Jalan Bak Medan Off Road, Bangunan Sekolah Tak Layak

672
Pesona Indonesia
Ilustras9
Ilustrasi

batampos.co.id – Di zaman modern seperti sekarang ini, masih juga ditemukan sekolah yang tidak layak digunakan di Kabupaten Bengkulu Utara (BU). Hanya saja, pihak sekolah terpaksa menggunakan lokal tersebut agar siswa tetap mendapatkan pendidikan yang layak.

Seperti yang terlihat di SDN 26 Ketahun, Desa Limas Jaya, Kecamatan Ketahun, Kabupaten Bengkulu Utara (BU). Setidaknya ada 3 lokal tidak layak di sekolah yang memiliki siswa 235 orang ini. Berdasarkan keterangan Kepala SDN 26 Ketahun, Edi Sutrisno SPd, terakhir mendapatkan bantuan perbaikan bangunan sekolah tahun 2009.

Saat itu hanya 4 lokal termasuk ruang guru yang mendapatkan perbaikan. “Tahun 2009 terakhir mendapatkan bantuan, sekarang kami masih berusaha mengajukan bantuan ke Dikbud untuk tiga lokal bisa dikatakan tidak layak untuk suasana belajar,” jelas Edi.

Kondisi tiga lokal tersebut dibangun secara swadaya pihak sekolah dan orang tua murid. Dengan dana seadannya begitu juga bahan bangunannya, saat ini kondisi tiga lokal tersebut semakin memprihatinkan. Tidak terlihat keramik putih seperti lokal kelas pada umumnya, terlebih lagi plafon dan tembok. Hanya papan usang yang menutupi lokal kelas, atap dari seng sudah mulai dimakan karat. Kondisi semakin parah jika hujan deras, atap tidak sanggup menahan derasnya air hujan dan masuk ke dalam ruang kelas. Sementara pihak sekolah tidak berani mengambil uang komite, mengingat ekonomi masyarakat sekitar yang masih menengah ke bawah.

“Tidak berani mengambil uang komite, ekonomi masyarakat disini masih di bawah garis kemiskinan. Siswa kami masih ada beberapa yang memakai sendal, tidak kuat beli sepatu,” imbuh Edi.

Jumlah guru yang mengajar di SDN 26 Ketahun ada 16 orang, 7 orang PNS, satu GBD dan sisanya honorer. Tantangan guru untuk pergi ke sekolah patut menjadi contoh bagi guru yang sudah menikmati jalan halus namun masih malas pergi mengajar.

Sebagian besar guru yang mengajar di SDN 26 Ketahun menemupuh jarak 24 sampai 12 kilometer. Dengan kondisi jalan parah sekitar 8 kilometer, jangan harap menemukan aspal atau batu di ruas jalan tersebut.

“Jarak dari rumah sekitar 2 jam lebih jika hujan, lebih singkat jika jalan kering. Mobil bisa masuk tapi pakai yang double gardan. Jika pakai sepeda motor bannya harus pakai rantai,” ungkap Edi.

Sarpan (45), salah satu warga sekitar mengaku sudah lama menikmati jalan rusak ini. Terlebih lagi anaknya menuntut ilmu di SDN 26 Ketahun. Sangat disayangkan, baik fasilitas jalan dan sekolah kurang layak. Sementara semangat untuk mendapatkan pendidikan sangat tinggi.

“Lupa saya kapan jalan ini dibangun, kalau sekolah dibangun tahun 2009. Jika anak saya malas, sudah lama dia tidak mau sekolah,” tutup Sarpan.(JPG)

Respon Anda?

komentar