Sekolah Tertua di Kepri Kekurangan Ruang Kelas, Bupati Geleng-Geleng Kepala

820
Pesona Indonesia
Bupati Lingga Alias Wello mendatangi ruang kantin yang dijadikan kelas menampung siswa SD 01 Lingga. foto: hasbi/batampos
Bupati Lingga Alias Wello mendatangi ruang kantin yang dijadikan kelas menampung siswa SD 01 Lingga. foto: hasbi/batampos

batampos.co.id – Miris, begitulah ekspresi Alias Wello Bupati Lingga melihat kondisi sekolah tertua Kepri, di Jalan Encik Kasim, Kampung Siak, Daik Lingga. Sekolah peninggalan Sultan Lingga, yang dulunya merupakan sekolah Arab kini bernama SDN 01 Lingga tersebut, berada di pusat ibukota pemerintahan, namun masih menghadapi persoalan klasik yakni kekurangan ruang belajar.

Alias Wello yang akrab disapa Awe ini pun geleng-geleng kepala melihat kenyataan yang ada. Sekolah yang hanya berjarak tiga kilometer dari kantor nyamannya masih kekurangan ruang kelas. Murid-murid harus berbagi waktu, jadwal belajarpun terpaksa disusun ulang. Sesuai kondisi ruang kelas yang tersedia.

“Di sekolah ini, hanya punya 5 ruang belajar dan satu ruang digunakan majelis guru Pak. Siswanya 200, dan dibagi menjadi 9 ruang belajar. Jadi ada yang masuk siang. Kita juga gunakan bangunan kantin, untuk siswa-siswi belajar,” ungkap salah seorang guru kepada Awe saat meninjau sekolah tertua di Kepri yang dibangun sejak zaman Sultan Sulaiman Badrullalamsyah II, 1857 M itu, Rabu (20/4) lalu.

Satu demi satu ruang kelas disusur Awe. Ruang belajar, majelis guru hingga perumahan guru yang terletak di belakang sekolah. Kondisi rumah guru jauh lebih parah. Kaca-kaca ram jendela lusuh. Atap seng berkarat seperti tak pernah mendapat perawatan. Kondisi majelis guru penuh sesak.

“Sekolah kita ini tertua di Kabupaten Lingga, juga di Kepri. Termasuk warisan sejarah Kesultanan Lingga-Riau. Sementara kondisinya tak pernah mendapat pemeliharaan seperti ini. Ruang majelis gurunya saja sesak,” ungkap Awe.

Tahun depan, ia pastikan sekolah sekaligus benda cagar budaya (BCB) ini akan dibenahi. Seperti penambahan ruang kelas yang tentunya di luar zonasi inti BCB. Tanpa merubah bentuk, maupun mengalihkan pemanfaatannya. Namun, ditambah ruang diwilayah zona pengembangan dan perlu campur tangan BP3 Batu Sangkar.

“Ini luar biasa. Di tengah kota masih ada sekolah yang dibiarkan seperti ini. Tahun depan kita pastikan ada penambahan bangunan ruang kelas lagi. Kita juga minta di dampingi BP3 Batu Sangkar,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, orang nomor satu ini juga sempatkan meninjau ruang kelas 3B. Salah satu ruang belajar siswa/siswi dengan jendela tanpa kaca yang ditempatkan disebuah kantin kecil berdinding papan dan dicat berwarna kuning. Luasnya hanya 6×6 meter dengan 20 siswa. Meski sangat memprihatinkan, Awe sedikit bangga dengan semangat dan minat anak mengikuti pelajaran. Ia juga sempat ngobrol dan memberi motivasi kepada siswa/siswi.

“Sekolah tua ini telah banyak melahirkan para putra putri terbaik Lingga. Jangan sampai kondisi ini menghilangan energi positif pendidikan. Teruslah belajar,” tutup Awe. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar