Kisah Penyanderaan Abu Syayyaf terhadap Awak Kapal Indonesia

513
Pesona Indonesia
Keluarga saat menjemput Royke Fransy Montolalu di Bandara Sam Ratulangi, Manado.  Foto: Willy Kalesaran/Manado Post
Keluarga saat menjemput Royke Fransy Montolalu di Bandara Sam Ratulangi, Manado.
Foto: Willy Kalesaran/Manado Post

SENJA baru saja usai. Laut dan langit yang biru berubah menjadi hitam. Keheningan pun menyelimuti perairan Tawi-Tawi yang mempertemukan Filipina dengan Malaysia.

Melaju di atas perairan tersebut, sepuluh kru tugboat Henry berkutat dengan aktivitas masing-masing pada Jumat sore (15/4) dua pekan lalu itu.

Sembara Oktafian yang menjadi perwira mesin sibuk mengecek mesin kapal. Sebagian temannya yang lain asyik menonton televisi. Ada pula yang tengah makan atau membikin kopi.

Sebuah malam yang damai. Sampai kemudian alarm kapal berbunyi keras…

Adalah Yohanis Serang, anak buah kapal (ABK) Henry yang lain, yang pertama mengabarkan kegentingan itu. Setengah berlari, dia turun ke ruang bawah sembari berteriak memberi tahu rekan-rekannya, ’’Oiii… ada Abu Sayyaf, ada Abu Sayyaf.’’

Bara, sapaan akrab Sembara Oktafian, tak langsung percaya. Dia merasa kapal sudah memasuki wilayah perairan Malaysia. Sedangkan setahu dia, Abu Sayyaf, kelompok radikal itu, hanya beroperasi di teritori Filipina.

Bergegas pemuda 26 tahun itu pun naik ke dek. Dan, ternyata Yohanis benar. Pria-pria bersenjata telah menguasai kapal yang baru pulang mengantarkan batu bara ke Filipina tersebut. Seorang di antara mereka meneriakinya untuk turun.

Dikepung kepanikan, tanpa pikir panjang, Bara pun mengikuti perintah perompak tersebut. Dia turun dengan perasaan takut yang luar biasa. Apalagi tak lama kemudian suara tembakan terdengar beberapa kali.

’’Telinga saya berdenging. Saya semakin takut,’’ tutur Bara saat ditemui Jawa Pos di kediaman orang tuanya di Koja, Jakarta Utara, kemarin (25/4).

Adegan yang biasa dilihatnya dalam film-film action hadir di depan mata dan kepala sendiri. Bara dan beberapa rekannya hanya bisa berjongkok, menunduk, sambil mengalungkan kedua tangan ke kepala.

Bahkan, sudah sepuluh hari berlalu, kengerian masih terekam di wajah Bara kala menceritakan malam jahanam itu. Suaranya beberapa kali tercekat. Matanya berkaca-kaca, terutama saat mengenang empat rekannya yang sampai saat ini masih disandera kelompok Abu Sayyaf.

’’Saya hanya beruntung, Bang. Kalau saya yang saat itu kebetulan di depan, mungkin saya yang diambil,’’ tuturnya sembari mengusap kedua mata.

Hasmanidar, ibunda Bara, juga tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas keselamatan sang anak. Pascaperistiwa penyanderaan 10 ABK Brahma 12 dan Anand 12, perempuan berjilbab itu memang mulai khawatir.

Dia tahu, jalur yang sama kerap dilalui anaknya. Tak pelak, dia pun sempat menghubungi anaknya sebelum keberangkatannya ke Filipina.

’’Tapi, Bara bilang, pakai jalur beda. Mungkin dia ingin membuat ibunya tenang saja,’’ kata istri Zaenal tersebut.

Jalur perairan tersebut sebenarnya bukan jalur baru bagi Bara. Itu merupakan rute reguler yang biasa dilalui setiap mengirimkan batu bara ke Filipina. Sejak bekerja di PT Global Trans Energi Internasional awal 2015, dia sedikitnya sudah enam kali bolak-balik melalui jalur tersebut.

”Selama ini belum pernah ada masalah melewati jalur itu,” kata lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta tersebut.

Tapi, malang memang tak dapat ditolak. Pada malam nahas itu, setelah sepuluh ABK dikumpulkan, kelompok perompak langsung memeriksa kantong seluruh ABK. Yohanis termasuk yang telepon selulernya diambil.

