Santos Garap Migas di Blok Ande-Ande Lumut, Pemprov Kepri Minta SKK Migas Transparan

1393
Pesona Indonesia
Blok Ande-Ande Lumut Natuna, Kepri.
Blok Ande-Ande Lumut Natuna, Kepri.

batampos.co.id – Santos Northwest Natuna B.V pada 2017 mendatang mulai menggarap Blok Ande-Ande Lumut (ALL).

Kontrak eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas (Migas) dilokasi tersebut sampai tahun 2034 mendatang.
Dinas Pertambangan (Distamben) Provinsi Kepri mendorong Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) untuk melakukan kontrol secara transparan.

“Apa yang kita inginkan dari pekerjaan itu nanti adalah adanya peningkatan pemasukan bagi daerah. Tentu ini harus dikawal secara sistematis,” ujar Sekrertaris Distamben Kepri, Muhammad Darwin, seperti dikutip koran Batam Pos (grup batampos.co.id), Rabu (27/4/2016).
Dijelaskannya, untuk blok tersebut pada awalnya dikuasi oleh AWE.Pte.Ltd dan sekaligus menjadi operator blok ini. Akan tetapi, Santos Northwest sudah melakukan akuisisi 50 persen saham tersebut. Sehingga akan mengambil alih sebagai operator blok tersebut.
Masih kata Darwin, blok tersebut sudah mengantongi persetujuan PoD (Plan Of Development) dari Pemerintah dan mempunyai cadangan awal sebesar 233,8 MMBO (million barel Oil) serta cadangan yang dapat diproduksi (recoverable reserve) sebesar MMBO.
“Rencana pengembangan ALL dilingkup pada studi amdal tahun 2012 dan telah memproleh izin lingkung (IL) pada tahun 2012. Target produksi 20.000-25.000 BPOD pada tahun 2018 mendatang,” jelas Darwin.
Disebutkannya juga mengenai rencana kegiatan Santos adalah pemasangan 1 anjungan kepala sumur yang tidak berpenghuni (wellhead paltfom un manned) tipe empat kaki yang disiapkan untuk 56 sumur. Selanjutnya adalah pemasangan rig pemboran (jackup rig) dan pemboran tahap pertama yakni 8 sumur pengembangan.
Santos akan menempatkan penempatan satu unit floating production storages Offloading (FPSO) di Blok Ande-Ande Lumut, Natuna, Kepri. Foto: sambuenergy.com
Santos akan menempatkan penempatan satu unit floating production storages Offloading (FPSO) di Blok Ande-Ande Lumut, Natuna, Kepri. Foto: sambuenergy.com
Kemudian untuk penempatan satu unit floating production storages Offloading (FPSO) yang dihubungkan dengan WHP menggunakan catenary (fleksible hose). Sistem kerja tetap menggunakan cos recovery. Untuk mendapatkan income yang besar, audit biaya kerja SKK Migas harus transparan. Sehingga jelas, tidak ada disembunyi-sembunyikan.
“Karena selama ini yang menjadi kekhawatiran adalah praktek mark up cos recovery. Sehingga berimbas pada kecilnya DBH yang diterima daerah,” ungkap Darwin.
Dalam rapat bersama operator dan pihak terkait, pihaknya juga menegaskan supaya tenaga kerja yang diserap adalah anak-anak daerah sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) sesuai dengan kapasitas yang mereka miliki. Dari rencan kerja tersebut, sesuai ketentuan yang ada daerah mendapat Participating Interest 10 persen dari produksi yang dilakukan operator.
“Jumlah ini yang akan dikelola oleh BUMD Provinsi dan Kabupaten dengan menggandeng perusahan-perusahan nasional yang bergerak dibidang Migas. Ini juga harus dimaksimalkan, sehingga memberikan kontribusi lebih bagi daerah,” tutupnya. (jpg)

Respon Anda?

komentar