Awe Ajak Ibu-Ibu Perkenalkan Makanan Olahan Sagu

814
Pesona Indonesia
Menu makanan olahan sagu di kedai Pak Bay, Daik Lingga. Foto: hasbi/batampos
Menu makanan olahan sagu di kedai Pak Bay, Daik Lingga. Foto: hasbi/batampos

– Lingga, sebagai satu-satunya penghasil sagu di Kepri dan menjadi penguatan pangan sejak berabad lalu, perlu diperkuat kembali. Salah satunya, dengan menjadikan makanan olahan sagu sebagai prodak unggulan daerah dan mengkreasikan olahan sagu dengan mengangkat nilai ekonomis dan promosi kuliner kekhasan lokal.

Hal tersebut turut dihimbau orang nomor satu di kabupaten Lingga, Alias Wello. Saat peresmian Rumah Tekat Tudung Manto di Kampung Mentok dan Rumah Sagu di Kampung Melukap beberapa waktu lalu, Awe panggilan Bupati Lingga ini mengajak ibu-ibu untuk semakin memantapkan olahan makanan sagu. Sebab, mulai tahun 2016, sejalan dengan program pemerintah pusat, sagu kini menjadi salah satu makanan pokok.

“Ibu-ibu, ayo kita angkat dan pekenalkan lagi makanan tradisonal kita olahan sagu,” kata Awe bersemangat.

Bukan hanya soal kearifan lokal ataupun sejarah dan pekerjaan sebagian besar warga pesisir selatan Pulau Lingga, namun sagu diketahui juga memiliki manfaat kesehatan yang tinggi. Rendah gula. Baik untuk penderita maag dan kolestrol. Begitu juga makanan olahan sagu yang telah membudaya di masyarakat, seperti laksa kuah dan goreng, kepurun, lambok, gubal, lempeng, tom yam, kripik, kue bangkit dan berbagai jenis olahan lain yang hanya tinggal perlu pengemasan menarik.

Beberapa waktu lalu, sambung Awe, investor asal India yang ia bawa ke Daik diajak melihat langsung lahan-lahan sagu di Lingga. Di Panggak Laut, Awe dan investor meninjau cara pengolahan tradisional. Begitu juga di pabrik tepung sagu di Kampung Seranggung.

“Investor takjub pengolahan tradisional kita, menghasilkan sagu putih yang bersih. Tidak pakai pengawet, tapi original. Jelaslah, karena air yang menyaring sagu kita air bersih langsung dari Gunung Daik,” tutur Awe.

Namun karena masih skala kecil dengan kapasitas 30 ton sagu perbulan di Seranggung, kata Awe, perlu ada upaya serius membenahi pabrik sagu lagi. Pabrik-pabrik skala rumah tangga, juga perlu mendapat penataan termasuk limbah yang sebenarnya bisa dimanfaatkan dan olah hingga turunannya menjadi pupuk dan biogas. “Untuk pasar, investor India siap menampung sagu kita, tapi produksi harus di tingkatkan minimal 300 ton perbulan,” jelas Awe (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar