Pesan-pesan dari Kursi 27 C

Oleh : Husnizar Hood

1074
Pesona Indonesia

Selamat pagi, oh kalau sekarang bukan pagi maka selamat siang atau selamat sore atau selamat apalah adanya. Bukan selamat malam karena bagi saya malam itu gelap dan gelap itu menakutkan. Meskipun malam sebenarnya selalu memberikan perenungan. Oh, ya, perkenalkan nama saya Mahmud, orang Melayu beralamat di Dompak ibu kota negeri ini, ah semua orang rasanya sudah tau. Kadang katanya saya ini membosankan tapi terkadang dirindukan.

Seperti Ahok mungkin, membosankan karena angkuh dirindukan karena berbeda. Ah,  saya sedang di negeri Ahok tapi saya takkan memilih Ahok, bukan karena apa karena KTP saya Tanjungpinang bukan Jakarta dan Tanjungpinang memilih nanti 2018 tapi hawa panasnya sudah terasa hari ini. Oh, ya  kali ini saya ingin bercerita sendiri sebab saya tak bersama kawan saya yang sering saya panggil Datuk itu, Kawan baik saya yang selalu bersama saya, dia bermimpi suatu hari nanti menjadi pemimpin negeri ini tapi kadang-kadang ia lupa berkaca dengan diri sendiri. Kemampuan ada, bakat ada, gaya ada hanya duitnya lebih kurang dengan saya. Lebih sedikit dia bergaji, kurang sedikit saya menggaji diri sendiri.

Kali saya terbang sendiri dan itu ternyata sangat membosankan, kita tak punya teman bercakap, rasanya mulut ini kaku, rahang membeku, apalagi AC alat pendingin ruangan ini seperti berlebih-lebih mengigilkan badan apalagi kebetulan saya tak berjaket. Sebetulnya jaket itu ada tapi malas karena di tempat pemeriksaan semua harus dibuka ; jaket, tali pinggang dan jam tangan wajib dilepas. Itu sudah peraturan masuk bandara untuk keselamatan dan kenyamanan penerbangan jangan protes, mentang-mentang terkenal, punya jabatan minta diistimewakan. Tak ada jalan, kalau pernah ke Eropa, sepatu kitapun disuruh dibukanya. Katanya, saya tak pernah ke Eropa.

Sejak pagi tadi saya sudah menuju Bandara, Jakarta banjir, seperti pantai, mungkin itulah karunia Tuhan karena banyak yang protes orang Jakarta tak bisa melihat laut, tak bisa melihat pantai semua pantai dikuasai para pemodal, habis sudah pantai bikin tak habis akal bikin pantai baru, dengan reklamasi, izin belakangan yang penting timbun duluan. Tadi ketika melintasi banjir teringat masih zaman kecil-kecil dahulu, main Jongkong di musim hujan, kampung kami itu langganan banjir. Kalau sudah banjir jembatan hanyut, maka sekolah libur, khusus untuk anak-anak di kampung kami saja karena tak bisa melintas jembatan itu. Ada buayanya. Hih..

Terbang sendirian itu hanya imajinasi saja yang bermain, kadang-kadang ingin bicara sendiri tapi takut dibilang orang gila tapi kalau dibiarkan berlama-lama mulut bisa-bisa lupa bicara. Dari mulai di taksi tadi, kemudian di bandara ngopi, dengar penerbangan tertunda 2 jam, di ruang tunggu menoleh kiri dan kanan tak ada yang kita kenal satupun. Bangga juga rasanya, kalau dulu berada di ruang tunggu ada saja yang kenal dan terbang dengan tujuan yang sama. Itu artinya negeri kita sudah maju, banyak dikunjungi orang. Kadang terpikir siapalah orang-orang ini, apa yang ingin dicarinya di negeri kita itu, apa pekerjaan mereka, pakainnya rapi-rapi, ah, entah-entah penyidik KPK, ada taget yang hendak dipelasahnya.

Manalah tau, jangan senyum-senyum dulu, Provinsi Riau negeri Melayu kakak kandung kita itu ternyata sekarang jadi negeri percontohan binaan KPK se Indonesia, kantor cabang KPK sudah berdiri disana, semua aparat pemerintahnya ikut dibina, karena negeri itu bernasib tragis, tiga orang Gubernurnya berturut-turut Hatrick, kompak masuk semua. Belum lagi walikota dan bupati yang siap-siap menyusul lagi.

