AADK (Ada Apa Dengan Kita?)

Oleh : Husnizar Hood

1340
Pesona Indonesia

Saya masih sendiri, seperti minggu kemarin, setelah lebih sebelas atau dua belas hari tidak bertemu dengan sahabat saya yang selalu saya panggil Datok itu rasanya kok tanpa dia mulai biasa-biasa saja rasanya. Beda dengan kemarin-kemarin, selang sehari dua saja tidak bertemu dengannya seperti hendak meletup kepala ini. Banyak yang menggumpal di dalam kepala otak dan itu harus diceritakan atau dibahas berdua dengannya. Anehnya kalau saya sedang nyaman dan malas berpikir banyak tentang apa yang terjadi pada negeri ini, dia pula yang datang bertemu dengan saya membawa segudang cerita dan harus kami bahas berdua juga.

Sejak lebih seminggu kemarin itu kami tak bertemu, katanya ia sibuk dengan pekerjaannya, maklumlah kawan saya itu memang seorang pegawai – makan gaji – hanya soal dia itu seprang pegawai negeri atau pegawai swasta itu haruslah saya rahasiakan rapat-rapat, saya sudah berjanji kepadanya, tak baik untuk dibuka disini, kasihan nasibnya, beda dengan saya, hampir semua orang tahu, Mahmud itu pengangguran, kalaupun ada pekerjaannya turun ke laut menangkap ikan sekedar untuk makan tapi ia tak diakui juga sebagai nelayan, KTP nya tertulis swasta, kalau nelayan itukan ada kelompoknya, ada alat-alatnya. Saya hanya punya pancing dan sekalimat dua atau lebih, serapah warisan datuk nenek, karena itu kawan saya yang bijak dan sealu saya panggil Datok itu menjuluki saya punya “penganyir”, artinya kalau memancing itu selalu dapat ikan, hebat memancingnya. Saya senyum-senyum saja.

Saya pernah menawarkan pekerjaan saya seniman, pegawai kantor kecamatan itu senyum-senyum saja dan aaya merasa risih dan sedikit emosi.

Kadang-kadang saya terusik juga dengan kelaku kawan saya itu, kalau dia suntuk susah payah dia mencari saya tapi lebih seminggu ini dia lenyap bagai ditelan bumi. Entah kemana, di telepon dan SMS tak berbalas. Jangan-jangan dia mulai lagi dengan penyakit lamanya, obsesinya menjadi “mata-mata”, intelejen konon, makanya kadang-kadang kalau dia sedang bercerita kan sepertinya dia tau semua hal, banyak informasi.

Entah-entah, ini tak menuduh, jangan-jangan, misalkan ia sedang menyelidiki kejadian demo di kantor Gubernur kemarin, siapa dalangnya, siapa motor penggeraknya, siapa sponsornya, karena kalau dilihat secara kasat mata bisa jungkir balik kita dibuatnya, ada adik beradik berdepan-depan, bereteriak seperti siap berperang, sang abang membela yang sebelah dan sebelah lagi si adik pula pasang badan. Ada apa dengan Kita?

Kalau ada si Datok tu saya mau katakan dengannya semua kejadian di negeri kita yang sedang di rundung duka ini pantas kita bertanya AADK (ada apa dengan kita?)

Saya masih ingat tahun 1998 setelah peristiwa reformasi saya bertemu dengan seorang yang saya hormati beliau hingga hari ini, saya sebut saja namanya Raja Aziz dia menjabat Walikota Batam waktu itu, pasca Reformasi banyak melahirkan partai-partai politik, Pak Aziz itu bilang kepada saya “Mud, kasi taulah kawan-kawan sekarang banyak lahir partai dan ke depan bangsa ini akan menjadi negara yang demokratis dan partailah yang berperan penting, ambil dan jadi ketua partai”, ucapnya. Saya hanya mendengar dan tersenyum dan kagum, saya sampaikan juga pesan itu ke kawan-kawan lainnya, mereka mendengar tersenyum-senyum saja, mungkin menahan tasa, takut saya tersinggung, mereka sebenarnya mau mentertawakan saya. Sok mengurus negara.

