Pariwisata Bintan Bisa Kalahkan Bali

1957
Pesona Indonesia
Komisi X DPR RI saat meninjau objek wisata di Bintan, Jumat (22/4/2016). Foto: Fatih Muftih/batampos
Komisi X DPR RI saat meninjau objek wisata di Bintan, Jumat (22/4/2016). Foto: Fatih Muftih/batampos

batampos.co.id – Potensi besar pariwisata Kabupaten Bintan sebagai pendulang devisa negara diharapkan mampu berkembang seiring berjalannya waktu.

Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI melihat keniscayaan itu begitu nyata. Sehingga, Bintan dicita-citakan ke depan bisa menjadi destinasi wisata utama Indonesia yang kemasyhurannya dapat mengalahkan Bali.

“Kami siap mendorong Bintan jadi Bali kedua. Jadi, ketika turis menyebut Indonesia tidak hanya ingat Bali, tapi juga harus ingat Bintan,” kata Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Sutan Adil Hendra, ketika berkunjung ke Bintan, Jumat (22/4/2016).

Keyakinan Sutan bukan tanpa alasan. Bersama 16 anggota rombongan dari Jakarta, ia diajak mengunjungi ke sejumlah destinasi wisata yang ada di Bintan. Dari pesisir Pantai Trikora hingga kawasan wisata terpadu Lagoi. “Saya boleh katakan ini luar biasa,” ungkap Sutan, selaku ketua rombongan.

Menurut Sutan, ada beberapa perbaikan yang mesti digesa dalam waktu dekat. Satu hal yang paling utama berkenaan infrastruktur di sektor aksesibilitas. Ia menuturkan, terbatasnya akses transportasi ini mesti menjadi pemikiran bersama dan tidak cuma hanya di ranah pemerintah daerah.

“Komisi X DPR RI siap mendorong itu. Makanya, kami melakukan kunjungan spesifik ke sini untuk mendengar langsung masukan maupun kendala yang selama ini ada,” ungkapnya.

Karena nantinya, setelah masukan itu disampaikan, Komisi X DPR RI, kata Sutan, bakal menggelar rapat kerja bersama Kementerian Pariwisata RI. Dengan harapan, kendala-kendala yang ada selama ini bisa segera dicari jalan keluarnya dan semakin mendekatkan Bintan sebagai destinasi wisata dunia.

“Semuanya sudah ada di Bintan. Tiga faktor utama seperti destinasi, infrastruktur, industri pariwisata, sudah jalan. Hanya di infrastruktur akses transportasinya saja yang mesti kembali dipikirkan. Agar lebih banyak lagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke sini,” kata Sutan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bintan, Luki Zaiman Prawira yang turut mendampingi selama kunjungan ke sejumlah lokasi wisata di Bintan, menyambut baik niatan Komisi X DPR RI.

Luki berkeyakinan, bahwasanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bintan bisa melonjak lebih tinggi asal aksesibilitasnya terlebih dahulu memadai dan nirbatas.

“Karena selama ini pintu masuk utama ke Bintan hanya mengandalkan Pelabuhan Bandar Bentan Telani (BBT) Lagoi saja,” ucap Luki, kemarin.

Sementara sebagian kecil lainnya masih ada wisman yang masuk dari Tanjunguban maupun Tanjungpinang. Bila masuk dari Tanjunguban tentu masih memberikan keuntungan. Pasalnya, catatan kunjungan wisman itu dihitung berdasarkan pintu masuknya.

“Kalau masuk via Tanjungpinang ya dihitung wisman itu tidak masuk hitungan berkunjung ke Bintan,” terangnya.

Hingga kini, sebenarnya ada dua titik pintu masuk yang sedang dalam tahap akhir pengerjaan. Yakni, Pelabuhan Internasional Tanjungberakit dan Bandar Udara Internasional di Desa Busung. Bila dua pintu masuk ini telah resmi beroperasi, Luki meyakini akan menjadikan aksesibilitas Bintan nirbatas.

“Jelas dong. Karena pelabuhan di Tanjungberakit itu bisa memangkas masa tempuh dari Johor ke Bintan jadi satu jam. Lalu kalau bandara itu bisa melayani penerbangan internasional dari banyak negara. Turis tidak perlu lagi singgah di Singapura dulu seperti hari ini,” ungkapnya.

Selama ini, jumlah kunjungan wisman ke Bintan masih berada di posisi keempat di bawah Bali, Jakarta, dan Batam. Dengan kisaran angka 300-400 ribu wisman setiap tahunnya, Kementerian Pariwisata RI menaruh harapan besar kepada Bintan untuk menyokong target kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 20 juta wisman pada tahun 2019 mendatang. (muf/bp)

Respon Anda?

komentar