Kunjungan Wisman Inggris ke Kepri Naik 100 Persen

459
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri merilis data resmi bahwasanya turis yang berpelancong ke Kepri lebih gemar menjadikan hotel berbintang empat sebagai tempat menginap. Lama rata-rata wisatawan mancanegara dan nusantara menginap itu selama 2,48 hari.

“pada bulan Februari, angkanya segitu. Dan itu meningkat daripada catatan di bulan Januari yang hanya 2,14 hari,” sebut Kepala BPS Kepri, Dumangar Hutahuruk, kemarin.

Selain hotel berbintang empat, rata-rata paling tinggi tempat menginap turis justru berada di hotel berbintang tiga, dengan rata-rata menginap selama 2,12 hari. Sementara hotel berbintang lima justru kurang begitu digemari dengan catatan menginap rata-rata hanya 1,89 hari.

“Sedangkan rata-rata lama menginap terendah di hotel berbintang satu yaitu 1,46 hari,” ungkap Dumangar.

Bila rata-rata lama menginap turis ini bisa meningkat, sambung Dumangar, tentu bakal berimplikasi baik terhadap pendapatan asli daerah. Karena setiap tamu hotel juga bakal dibebani dengan pelbagai retribusi. Seperti pajak hunian, restoran, dan lain-lain.

“Memang biasanya pada liburan musim panas atau musim dingin Eropa, jumlah kunjungan itu meningkat,” ujarnya.

Pasar wisatawan asal Eropa memang sedang mendapat angin bagus. Pada bulan Februari silam saja, jumlah kunjungan wisatawan asal Inggris meningkat lebih dari 100 persen. Dari awal tahun yang hanya mencatat jumlah 2.033 jiwa, menjadi 4.791 jiwa sebulan setelahnya. “Ini sinyal bagus bahwasanya destinasi wisata Kepri sudah terkenal sampai Eropa,” ungkap Dumangar.

Bila menilik dari data resmi BPS Kepri, negara Eropa yang menyumbang wisman paling banyak ke Kepri memang dari Inggris. Selebihnya ada Jerman, Rusia, Perancis, dan Belanda.

Dumangar menilai, angin bagus ini mesti disambut baik. Bisa dengan meningkatkan promosi yang dititipkan pada agen-agen travel atau pun melalui mengikuti kegiatan-kegiatan kepariwisataan di kota-kota besar.

“Kalau dimanfaatkan, pasti jumlah wisman Eropa nanti bisa lebih tinggi. Kalau saat ini, memang masih yang paling tinggi dari seputaran Asia Tenggara,” pungkas Dumangar. (aya)

Respon Anda?

komentar