Bercanda Bareng Kulup, Si Jalak Nias Jinak yang Usil dan Menggemaskan

1701
Pesona Indonesia
AK Prambudi berinteraksi dengan Kulup, burung jalak miliknya di rumahnya Gang Al Zafaron jalan Adi Sucipto Tanjungpinang, Selasa (26/4). F.Yusnadi/Batam Pos
AK Prambudi berinteraksi dengan Kulup, burung jalak miliknya di rumahnya Gang Al Zafaron jalan Adi Sucipto Tanjungpinang, Selasa (26/4). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Kucing dan anjing bisa jadi hewan peliharaan yang menyenangkan. Tapi, itu sudah jamak. Mengapa tidak mencoba bermain dengan burung jalak? Jangan kaget kalau tergelak-gelak.

Ini bukan masukan menggelikan. Burung jenis jalak memang telah diakui memiliki kecerdasan setingkat di bawah burung beo. Mahir meniru suara orang, walau sebarang satu-dua kata. Ini menjadi daya tarik tersendiri. Terlebih, di kawasan Asia Tenggara, persebaran jalak cukup luas. Yang paling masyhur adalah Jalak Suren, Jalak Bali, Jalak Kerbau, Jalak Nias. Tak heran, banyak orang yang menangkarnya sebagai hewan peliharaan.

Sama halnya yang diperbuat AK Prambudi. Pria 36 tahun ini sedari kecil adalah penghobi burung. Satu di antara burung yang punya tempat spesial di hatinya adalah Jalak Nias. Memang burung yang bernama latin Acridothere Tristis ini bukan tipe pengoceh yang andal. Namun, hati Prambudi kadung kepincut lantaran kejinakan burung yang dinamainya Kulup ini. “Kalau dalam bahasa Jawa, kulup itu artinya bocah laki-laki, karena dia jantan, saya namai begitu,” tutur Prambudi, Selasa (26/4).

Ketika ditemui di rumahnya Prambudi tengah merampungkan kerjanya di balik komputer jinjing. Itu pemandangan biasa. Tapi, kala ada seekor burung hinggap di atas layarnya itu yang menyita perhatian seketika. Seolah-olah, si Kulup tahu pemiliknya sedang bekerja dan berkeinginan menemaninya. Tak mau menganggu, untuk sekian waktu, Kulup hanya bergeser atau memainkan bulu-bulu cokelat mudanya.

Tiba-tiba Kulup terbang. Bukan menuju sangkar, tempat makanannya tersedia, melainkan menuju kepala Arina Zahra. Bocah perempuan tiga tahun ini adalah putri sulung Prambudi. Kulup ingin menyambut si bocah yang baru saja terbangun dari tidurnya. Sayangnya ajakan bermain Kulup tidak begitu ditanggapi.

Azah, panggilan akrab Arina, menepis dan menghindar lantas beringsut ke pangkuan bapaknya. “Usil banget kan si Kulup ini,” kata Prambudi sembari membenarkan posisi duduk putrinya.

Emoh diabaikan, lagi si Kulup mencoba cari perhatian. Tangkai kaki kuningnya kini sudah mencengkeram bahu Prambudi. Konon, ini adalah isyaratnya mengajak bermain. Karena kerja di atas meja belum rampung, Prambudi punya kiat untuk mendiamkan Kulup. Bapak satu anak ini kemudian meraih beberapa ekor jangkrik. Menyorongkannya ke paruh Kulup.

Laiknya kanak-kanak yang tenang dan anteng usai diberi makan, pun Kulup. Jalak Nias berusia empat bulan ini tak lagi berkelabatan sana-sini. Azah yang semula belum enak hatinya juga terhindar dari gangguan Kulup. Tapi dasar bocah, godaan untuk bermain bersama Kulup tak juga mampu terelakkan.

Tangan mungil Azah meraih-meraih paruh Kulup. Tapi seketika hendak dihunjamkan patukan, Azah buru-buru menarik tangannya. Ia terpingkal-pingkal berhasil mengerjai si Kulup. Merasa dipermainkan, Kulup tak tinggal diam. Kulup terbang dan hinggap di atas kepala Prambudi. Mengoceh berulang kali. Barangkali, Kulup sedang mengadu karena merasa dipermainkan oleh Azah.

Prambudi memindahkan Kulup ke atas telapak tangannya. Batok kepala hitam berbulu itu dielus-elusnya. “Ini yang selalu bikin kangen rumah. Bisa bermain dengan Azah dan Kulup,” katanya. Kebetulan, kemarin petang, Prambudi baru pulang berdinas di Yogyakarta. Sehingga, ada kerinduan tak berperi untuk dapat kembali bermain dengan putrinya dan hewan peliharaannya. “Udah jumpa anak dan burung, langsung hilang penatnya,” tambah Prambudi seraya mengikik.

Seraya Azah bermain dengan si Kulup, Prambudi menuturkan, sudah merawat Jalak Nias itu di rumahnya sejak masih kecil. “Saya dapat di Tanjunguban dari kuli bangunan. Tapi saat itu sudah tumbuh bulunya,” kenangnya.

Telaten, tegas Prambudi, jadi modal besar membuat si Kulup bisa begitu jinak. Tidak panik dan gampang gaduh kala berada di dekat orang banyak. Setelah itu tentu saja perlu membiasakannya. Pada mulanya, memang tidak ada hewan yang bisa lekas berani berdekatan dengan manusia. Seperti kata peribahasa, bisa ala biasa. Begitu pula Kulup beradaptasi dengan lingkungan barunya. Tanpa dedahan dan reranting pohon tinggi, sekawanan kumpulannya, Kulup tetap bisa terhindarkan dari stres yang kerap jadi penyakit mematikan bagi hewan sejenisnya.

“Merawat Kulup ini seperti merawat Azah. Lama kelamaan dia tahu bahwa kita adalah teman dekatnya. Jadi dia tidak stres dan mau diajak bermain,” ujar Prambudi.

Bukan sekadar bual besar belaka. Prambudi lalu mengambil skuter di garasinya. Si Kulup diajaknya serta. Dia bertengger tenang di tangkai setang. Hilir-mudik Prambudi ke sana-sini, si Kulup anteng-anteng saja. Sesekali mengoceh. Barangkali itu ocehan kanak-kanak yang begitu girang diajak bermain. Di muka rumah, Azah terpingkal-pingkal melihat keakraban bapaknya dan Kulup. (muf/bpos)

Respon Anda?

komentar