Polda Gelar Uji Forensik Soal Keaslian Tanda Tangan Almarhum Sani

1119
HM sani saat masih hidup. Foto: cecep mulyana/batampos
HM sani saat masih hidup. Foto: cecep mulyana/batampos

batampos.co.id – Kesaksian ajudan mantan Gubernur Kepri almarhum Muhammad Sani, Gitra Wardana dan Afrian Ginanjar, yang menyebut tanda tangan Sani dalam Surat Keputusan Panitia Seleksi Jabatan Pimpinan Tingkat Madya adalah asli ditanggapi dingin oleh Polda Kepri. Penyidik mengaku akan terus melanjutkan kasus ini ke tahap penyidikan.

Direktur Direktorat Kriminal Reserse Umum Polda Kepri, Kombes Pol Adi Karya Tobing, mengatakan pihaknya akan melakukan uji laboratorium di Laboratorium Forensik Mabes Polri di Medan.
“Nanti kami akan bandingkan dengan tanda tangan yang asli,” kata Adi kepada Batam Pos, Jumat (22/4).

Untuk itu, saat ini pihaknya tengah mencari tanda tangan almarhum Muhammad Sani yang asli. “Lagi kami minta,”katanya.

Soal keterangan dua mantan ajudan M Sani yang memastikan tanda tangan dalam SK Panitia Seleksi Terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi Madya (Pansel-JPTM) atau SK Pemilihan Sekda Kepri itu asli, Adi mengaku tak bisa percaya begitu saja.
“Kata siapa asli, belum tahu kami. Tunggu hasil penyelidikan dululah,” ucapnya.

Sehingga Adi memastikan, kasus ini akan terus dilanjutkan dengan meminta keterangan sejumlah saksi. Hingga saat ini, kata Adi, pihaknya baru memintai keterangan Plt Sekda Kepri yang juga pelapor kasus dugaan pemalsuan tanda tangan Gubernur Kepri, Reni Yusneli. “Nanti yang lain kami panggil juga,” ujarnya.

Seperti diketahui, Reni melaporkan kasus ini ke Polda Kepri, beberapa waktu lalu. Reni menyebut ada indikasi pemalsuan tanda tangan Gubernur Kepri M Sani dalam SK Pansel Sekda Kepri itu.

Namun hal ini sempat dibantah dua ajudan almarhum Sani, Gitra Wardana dan Afrian Ginanjar. Keduanya memastikan tanda tangan dalam SK tersebut asli milik Sani. Menurut Gitra, SK tersebut diteken Sani saat berada di Hotel Grand Hyatt, Singapura pada 3 April lalu. Saat itu Sani memang tengah melakukan cek kesehatan di Singapura.

Soal bentuk tanda tangan yang sedikit berbeda dengan tanda tangan Sani sebelumnya, Gitra menyebut hal itu dikarenakan Sani saat itu kurang sehat. Dan saat menandatangani SK tersebut, Sani dalam posisi sambil rebahan. (ska/bpos)

Respon Anda?

komentar