UN 2017, Disdik Targetkan Seluruh SMA di Kepri Pakai Komputer untuk UN

1519
Pesona Indonesia
Ujian Nasional Berbasis Komputer.
Ujian Nasional Berbasis Komputer.

batampos.co.id – Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau punya agenda besar setahun ke depan. Pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun 2017, ditargetkan seluruh sekolah menengah atas sederajat yang ada di Provinsi Kepri diselenggarakan berbasis komputer.

”Maka dari itu, UN berbasis komputer tersebut terus disosialisasikan ke sekolah-sekolah. Rencananya tahun 2017 nanti semua sekolah setingkat SMA/ SMK sederajat, harus menggunakan sistem UN Berbasis Komputer,” terang Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepri, Yatim Mustafa, kemarin.

UN berbasis komputer ini, sambung Yatim, sebenarnya sudah dilaksanakan di sejumlah sekolah sejak tahun 2015 silam. Namun belum seluruh sekolah mampu menerapkannya, diakui Yatim, lantaran belum tersedianya fasilitas komputer serta jaringan yang memadai.

Penerapan UN Berbasis Kompiter ini, dijelaskan Yatim, tak lain dan tak bukan adalah untuk mempermudah pihak sekolah dalam melakukan penyimpanan data. Jika menggunakan kertas, dikhawatirkan soal-soal ujian akan hilang begitu selesai dipakai. Tidak bisa dipergunakan lagi. Bukan hanya itu, manfaat dari UN berbasis komputer adalah menghindari kebocoran soal UN.

Agenda ini bisa dimulai dengan pengadaan komputer bagi seluruh sekolah untuk pelaksanaan UN. Targetnya, kata Yatim, pada tahun 2017 mendatang, sudah ada penambahan setidaknya dua ribu unit komputer yang bisa dibagikan ke semua sekolah tingkat SMA/SMK sederajat di Kepri.

Yatim mengutarakan rencana ini juga sudah mendapat persetujuan langsung dari Plt Gubernur Kepri, Nurdin Basirun.

Hingga tahun ini, jumlah sekolah yang sudah menerapkan UN berbasis komputer baru 72 sekolah dari total 317 sekolah yang ada.

Untuk prioritas, sekolah-sekolah pinggiran atau yang ada di perbatasan, bakal mendapatkan komputer lengkap dengan gensetnya. Sebab, diakui Yatim, untuk sekolah di daerah pinggiran atau perbatasan sering mengalami kesulitan akan ketersediaan listrik.

Apalagi listrik di daerah pinggiran hanya menyala tujuh jam. Jadi jika menggunakan listrik desa rasanya mustahil. Maka solusinya, selain dapat komputer, akan ditambah dengan genset.

Namun, kata Yatim, ditegaskannya, untuk pengadaan genset ini memang sedikit berat anggarannya. Tapi, apa boleh buat, untuk sekolah di perbatasan memang harus mendapat tambahan genset jika memang nanti UN berbasis komputer akan diterapkan.

‘Kami akui kalau untuk pengadaan komputer semua sekolah yang ada, pemerintah masih sanggup. Tapi kalau untuk penambahan gensetnya, harus ada sekolah prioritas. Terutama sekolah di pinggiran atau perbatasan,” pungkas Yatim. (aya/bpos)

Respon Anda?

komentar