Kekal dalam Ingatan; Anggota DPRD Kepri, Sofyan Samsir (1965-2016)

Smash Pamungkas Sang Jurnalis Tangkas

1168
Pesona Indonesia
Sofyan (kiri) saat melakukan tugas legislatif
Sofyan (kiri) saat melakukan tugas legislatif

Anggota Legislatif Provinsi Kepri, Sofyan Samsir mangkat, Selasa (26/4) petang. Tanpa tanda-tanda. Seketika pergi meninggalkan segalanya. Termasuk keinginannya menyambangi kantor redaksi Riau Pos yang pernah 14 tahun ia huni.

Masyarakat Kabupaten Natuna dan Anambas mengenal sosok Sofyan Samsir sebagai pribadi bersahaja. Kalau tidak, manalah mungkin sekumpulan masyarakat yang tinggal di ujung utara negeri ini mempercayakan amanat di bahunya. Tiga kali pemilihan, tiga kali pula, kader Partai Golkar ini berhasil melesat ke kursi dewan.

Sofyan dikenal pula sebagai wakil rakyat yang terbilang kritis. Segala hal yang tak mengena dan sejalan dengan kesejahteraan masyarakatnya, tanpa ragu Sofyan bakal bersuara. Selantang-lantangnya. Ambil misal, soal transportasi saja. Getol sekali bapak empat anak ini memperjuangkan agar pelayaran ke pulau-pulau terdepan selalu prima. Masyarakat Natuna dan Anambas adalah punca jabatannya bermula. Kepada mereka, Sofyan mengabdikan kerja-kerjanya.

“Yang diperlukan masyarakat adalah armada yang cepat dan murah. Dalam hitungan jam sudah sampai ke tujuan seperti dari Tanjungpinang tujuan Ranai maupun Serasan dan Midai bisa ditempuh dalam satu hari,” tegas Sofyan, dalam sebuah sesi wawancara.

Melihat ketegasan seorang pria kelahiran 11 Desember 1965 ini sebenarnya bukan sesuatu keterasingan. Terutama, bagi mereka yang pernah bersentuhan dengan Sofyan semasa perjuangannya merintis cita-cita di Pekanbaru, Riau.

Bangku menengah atas dituntaskan Sofyan di SMA Negeri 1 Pekanbaru. Setelah itu memilih kuliah di jurusan Bimbingan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau. Kendati Sofyan hari ini telah tiga periode terpilih sebagai anggota legislatif, sebenarnya sedari kecil ia punya cita-cita lain yang begitu bertolak belakang.

“Sejak dulu, saya memang ingin jadi guru,” kenangnya, pada sebuah sesi wawancara.

Karena jauh dalam hatinya, ketika menjadi guru, berarti ada laluan untuk mengabdi membangun kampung halamannya di Midai, Natuna.

Walau hingga akhir masa hayatnya, Sofyan tidak pernah mewujudkan cita-cita semasa kecilnya, namun rasa hormatnya terhadap profesi guru tidak akan pernah pudar.

Ia mengatakan,  “kalau bukan karena guru, mungkin saya tidak akan jadi seperti ini.”

Masa-masa di Pekanbaru adalah masa perjuangan bagi Sofyan. Anak muda yang merantau ribuan kilometer dari kampung halaman, menyeberangi sebentangan lautan, demi memimpikan kehidupan yang lebih baik. Sofyan menjalani itu dengan penuh keriangan. Terbukti, dari semasa kuliah, ia tidak pernah berkhianat pada pilihan hatinya.

“Pak Sofyan itu sedari kuliah, hobinya menulis. Apa pun asik nak ditulis sama beliau,” kenang Ansar Ahmad, karib seperjuangannya di Unri Pekanbaru.

Sembari menjadi seorang mahasiswa, sembari itu pula kecintaannya akan dunia tulis terus digeluti. Sofyan bergabung dengan majalah kampus Bahana. Di sini tulisan-tulisan Sofyan ditempa. Sampai pada akhirnya ia menemui masa-masa indah bagi penulis; publikasi pertama.

“Waktu itu di Pekanbaru baru ada Mingguan Genta,” kisahnya. Iseng, Sofyan lalu mengirim hasil resensi buku dan beberapa puisi karyanya.

“Ternyata dimuat,” serunya.

Publikasi pertama itu jadi titik apinya untuk tetap menulis dan terus memublikasi karyanya. Beberapa tulisan lepas dan reportase feature-nya dimuat di Harian Minggua Merdeka, Harian Haluan Padang, dan beberapa media lokal di Pekanbaru. Alhasil, di masa ini pula, Sofyan pernah menyabet juara dua lomba karya tulis Pameran Pembangunan Propinsi Riau dalam rangka HUT Kemerdekaan RI.

