Aeromodelling, Olahraga yang Tak Banyak Dikenal

1351
Pesona Indonesia
Mulyadi, Pilot Tanjungpinang Aeromodeling Club mengoperasikan Drone di Ramayana Mall Tanjungpinang, Sabtu 23/4). F.Yusnadi/Batam Pos
Mulyadi, Pilot Tanjungpinang Aeromodeling Club mengoperasikan Drone di Ramayana Mall Tanjungpinang, Sabtu 23/4). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Tidak banyak masyarakat Tanjungpinang yang mengenal aeromodelling menjadi landasan awal Tanjungpinang Aeromodelling Club (TAC) menggelar pameran terbuka, akhir pekan kemarin. Ketua TAC, Satrio Aribowo tak menyangkal itu. “Kami sudah lama berpikir tentang ini. Sekaligus teman-teman TAC bisa ikut latihan,” kata Bowo, Sabtu (23/4) kemarin.

Kali terakhir TAC menggelar pameran terbuka, sambung Bowo, sudah berlangsung enam tahun silam. Sehingga kini dirasanya jadi waktu yang tepat untuk kembali mengenalkan aeromodelling yang kini juga masuk sebagai cabang olahraga resmi yang dilombakan di Pekan Olahraga Nasional (PON) sejak 2012 silam.

Tanjungpinang sendiri juga sudah punya atlet aeromodelling. Bowo menuturkan, ada empat atlet andalan yang sudah pernah membawa pulang medali perunggu. Sayangnya saat itu, kata Bowo, mereka masih tergabung dalam kontingen Provinsi Riau. “Karena saat itu Kepri belum memiliki pengalaman di bidang olahraga aeromodelling. Sementara Riau, yang saat itu dikatakan lebih senior, telah mengikutkan atletnya dalam bidang olahraga tersebut,” terang Bowo.

Namun, untuk PON tahun ini, Bowo memastikan keempat atlet aeromodelling Tanjungpinang dipastikan bakal berlaga karena telah lolos kualifikasi pra Pon. “Dijadwalkan bakal ikut perlombaan di September nanti,” ungkap Bowo.

Keempat atlet yang akan bersaing tersebut, merupakan dua peserta pelajar tingkat SMA dan dua atlet mahasiswa. Yang mana diakui Bowo, menjadi atlet andalan Tanjungpinang di bidang aeromodelling tersebut.

Dipaparkan Bowo, seluruh atlet aeromodelling ini, dilatih setiap hari. Demi membiasakan diri terlatih merakit pesawat yang kemudian akan diterbangkan tersebut.

“Aeromodelling ini olahraga yang dimulai dengan merancang, merakit sampai menerbangkan pesawat tak berawak,” terang Bowo yang telah bertahun-tahun menggeluti olahraga ini.

Tak selesai sampai disana, para atlet ini kemudian dinilai dari kecepatannya, ketepatannya melakukan hitungan, kemampuannya menerbangkan pesawat dan banyak lagi.

“Tergantung pula kategori yang diikuti oleh atlet tersebut,” lanjutnya.

Untuk kategori Glider, si atlet haruslah piawai mencari celah antara panas bumi dan udara. Sehingga pesawat tak berawak ini mampu terbang tanpa bantuan mesin. Sementara untuk Combat, atlet akan dinilai dari kemampuannya untuk menerbangkan pesawatnya dengan sangat cepat. Ada pula yang memperhitungkan penilaian dari segi kemampuan bermanuver pesawat, secara tepat.

“Jadi gak cuma bermanuver saja. Namun pesawat yang berputar bisa kembali di titik awal ia mulai bermanuver,” sambung Bowo.

Event perdana pada 2016 ini lantas disambut positif oleh jajaran TNI-AU. “Komunitas ini dibawah bimbingan kami,” ucap Komandan Pangkalan Udara TNI-AU Tanjungpinang, Kol Pnb Ign Wahyu Anggono yang juga hadir pada pameran kemarin.

Wahyu mulai memperkenalkan aeromodelling dengan menepis paradigma aeromodelling merupakan olahraga mahal.

“Di komunitas ini sendiri sudah ada fasilitasnya bagi yang berminat. Dan jika selanjutnya ingin memiliki sendiri, beberapa model pesawat juga tidak semahal yang dibayangkan,” tuturnya.

Seperti yang dikatakan Bowo sebelumnya, model pesawat beragam bisa ditaksir dari harga Rp 100 ribu hingga yang termahal, yakni ratusan juta.

Wahyu kemudian melanjutkan, hingga saat ini bagi kalangan masyarakat yang ingin bergabung dengan TAC pun masih terbuka peluang. “Karena dibawah bimbingan TNI Udara, bisa langsung saja ke sekretariat kami di km 12,” terangnya.

Wahyu kemudian menyatakan, dalam tahun ini, bersama TAC, angkatan udara akan merencanakan banyak agenda terkait aeromodelling. agar kedepannya, olahraga ini mendapat apresiasi dan perhatian lebih di kalangan masyarakatnya juga pemerintah dan KONI dalam memaksilkan potensi ini. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar