Personel Wing Udara Mesti Fasih Berbahasa Asing

404
Pesona Indonesia
Personil Wing Udara 2/Puspenerbal Tanjungpinang menjalani kursus tambahan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam berbahasa Inggris. Kursus yang diperuntukkan bagi seluruh lapisan itu dilaksanakan secara berjenjang bertempat di Markas Komando Wing Udara 2 di Tanjungpinang dan dibuka pada Senin, (25/4) kemarin. foto:faradilla/batampos
Personil Wing Udara 2/Puspenerbal Tanjungpinang menjalani kursus tambahan untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dalam berbahasa Inggris. Kursus yang diperuntukkan bagi seluruh lapisan itu dilaksanakan secara berjenjang bertempat di Markas Komando Wing Udara 2 di Tanjungpinang dan dibuka pada Senin, (25/4) kemarin. foto:faradilla/batampos

batampos.co.id – Personil Wing Udara 2/Puspenerbal Tanjungpinang kini punya kewajiban tambahan. Mereka dituntut tidak hanya piawai mengemudikan pesawat tempur. Tapi juga mesti mahir dan fasih berbahasa asing. Sepaling-paling tidaknya mampu secara aktif dan pasif berbahasa Inggris. Karena itu, Senin (25/4) kemarin di Markas Komando Wing Udara 2 di Tanjungpinang digelar kursus bahasa Inggris yang diikuti seluruh lapisan personel.

Komandan Wing Udara 2, Kolonel Laut (P) Muhammad Tohir menyatakan, kursus dibuka untuk Perwira, Bintara, Tamtama maupun Aparat Sipil Negara (ASN) di lingkungan Wing Udara 2 dan Lanudal. “Peserta gelombang ini berjumlah 35 orang dari semua jenjang kepangkatan, dan sebagai instruktur kita bekerja sama dengan Excellence Course,” kata Tohir.

Penguasaan bahasa Inggris oleh personil TNI AL terutama di penerbangan, menurut Tohir merupakan sebuah kebutuhan. Tugas latihan maupun misi pasukan perdamaian di beberapa daerah konflik menuntut personil penerbangan berkoordinasi dengan sesama AL dari berbagai negara. “Bahasa yang dapat dipahami bersama pada misi-misi terutama skala internasional adalah Inggris, jadi mutlak dibutuhkan,” terangnya.

Tugas sehari-hari penerbang TNI AL, khususnya di jajaran Wing Udara 2 sebetulnya sudah banyak menggunakan bahasa Inggris. Dalam misi perondaan perbatasan laut dan pengawasan keamanan pelayaran dari gangguan perompak dan kriminal di laut, TNI AL kerap bekerja sama dengan AL Malaysia maupun Singapura. Selain kerja sama regional, TNI AL juga dituntut berkomunikasi dengan AL asing saat ada peristiwa tertentu. Dalam operasi Search and Rescue (SAR) laut misalnya, personil dituntut berkoordinasi dengan AL asing yang ikut melakukan operasi.

Membangun kesepahaman dengan militer asing dalam operasi kemanusiaan bersama membutuhkan penguasaan bahasa internasional yang merata untuk menunjang komunikasi, misalnya komunikasi radio antara pesawat TNI AL dengan kapal asing yang terlibat, atau sebaliknya. Khususnya penerbang yang notabene adalah Perwira, Tohir menilai sudah tidak menemui banyak kesulitan penerapan bahasa Inggris. “Namun demi suksesnya operasi, semua elemen harus memiliki kemampuan yang sama. Misalnya Bintara dan Tamtama pendukung misi,” terangnya.

Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM) diakui Tohir merupakan tugas seorang Komandan sebagai bagian dari pembinaan personil. “Menyangkut penguatan SDM, saya sangat concern, sebagai bagian dari rintisan menuju World Class Navy seperti yang dicanangkan Mabesal,” ungkapnya.

Visi menjadikan TNI AL sebagai World Class Navy menurut Tohir tidak dapat berhenti hanya pada slogan, namun harus dibarengi dengan program. Selain peningkatan kecakapan kemiliteran, faktor penguasaan bahasa asing yang dapat dijadijadikan sarana bertukar informasi dengan sesama angkatan laut dari berbagai belahan dunia.

Penguatan SDM yang dilakukan di Wing Udara 2 membuahkan hasil positif. Penerbang dan pendukung yang berpangkalan di Tanjungpinang selalu ambil bagian dalam porsi besar dalam beberapa kali kegiatan baik misi maupun latihan bersama militer asing.

Sebelumnya, personil yang dapat lolos tes dan tergabung dalam Satgas Maritime Task Force (MTF) di Lebanon tidak sebanyak tahun ini. Selain mengirim personil untuk bergabung dengan pasukan perdamaian PBB, pada misi latihan semisal Multilateran Naval Komodo Exercise (MNEK) lalu di Padang, Sumbar, personil yang dominan di Satgas Udara berasal dari Wing Udara 2. “Lumayan, untuk tahun ini saja dari 7 yang ikut seleksi ke Lebanon, 5 berhasil lolos, dan itu sudah mayoritas” ujar Tohir bangga. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar