Gubernur BI Optimis Semester Kedua 2016 Ekonomi Indonesia Tumbuh lebih dari 5 Persen

1628
Pesona Indonesia
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: istimewa
Ilustrasi pertumbuhan ekonomi. Foto: istimewa

batampos.co.id – Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo yakin tahun ini pertumbuhan ekonomi bakal terus bangkit dan melaju dari keterpurukan.

”Untuk tahun 2016, perekonomian Indonesia diprakirakan tumbuh 5,2-5,6 persen dan terus berada dalam tren yang meningkat dalam jangka menengah,” ujarnya.

Staf Khusus Wakil Presiden bidang Ekonomi dan Keuangan Wijayanto Samirin menambahkan, berdasasr proyeksi BI maupun lembaga keuangan internasional, perekonomian Indonesia pada 2016 memang menunjukkan potensi pemulihan setelah beberapa tahun terakhir melambat.

“Apalagi, data-data di awal tahun ini, semuanya menunjukkan optimisme,” ucapnya.

Sebagaimana diketahui, BI memproyeksi ekonomi Indonesia pada 2016 bakal tumbuh di kisaran 5,2–5,6 persen. Adapun Bank Dunia memproyeksi angka 5,1 persen dan International Monetary Fund (IMF) hanya 4,9 persen. Sementara pemerintah dalam APBN 2016 maupun Rancangan APBN Perubahan 2016 tetap mematok target 5,3 persen. Semuanya lebih tinggi dari realisasi pertumbuhan ekonomi 2015 yang hanya 4,79 persen.

Menurut Wijayanto, beberapa indikator yang menunjukkan grafik peningkatan di awal tahun ini di antaranya adalah peningkatan setoran Pajak Pertambahan Nilai (PPN), naiknya konsumsi listrik, serta naiknya penjualan ritel. Nah, karena konsumsi memegang porsi 60 persen dari ekonomi Indonesia, maka naiknya konsumsi bakal mendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Optimisme juga datang dari para pelaku bisnis. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B Sukamdani mengakui sekarang ini pemerintah terlihat serius menggerakkan ekonomi nasional dan memperkuat industri. “Kita merasa pemerintah serius membantu para pengusaha untuk berbisnis di Indonesia. Hal itu terbukti dari banyaknya paket kebijakan ekonomi,” ujarnya.

Selain itu, keseriusan pemerintah juga terlihat dari gencarnya pembangunan infrastruktur di berbagai daerah. Oleh karena itu, ia menilai sebagian paket kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sudah mulai berjalan.

Head of Analyst PT MNC Securities, Edwin Sebayang, melihat tanda-tanda pertumbuhan perekonomian mencapai 5,15 persen pada awal tahun semakin terlihat. Meski begitu, dari indikator yang ada, kecepatan perbaikan ekonomi belum sesuai harapan. Sebab penjualan otomotif terutama mobil yang selama ini menjadi proksi (perwakilan) pertumbuhan ekonomi, lalu penjualan properti, semen, dan barang konsumsi harian masih lambat. ”Kita lihat kinerja PT Unilever Tbk (produsen barang kebutuhan harian) masih flat,” ujarnya.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan mobil secara nasional menurun sebesar 5 persen menjadi 267 ribu unit pada kuartal pertama 2016. Sedangkan Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI) melaporkan pasar kendaraan roda dua secara nasional turun 6 persen menjadi 1,5 juta unit.

Barang konsumsi yang mencatatkan kenaikan justru datang dari produk yang diistilahkan tidak riil seperti pulsa baik untuk telepon maupun data. Tercermin dari cemerlangnya kinerja industri telekomunikasi yang terepresentasi oleh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM). ”Ya itu juga baik. Tapi seberapa lama dan kuat pertumbuhan di sektor tersebut? Bagaimanapun yang kita harapkan pertumbuhan dari sektor riil yang tahan lama; mobil, motor, properti, itu yang bisa confirmed bahwa akan ada pertumbuhan ekonomi lebih kuat,” ulasnya. (dee/owi/gen/jpgrup)

Respon Anda?

komentar