Gelapkan Uang Rp 2,2 M Roedianto Dituntut 2 Tahun Penjara

388
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Ir Roedianto Tri Noegroho, terdakwa kasus penipuan dan penggelapan uang senilai Rp 2,2 miliar, yang dilakukan pada tahun 2013 silam kepada korban Yak Bun alias Abun dituntut pidana penjara selama 2 tahun, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Tanjungpinang, Zaldi Akri, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Tanjungpinang, Senin (25/4).

Dalam tuntutannya, JPU Zaldi Akri menyatakan terdakwa terbukti melakukan serangkaian perbuatan dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun karangan dengan perkataan-perkataan bohong, membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat hutang atau menghapuskan piutang.

Selain itu terdakwa juga dinyatakan dengan sengaja memiliki dengan melawan hak sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya termasuk kepunyaan orang lain dan barang itu ada dalam tangannya bukan karena kejahatan yang mana perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 372 KUHPidana.

”Atas perbuatan itu, meminta majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama dua tahun,” ujar Zaldi.

Atas tuntutan ini terdakwa menyatakan menerima. Namun terdakwa meminta kepada Majelis Hakim untuk menyampaikan nota pembelaan (pledoi) secara tertulis dalam sidang yang akan datang.

Ketua Majelis Hakim, Guntur Kurniawan yang didampingi dua hakim anggota Zulfadli dan Afrizal pun menuda sidang selama satu pekan untuk dilanjutkan dengan agenda pembelaan dari terdakwa.

Sekedar diketahui, kasus ini bermula saat korban Yakbun Als Abun akan mengikuti pelelangan pengadaan barang dan jasa di Pemkab Bintan tentang pengadaan mobil. Untuk mengikuti pelelangan pengadaan barang dan jasa tersebut korban memerlukan surat dukungan, kemudian korban mengajukan surat dukungan kepada PT Duta Cermerlang Motor melalui terdakwa yang akan dipergunakan korban untuk syarat memasukkan pelelangan pengadaan barang dan jasa di Pemerintah Kabupaten Bintan tersebut dengan memakai Perusahaan yang bernama CV Bintana Buana Alam dan CV Bintan Terang.

Setelah itu, Duta Cemerlang Motor Jakarta pun kemudian mengeluarkan surat dukungannya melalui terdakwa. Kemudian terdakwa mengirimkan surat dukungan tersebut kepada korban, hingga korban memasukan penawaran dengan menggunakan perusahaan CV Bintana Buana Alam untuk pengadaan Bus dan CV Bintan Terang untuk pengadaan truk tangga berjalan.

Saat itu, korban dan terdakwa sepakat atas permintaan chasis mobil merk Hino sebanyak sembilan Unit Chasis menjadi Bus yang terdiri dari dua Bus pakai AC dan tujuh Bus Non AC serta satu unit truk untuk tangga berjalan, lalu terdakwa meminta harga karoseri tersebut, untuk Bus AC per unitnya adalah sebesar Rp 254.000.000 dan Bus Non AC per unit harganya adalah sebesar Rp.175.000.000, serta untuk truk tangga berjalan dengan harga sebesar Rp.217.000.000.

Dengan kesepakatan harga itu, pada bulan Maret 2013 terdakwa telah meminta uang pembelian chasis mobil kepada korban sebesar lebih kurang Rp 4.335.000.000.

Namun, Faktur dan NIK mobil tersebut oleh terdakwa belum dapat menyerahkannya kepada korban saat itu. Saat itu terdakwa mengatakan bahwa faktur dan NIK mobil tersebut sedang dilakukan pengurusannya dan akan dikirimkan dikemudian hari.

Kemudian korban Yakbun Als Abun beberapa kali menghubungi terdakwa untuk segera mengirimkan dan menyerahkan Faktur dan NIK mobil tersebut yang akan dipergunkan korban untuk mengurus surat-surat mobil tersebut berupa STNK dan BPKB nya, akan tetapi terdakwa belum juga mengirimkan Faktur dan NIK kendaraan tersebut.

Akibatnya, perbuatan terdakwa pun merugikan korban dimana korban hingga saat ini belum dapat untuk mengurus surat-surat kenderaan berupa STNK dan BPKBnya.(ias/bpos)

Respon Anda?

komentar