Ketika itu posisi Yohanis dekat dengan pintu darurat. Dengan posisi strategis tersebut, Yohanis kemudian mundur selangkah dan langsung masuk ke balik pintu itu.

”Waktu masuk ke dalam pintu, teman-teman juga membantu saya dengan cara merapatkan barisan sehingga saya tidak terlihat dari pandangan kelompok teroris,” jelasnya.

Dia lantas lari ke bawah ruang mesin kapal. Meski berhasil bersembunyi, Yohanis tetap dihantui rasa takut. Setelah bersembunyi sekitar sepuluh menit, Yohanis keluar dari persembunyian untuk melihat apa yang telah terjadi.

Yohanis perlahan-lahan menuju kamar kapten. Kemudian, melanjutkan menaiki tangga secara perlahan-lahan dengan mengintip ke luar melalui pintu kapal. Saat itu dia masih melihat rekan-rekannya disandera di atas kapal.

”Yang saya lihat ada empat orang dari kelompok ini di atas kapal. Satu lainnya menunggu di speedboat,” tuturnya.

Ada empat kru Henry yang akhirnya dibawa perompak. Mereka adalah Ariyanto Misnan (master), Loren Marinus Petrus Rumawi (chief officer), Dede Irfan Hilmin (second officer), dan Samsir (A/B).

Itu berarti, total 14 warga negara Indonesia disandera kelompok tersebut. Sepuluh lainnya merupakan kru kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12 yang dibajak sebulan lalu.

Bara, juga Yohanis, mengingat, begitu speedboat perompak pergi membawa empat rekannya, keduanya segera kembali ke dek. Terkejut sekali mereka saat menemukan Lambas Simanukalit tergeletak bersimbah darah. Rupanya, dia terkena pantulan tembakan dari perompak di bagian bawah ketiak sebelah kiri.

Saat rekan-rekannya berusaha menolong Lambas, Yohanis bergegas ke ruang kapten untuk mengambil HT (handy talkie). Pria yang tinggal di Tarakan Barat, Kalimantan Utara, itu lantas berusaha berkomunikasi dengan siapa saja yang mendengar.

”Cek, cek, cek…bravo di sini TB Henry telah dibajak. Teman kami kena luka tembak,” tutur Yohanis kepada Radar Tarakan menirukan yang dilakukan kala itu.

Beberapa menit kemudian, ada jawaban dari polisi maritim yang saat itu melakukan patroli. Setelah ditunggu sekitar 30 menit, polisi maritim Malaysia tiba.

Dengan cepat, polisi langsung membawa Lambas dengan menggunakan salah satu kapal patroli mereka menuju Semporna, Sabah. Sampai sekarang Lambas masih dirawat di negeri jiran itu.

Sementara itu, lima ABK dan kapal TB Henry dibawa ke Lahad Datu untuk dimintai keterangan. Yohanis mengaku, selama berada di Malaysia, dirinya dan teman-teman diperlakukan secara wajar. Mereka hanya ditanyai atau diinterogasi pihak Konjen RI dan polisi setempat.

”Sama saja dengan di Tarakan. Ditanya-tanya dan interogasi,” jelasnya.

Yohanis, Bara, maupun kru Henry lainnya yang selamat, Royke Frans Montolalu, mengaku tak henti-henti berdoa untuk keselamatan rekan-rekan mereka yang masih disandera.

”Semoga mereka selamat dan cepat dibebaskan,” kata Royke tak lama setelah mendarat di Manado pada Minggu malam lalu (24/4) seperti dikutip Manado Post.

Karena pengalaman yang membahayakan itu, Yohanis mengaku kapok berlayar ke Filipina. Sebaliknya, Bara tak akan meninggalkan pekerjaannya sebagai pelaut. Dia tak sudi profesi yang diimpikannya sejak kecil itu direnggut teror yang ditebar kelompok seperti Abu Sayyaf.

Bagaimana dengan Royke? Seperti Bara, Royke akan tetap menjadi pelaut. Namun, belum selesai menjelaskan alasannya, sang istri, Ririn, yang menjemput di bandara langsung menyela, ”Saya tak akan mengizinkan. Titik!” (*/JPG/c5/c10/ttg)

Respon Anda?

komentar