Sendiri di tengah keramaian itu menyiksa sampai tiba waktu penerbangan nanti. Mencoba sedikit bercakap-cakap misalnya bertelpon ria dengan siapa saja tapi kalau tak ada tujuan menelpon itu hanya sia-sia, buang-buang puls saja. Kalau sudah begini yang paling masygul focus menatap layar mungil pada handphone di hadapan kita. Membaca arus lalu lintas status dan komen, padat namun demikian tetap ramai lancer adanya.

Status yang ditulis dengan begitu banyak pertimbangan, memeras kata menjadi saripati kalimat meskipun tak begitu disukai, status merasa paling hebat sendiri, semua orang salah, semua orang lemah, ada 50 ribu pasukan siap perang, turun ke jalan, mau digerakkan. Hmmm seingat saya perjuangan membentuk provinsi keperi ini dulupun tak sampai berjumlah 50.000.

Status mencaci maki, menghina orang lain, biasanya paling banyak disukai dan dikomentari. Asal bisa melampiaskan syahwat dendam dan amarah kepada orang lain rasanya dunia ini indah. Hati-hati atas semua penyebab itu, kalau dulu ada pepatah “Karena mulut badan binasa tapi sekarang berubah karena jari badan merana.

Saya yakini hari ini jari kita itu lebih cepat dari mulut. Jari kita bisa menulis apa saja yang kita ingin dan mulut kita diam. Kalau dulu hanya orang yang pandai bertutur yang punya atas mikropon dan mimbar tapi hari ini semua orang selagi mereka bisa menulis mereka bisa melakukan apa saja dengan kalimat dan kata-kata. Sesuka hati mereka tanpa membertimbangka orang yang membacanya.

Kursi 27C yang diberi oleh petugas maskapai penerbangan ini. Saya suka dengan kursi itu karena dekat dengan jendela. Saya bisa melihat awan atau garis horizon melengkung di ujung dunia. Setelah pesawat yang beratnya puluhan ton itu rasanya dengan mudah terangkat ke angkasa itu kuasa Tuhan dan kehebatan penemuan manusia dan teknologi dirgantara. Disebelah sayapun tak saya kenal saya bertukar senyuman saja tadi dan kemudian saya lihat dia mulai mendengkur padahal pesawat baru saja take off. Dia tak berdoa, pikir saya. Sementara saya beruntai-untai berdoa. Takut juga saya.

Saya melihat Jakarta yang tergenang dan saya teringat airmata di negeri kelahiran saya masih bertakung. Sekali lagi saya hanya berteman dengan handphone saya. Membaca pesan-pesan singkat yang dikirim kawan-kawan mencari-cari siapa tau ada yang belum terbaca.

“Budaya itu tentang apa yang diperjuangkan  dan Politik itu  tentang bagaimana memperjuangkannya”, itu SMS dari seorang kawan kemarin. Ia menulis untuk saya dan dia juga menulis distatus media sosialnya. Mungkin ia ingin berpesan kepada kita bahwa bukan hanya politik yang harus kita kedepankan tapi budaya dan budaya itu mampu melintasi batas cara berpikir kita”.

Saya ingin sekali menyampaikan pesan kepada mereka, marilah kita melakukan cara-cara apapun dalam keseharian kita ini dengan cara-cara yang berbudaya. Jaga lidah kita, jaga jari kita dan jaga akal kita. Tak bisa kita memaksakan kehendak berdasarkan alur pikir kita. Politik itu cara bukan tujuan. Kita sedang dalam sebuah permainan semuanya sudah ada aturan dan kita patuhi aturan itu. Kita bukan yang ingin bernasib seperti PSSI yang merana, yang melanggar statuta atau dilanggar oleh mereka yang hatinya telah buta.

Semua bisa terjadi dan semua berkesempatan untuk saling mengisi. Jika mereka melawan kita ikut seperti yang Ibu Menteri Susi perintahkan. “Tenggelamkan!”. Kita semua pemilik sah negeri ini dan kita semua tau dan selalu dipesankan sejak dahulu. Pandai-pandailah meniti buih agar selamat badan ke seberang. Dan jangan pecah hati. Karena semua kita akan diminta pertanggungjawabannya “akhirat itu terlalu nyata kepada hati yang tidak buta”.

Landasan pacu ini terasa kurang panjang, seperti rinduku pada isteri dan anakku, mereka yang selalu menyambutku dengan doanya “Kita bukan kaum pecundang”. Aku ingin terus bercakap-cakap denganmu sayang.   ***

Respon Anda?

komentar