“Satu-satunya ya itu,” akunya seraya tertawa.

Hingga kemudian, Sofyan tiba di sebuah persimpangan kehidupan. Akankah benar-benar pulang ke kampung halaman dan mengabdi sebagai guru konseling di Midai atau bertahan di Pekanbaru, menyemai kecintaannya pada menulis.

Tahun 1989, keputusan persimpangan itu mulai terlihat jelas. Sofyan yang kala itu berusia 24 tahun secara khusus diminta oleh Soeripto, kala itu Gubernur Riau, membantu harian Warta Karya. Sofyan mengiyakan. Tapi napas harian ini tidak panjang. Karena pemerintah daerah mencabut subsidinya.

Letusan Perang Teluk di tahun 1991, jadi titi mangsa yang sejatinya tidak bakal mudah lekang dalam ingatan Sofyan. Di tahun ini, Warta Karya lahir kembali dengan nama Riau Pos. Sofyan diajak kembali bergabung ke dunia jurnalistik. Kecintaannya pada dunia tulis-menulis membuatnya tak kuasa menolak.

“Saat itu, Saya melihat dia adalah tipikal wartawan yang gigih dan tangguh,” kenang Rida K. Liamis, pendiri Riau Pos sekaligus pemimpin redaksi pertama kala itu.

Pilihan Rida ada benarnya. Dalam kurun tujuh tahun, berbagai jenjang karir disandang Sofyan. Mulai reporter, redaktur, redaktur pelaksana, sampai koordinator liputan.

“Dia adalah redaktur yang ‘cerewet’, teliti, dan tidak banyak bicara saat bekerja di redaksi,” kenang Yoserizal, Kepala Perpustakaan Daerah Provinsi Riau yang dahulu pernah bekerja sebagai wartawan di Riau Pos.

Cerewet yang dimaksudkan Yose bukan tentang nyinyir nan bawel tak jelas pangkal ujungnya. Ini murni cerewet seorang redaktur yang berkeinginan menyajikan berita terbaik untuk dicetak dan dibaca orang keesokan paginya. Mengenai sumber berita, misalnya. Yose mengenangkan, bahwasanya sebagai orang nomor satu di bilik redaksi, Sofyan adalah sosok yang punya misi.

“Kalau menulis sumber berita, kami harus tahu nama lengkapnya, gelarnya, jabatannya, kalau perlu panggilan akrabnya,” kenang Yose.

“Satu lagi,” tambah dia, “Bang Sofyan selalu pesan jangan pernah bikin kecewa sumber berita kalau menuliskan hasil wawancara.”

Kenangan tentang sosok Sofyan sebagai seorang jurnalis yang bukan hanya andal, tangkas, tegas, tapi juga teliti, dirasakan langsung oleh Taufik Muntasir. Sastrawan yang mukim di Batam ini mengenang Sofyan lebih daripada sekadar seorang atasan di bilik redaksi yang mau segalanya sudah beres.

Pernah di suatu penyusunan liputan Popda Riau, kenang Taufik, terjadi kesalahketikan nama narasumber. Bukan main meradangnya Sofyan. Cekatan ia meminta Taufik dan kawan-kawan meralat pemberitaan tersebut.

“Tapi sempat tiga kali kami meralat, nama orang itu tetap salah,” ujar pria yang akrab disapa Ace ini.

Integritas Sofyan di dunia Jurnalistik mengantarkannya pada tampuk jabatan tertinggi. Pada tahun 1998, di usia 31 tahun, Sofyan mulai dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Padang Ekspress – anak usaha Riau Pos Group. Dua tahun bekerja di Padang, ia lalu ditarik lagi ke Pekanbaru. Di sini, Rida ingin memberi kesempatan lebih besar kepada Sofyan. Tanpa ragu, Rida secara langsung mengamanahkan jabatan yang diembannya sebagai Pemimpin Redaksi kepada Sofyan.

Karir jurnalistiknya tidak berhenti di situ. Satu setengah tahun kemudian, Sofyan ditempatkan ke Dumai. Di kota minyak itu, ia ditugaskan menjadi Pimpinan Umum Dumai Pos, yang juga merupakan bagian besar Riau Pos Group.

“Kalau dia bukan orang yang berintegritas, berkemampuan, sungguh-sungguh, manalah mungkin saya taruh di posisi Pemred Riau Pos. Tapi, Sofyan memang wartawan yang bagus,” kenang Rida, yang kini menjadi Chairman Riau Pos Group, seketika mendengar kabar berpulangnya Sofyan.