Dan kini semua melalui partai, dan kemarin saya dengar ada yang marah-marah dengan partai, menuduh partai tak punya nurani, mengajak bertemu hendak mengatur kebijakan partai, mengancam daripada kita ribut-ribut. Woi….!!!, kenapa pakai kata ribut-ribut? Terus kalau pakai kata ribut-ribut kita pikir orang lain takut?

Kita selalu berpikir kita hidup di zaman orang penuh dengan ketakutan padahal hari ini orang hidup dengan tanpa takut sama sekali. Yang dulu hidup dibawah ketiak emaknya sekarang sudah berani brontak. Ada Apa Dengan Kita?

Sedikit terainggung, sedikit tak berkenan, tak lengah kita menggalang demo, tak peduli apa tujuan demo itu, padahal kita tau 90% demo itu cuma dapat penat dan nasi bungkus, syukur-syukur ada pengganti uang transportasi. Kita sebenarnya bisa melakukan hal lain misalnya mengaajak orang akan kita demo itu berdiskusi, mengurai masaalah, kita beri solusi. Kita kasi masukan, kita ngotot bertahan dengan alasan-alasan yang munasabah. Insha Allah lebih ada manfaatnya.

Tapi kita memilih demo dan kita duduk di kedai kopi dengan dua handphone di tangan kanan dan kiri,  kita bangga disebut sebagai otak pelaku, provokator, batu api. Kita sumringah dituduh dengan julukan itu padahal tanpa kita sok menjadi pengatur gerak itu orang semua sudah tau kita memang hanya bisa kerjanya itu. Kita merasa menjadi pahlawan dan kita berharap orang akan segan dan kita bisa makan.

Kita benturkan dua kepentingan dengan beradu marah. Padahal kita tau tak ada marah yang bisa menyelesaikan masaalah, orang yang ramah yang mampu menjelajah, kenapa tak melakukan hal-hal yang ramah.

Ada lagi yang dengan mudah merendahkan orang lain, orang kecil mentang-mentang badannya besar. Dalam pikirannya apa yang dilakukannyalah yang benar, tak peduli ada Undang-undang ada peraturan baginya, dalam kepala otaknya “pokoknya”, apapaun yang kita sampaikan”pokoknya”.

Ada yang salah dengan kita, sayang kawan saya itu tak ada. Kalau dia ada pasti suaranya yang paling melenting. Kita haus kekuasaan padahal kekuasaan itu bukan jaminan kita bisa melakukan kebaikan, kekuasan itu dekat dengan hal-hal yang mudharat, apalagi kita memulainya dengan jahat. Memaksakan kehendak.

Setelah 18 tahun reformasi, kita hanya bagai anak sekolah tamat SMA , kita baru bisa corat-coret baju dan ngebut-ngebut di jalanan. Dan kita terus mencorat-coret negeri ini dengan tinta kekacauan. Yang kalah tak pernah menyerah dan yang menang tak mau menyayang. kita kehilangan Cinta. Ah, mungkin itu yang lebih tepat untuk menjadi bahan pertanyaan kepada kita Ada Apa dengan Cinta? Kita kehilangan rasa cinta itu, semuanya kita pandang bermula dengan kecurigaan dan selanjutnya kebencian.

Seperti 14 tahun lalu kisah Rangga dan Cinta, benci yang menjadi rindu, mereka gagal Move on, masih CLBK (cinta lama belum kelar)

Di negeri kita nampaknya begitu juga kita gagal berpindah tempat, kita ingin tetap bertajan ditempat yang nyaman yang selama ini kita tempati, itu saja, hanya itu yang kita bisa, karena itu kita memaksanya, tempat dimana kita bisa melakukan apa saja yang ingin kita lakukan. Kita tetap ingin jadi orang penting, kita ingin tetap berkuasa, padahal Tuhan mungkin sudah menganggap kita tak penting dan berani kita memaksa Tuhan?

Ada Apa Dengan Kita? Sudahlah semua sudah digariskan Tuhan jangan sampai Tuhan menggaris nama kita dan usailah semuanya. Sayang kawan saya itu tak ada.

Respon Anda?

komentar