan Samadikun sudah tidak tercatat lagi di perusahaan yang ada di Indonesia. Karena itu, ada kemungkinan hartanya dipindahkan keluar negeri.

“Kalau seperti itu, saya tetap yakin bisa mengambil dan menyita asetnya,” tegasnya.

Dia menegaskan akan meminta bantuan kementerian luar negeri dan bahkan pemerintah asing bila memang harta tidak di Indonesia.

“Ya, apapun akan dilakukan agar uang negara bisa kembali,” papar mantan Jampidum tersebut.

Baca Juga: 10 Data dan Fakta Samadikun Hartono (Ho Sioe Koen), Penilep Dana BLBI

Apakah nilai penyitaan akan tetap Rp 169 miliar, walau nilainya sudah berbeda? Dia menerangkan bahwa memang kasus ini terjadi sejak 2003, yang dapat diartikan nilai uangnya juga sudah berubah.

Tapi, vonis pengadilan tidak berubah, nilai yang diminta diganti tetap Rp 169 miliar.

“Saya tahu ini masalah, tapi saya hanya bisa menjalankan putusan pengadilan,” terangnya. (idr/gen/bay/sam/jpnn)

Respon Anda?

komentar