Persimpangan Baru; Jagat Politik

Perkenalan Sofyan Samsir dengan dunia politik, bolah jadi sebagian dari misteri penuh teka-teki. Apatah tidak, segalanya itu tanpa pernah direncanakan sebelumnya. Karena keaktifannya sebagai dalam berorganisasi semasa kuliah hingga menjadi Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) mengantar persimpangan baru dalam hidup Sofyan.

Selama menjabat sebagai Ketua BPM FKIP Unri Pekanbaru, Sofyan aktif bergaul hingga ke organisasi luar kampus. Salah satunya, ia sering menghadiri undangan Partai Golkar, baik untuk kegiatan internal maupun eksternal.

Hingga di suatu masa, saat Sofyan menghadiri kampanye Golkar di Pekanbaru, Harmoko, Ketua Umum DPP Golkar dan Menteri Penerangan saat itu, menyerahkan kartu anggota Golkar padanya. “Sejak itu, saya selalu hadir saat Golkar ada kegiatan. Tak jarang saya jadi panitia,” kenang Sofyan, dalam sebuah sesi wawancara.

Kedekatan dari semasa mahasiswa ini kemudian terbawa dalam dunia kerja sebagai seorang wartawan. Di awal tahun 1990-an, Sofyan sering meliput kegiatan yang ditaja Golkar. Dan pada tahun 2003, saat Musyawarah Daerah (Musda) Golkar, nama Sofyan mencuat dan terpilih sebagai Wakil Sekretaris DPD I Golkar Riau.

“Pak Sofyan ini teman baik semasa kuliah. Kader yang luar biasa dan sukar dicari penggantinya,” kenang Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Kepri, Ansar Ahmad.

Tiba saat pemilihan umum tahun 2004. Kala itu Provinsi Kepri baru terbentuk. Sistem pemilu yang masih menggunakan nomor urut kemudian mengantarkan Sofyan duduk sebagai anggota dewan dari daerah pemilihan Natuna.

Lima tahun menjabat, Sofyan kembali dicalonkan Partai Golkar pada Pemilu 2009. Kali ini, ia ditempatkan di urutan empat atau urutan terakhir. “Impossible bisa duduk lagi,” kenang Sofya masa itu. Namun keuntungan berkata lain. Melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Pemilu 2009 dilaksanakan sistem suara terbanyak. Sofyan pun berhasil mendapat suara terbanyak. Satu kursi Golkar Dapil Natuna-Anambas kembali diraihnya.

“Dari dulu, saya memang tidak pernah ragu dengan sosok Pak Sofyan. Pasti terpilih lagi dan lagi,” kenang Ansar.

Sosok Sofyan memang mengejutkan. Ansar mengakui itu. Ketika dirinya mengikuti kontestasi pemilihan kepala daerah, Ansar begitu geleng-geleng kepala. Betapa seorang Sofyan Samsir begitu dikenal baik oleh masyarakat Natuna dan Anambas. “Sampai pulau-pulau kecil itu tahu betul sama Pak Sofyan. Ini jadi bukti betapa ia adalah anggota dewan yang sangat rajin turun ke daerah,” ujar Ansar.

Berpulangnya Sofyan petang kemarin, kata Ansar, menjadi pukulan telak bagi Partai Golkar Kepri. Karena baginya, tidak akan pernah ada lagi kader partai seperti seorang Sofyan Samsir. Dedikasinya, ketanggapannya, integritasnya, komitmennya, dan kemauan kerasnya memperjuangkan nasib masyarakat Natuna dan Anambas, di mata Ansar, tidak pernah ada duanya.

Sebuah pukulan smash pamungkas di Lapangan Tenis Komplek Bea Cukai Tanjungpinang menyudahi semua cita-cita serta kerja-kerja yang tersisa dalam seorang Sofyan Samsir. Tiba-tiba ia tumbang. Tak sadarkan diri dan lekas dibawa ke rumah sakit. Lalu segalanya tiba-tiba begitu lekas. Sofyan berpulang dan belum sempat menuntaskan kerinduannya pada bilik redaksi.

“Rindu jugalah dengan teman-teman di Riau Pos macam Helmi Burman dan Ace. Kalau ke sana, rasanya juga ingin bertemu dengan Pak Rida dan Bu Rida,” begitu keinginan Sofyan di akhir perjumpaan dengan Yoserizal.

Keinginan yang lahir dari kerinduang tak pernah pupus dan putus dari seorang jurnalis andalan. Terima kasih, Pak Sofyan. Selamat jalan…(fatih muftih, tanjungpinang)

Respon Anda?

komentar