Kapal Induk Amerika Patroli di Laut Natuna

1995
Pesona Indonesia
Kapal Induk Amerika dikawal beberapa kapal penghancur. Foto: istimewa
Kapal Induk Amerika dikawal beberapa kapal penghancur. Foto: istimewa

batampos.co.id – Klaim laut Cina Selatan hingga wilayah perairan Natuna dan perairan sejumlah negara oleh Cina saat ini masih belum usai. Ketegangan pun masih terus berlangsung. Bahkan, Amerika ikut campur dengan mengirim kapal induknya.

Selasa (26/4/2016) lalu, kapal induk Amerika melintas di dekat perairan Natuna.

Danlanal Ranai, Kolonel Laut (P) Arif Badrudin membenarkan, saat ini kapal induk angkatan laut Amerika Serikat  (Mother Ship) sempat melintas di perairan Natuna, namun kini sedang berlayar di laut Cina Selatan.

Kapal induk negara adikuasa itu dikawal kapal Tabir Fregrat dan helikopter jenis Black Hawk, serta pesawat fighter. Melintas sekitar 5 nautical miles dari dari FPSO Platform Anoa Premier Oil Natuna.

Namun kata Dandalanal, kapal induk angkatan laut Amerika Serikat yang berlayar di laut Cina Selatan memiliki misi yang sudah diberitahukan kepada pemerintah RI. Bahkan TNI AL mengerahkan dua armada perang untuk mengawal kapal induk itu saat melintas di perairan Natuna. Yakni KRI Sultan Thaha Syaifudin-376 dan KRI Slamet Riyadi-352.

“Kapal perang Amerika Serikat berlayar dalam rangka Operasi Freedom Of Navigation (FON) di perairan Laut Tiongkok Selatan, “kata Danlanal Ranai, Kamis (28/4/2016).

Operasi ini jelasnya, ditujukan untuk menchallenge klaim Cina yang berlebihan atas perairan tersebut dengan cara berlayar di perairan yang diklaim Cina.

Saat ini kata Arif, tidak ada insiden yang memanas.  Angkatan Laut Amerika secara periodik melaksanakan operasi Freedom Of Navigation untuk menentang klaim wilayah perairan yang berlebihan yang dilakukan negara pantai itu. Operasi ini dilakukan di berbagai belahan dunia seperti di Teluk persia, Libya dan termasuk Laut Cina Selatan.

“TNI AL sendiri sudah melakukan koordinasi dan melakukan shadowing terhadap gugus tugas tersebut,  mengerahkan beberapa KRI, seperti KRI Sultan Thaha Syaifudin-376 dan KRI Slamet Riyadi-352,” jelas Arif Badrudin. (arn)

Respon Anda?

komentar