Dana Pemeliharaan Belum Cair, Lampu Jalan di Daik Dibiarkan Padam

654
Pesona Indonesia
Pekerja melakukan perbaikan jaringan pada salah satu tiang listrik di jalan Ahmad Yani Kecamatan Bukit Bestari Tanjungpinang, belum lama ini. Di ibukota provinsi Kepri itu masih banyak warga yang belum menikmati listrik. Foto:Yusnadi/Batam Pos
lampu jalan. Foto:Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Puluhan titik lampu penerangan jalan ibukota Daik Lingga mati sehingga membuat jalan gelap gulita. Lampu-lampu jalan rusak akibat tidak adanya perawatan.

Pantauan Batam Pos dilapangan, mulai dari komplek kantor pemerintahan, Jalan Robat, Sawah Indah, Kampung Pahang, Kampung Putus, Jalan Masjid Sultan, Kampung Siak, Kampung Mentok, Gelam, Kampung Cina Pasar Daik, Tanda Hilir, Seranggung dan Tanda Hulu, lampu-lampu penerangan jalan banyak yang rusak. Simpang-simpang jalan tempat akses masyarakat dibiarkan padam. Hal ini membahayakan warga pejalan kaki dan bersepeda saat malam hari.

Abang Agus Karyadi, Camat Lingga yang ditemui Batam Pos di sela-sela kegiatan LKPJ 2015 Bupati Lingga mengatakan, hingga triwulan ke dua, dana pemeliharaan lampu jalan penerangan ibukota belum cair. Hal ini, membuat pemerintah kecamatan tidak dapat bebuat banyak.

“Dana pemeliharaannya belum cair. Biasanya ada setiap tahun. Jadi yang rusak belum dapat diperbaiki,” ungkapnya.

Kondisi ini diakui Agus cukup menghawatirkan. Setiap tahun, anggaran pemeliharaan lampu jalan berkisar Rp 200 juta. Sayangnya, anggaran sebesar itupun tak mampu membuat perawatan berlangsung maksimal. Dalam setahun, lampu-lampu jalan tetap saja rusak. Lebih parah lagi, sampai saat ini belum ada penambahan lampu jalan padahal dana Rp 200 juta tersebut untuk seluruh Kecamatan Lingga. Mencakup 11 desa dan kelurahan termasuk Pekajang, Kelombok, Mepar, Panggak Darat, Panggak Laut, Musai, Nerekeh, Merawang, Kelumu, Kelurahan Daik dan Mentuda.

Sementara itu, penerangan lampu jalan hanya difokuskan di pusat ibukota Daik dan sebagian desa tetangga yakni Merawang. Sedangkan jalan-jalan lainnya diluar pusat ibukota, tetap dibiarkan gelap tanpa ada penerangan. “Kita fokuskan di pusat ibukota dulu. Kita sudah ajukan penambahan untuk 180 titik, tapi belum ada sampai sekarang,” sambungnya.

Ditempat lain, Awang salah seorang warga Panggak Darat mempertanyakan kondisi penerangan jalan. Tidak hanya di desanya yang gelap dan jalan tembus tanpa penerangan tetapi di pusat kota penerangan jalan juga tidak banyak yang berubah sejak masih berstatus kecamatan dulu. Padahal kata Awang, setiap kali membayar rekening tagihan listrik, beban lampu penerangan jalan harus di tanggung seluruh masyarakat.

“Setiap bulan kita bayar, tapi lampu jalanpun tidak pernah ada di jalan kami. Pusat ibukota, juga gelap. Bagaimana ini,” kata Awang. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar