Perairan Filipina Selatan Dikuasai Abu Sayyaf

691
Pesona Indonesia
Militan Abu Sayyaf. Foto> N Butlangan/AP
Militan Abu Sayyaf. Foto> N Butlangan/AP

batampos.co.id – Pakar Hubungan Internasional Hikmahanto Juwana berpendapat bahwa agenda tersebut tidak akan membawa efek jangka pendek.

Menurutnya, perteman tersebut bakal fokus membahas pencegahan perompakan. Sedangkan, persoalan sandera 14 WNI akan dibicarakan secara sembunyi-sembunyi tanpa pengetahuan publik.

’’Ini kan upaya mencari solusi yang tepat. Mungkin akan operasi militer. Tapi seperti yang sudah saya bilang, Filipina jelas tidak akan memasukkan militer Indonesia ke wilayahnya. Asumsinya operasi militer terkoordinasi seperti skema Malsindo (Malaysia, Singapura, Indonesia),’’ ungkapnya.

Dia menegaskan, operasi tersebut diakui tak akan berpengaruh signifikan. Pasalnya, akar permasalahan jelas ada di wilayah pemerintah Filipina. Namun, dia menilai bahwa kekuasaan pemerintah Filipina terhadap perairan Filipina Selatan hanya dalam aspek de jure. Secara de facto, wilayah Kepulauan Sulu masih dikuasai oleh kubu Abu Sayyaf.

’’Karena itu kan mereka melakukan operasi militer di Basilan dan sekarang ke Pulau Jolo. Itu karena mereka ingin menumpas para pemberontak,’’ tegasnya.

Sementara itu, Pemerintah Filipina memilih untuk terus memperbesar skala operasi militer dengan terbunuhnya John Ridsdel. Menurut lansiran situs berita Inquirer, korban jiwa kelompok Abu Sayyaf bertambah 14 jiwa dengan bombardiri artileri yang dilakukan oleh militer di Pulau Jolo. Operasi tersebut dilakukan dengan tank howitzer dan bantuan serangan udara.

’’Sebagai hasilnya, kami berhasil menduduki kemah penyanderaan sebelumnya. Disana, kami menemukan bagian tubuh Ridsdel,’’ ujar juru bicara militer Filipina Noel Detoyato.(bil/jpgrup)

Respon Anda?

komentar