Hari Tari Sedunia, Ini Harapan Para Penari

767
Pesona Indonesia
Aksi para penari PLS Sanggam pada helatan Gawai Seni Tanjungpinang, akhir pekan lalu. Para penari berharap Hari Tari Dunia menjadi momentum agar karya seni bisa makin diapresiasi. F. Fatih Muftih / Batam Pos
Aksi para penari PLS Sanggam pada helatan Gawai Seni Tanjungpinang, akhir pekan lalu. Para penari berharap Hari Tari Dunia menjadi momentum agar karya seni bisa makin diapresiasi. F. Fatih Muftih / Batam Pos

batampos.co.id – Tidak ada manusia yang lahir dan seketika membawa naluri menari. Laksana kertas putih, manusia siap ditulis menjadi apa dalam hidupnya. Bahkan menjadi penari. Menekuni olah gerak tubuh menjadi nilai-nilai. Manifestasi laku sehari-hari pada igal yang tak jua terhenti.

Karena itu, 28 April pun ada. Dunia menyepakati tarikh ini sebagai hari raya bagi seluruh penari di penjuru negara. Tak peduli etnis, warna kulit, jenis rambut, tinggi badan, seluruhnya meluruh dan melebur memberi penghormatan bagi para penari di muka bumi.

Lantas, apakah tari itu? Mengutip definisi Atik Sopandi tentang tari, ia menyebut seni tari adalah ekspresi jiwa manusia melalui gerakan ritmis atau ide tertentu.

Ada lema ekspresi jiwa di situ. Teori ini semakin menasbihkan bahwasanya tari tidaklah sama dengan gerak badani sehari-hari. Namun, mesti mengusung nilai. Kaki yang berjinjit ada nilainya. Langkah yang merentak punya maknanya. Begitulah seni tari, digagas dan disusun sebagai komposisi ekspresi atas nilai-nilai bahari.

Di India, perayaan Hari Tari Dunia tahun ini dilakukan di sebuah panggung besar dengan menampilkan tarian-tarian khas India. Bertemakan “No Boundaries”, pertunjukan musik yang tercatat sebagai yang terbesar di tahun ini merupakan bagian dari usaha rakyat India melestarikan budaya mereka melalui pertunjukan tari.

Dikutip dari sebuah referensi, hari tari dunia pertama kali dicanangkan di tahun 1982 oleh lembaga tari internasional CID–Counseil Internasional de la Danse. Tujuannya adalah untuk mengajak seluruh warga dunia berpartisipasi untuk menampilkan tarian-tarian negara mereka yang jumlahnya beragam.

Di tahun 2003, Professor Alkis Raftis yang saat itu menjadi Presiden CID mengatakan bahwa pelestarian budaya menari masih sangat minim. Tidak ada lembaga atau organisasi yang mendanai bidang seni tersebut secara memadai, tidak ada pendidikan seni tari, sehingga ketertarikan warga untuk menekuni bidang tari masih sangat rendah.

Bersama-sama dengan UNESCO, CID menjadi wadah bagi para warga dunia untuk mementaskan pertunjukan tari dari budaya mereka. Dengan begitu diharapkan semua generasi muda dapat terus melestarikan budaya melalui seni tari.

Di awal tahun 2007, promosi untuk merayakan Hari Tari semakin gencar dilakukan. Dengan berfokus pada anak-anak, lembaga tari internasional CID meminta seluruh anak sekolah untuk berpartisipasi dalam lomba menulis esai tentang tarian di negara mereka, melukis bertemakan tari, bahkan lomba menari yang dilakukan di jalanan.

Sejak saat itu, Hari Tari Dunia semakin diapresiasi warga sehingga banyak pertunjukan tari diadakan untuk memeringati hari tersebut. Namun, tidak ada perayaan seremonial peringatan hari tari dunia di Tanjungpinang. Kamis (28/4) kemarin segalanya begitu biasa. Yang ramai hanya di linimasa dunia maya. Ada banyak penari yang meluahkan harapan-harapannya sempena Hari Tari Dunia.

Rahmie Hamidi, penari PLS Sanggam Tanjungpinang, menuliskan bahwasanya menjadi penari dalam hidupnya adalah pilihan paling berani yang pernah diambil. “Karena tidak ada darah seni dalam keluarga,” ucap perempuan yang tanggal kelahirannya pun sama dengan Hari Tari Dunia ini.

Mulut bisa saja berdusta, tapi hati tiada bisa. Kecintaan Rahmie pada tari membawanya tetap melakoni kesepian ini dengan berani. Sekali pun sudah dikaruniai seorang anak, Rahmie tetap menyempatkan diri untuk berlatih menari atau memgajar tari sekala-sekali dalam satu pekan.

Bayarannya? Pertanyaan semacam ini selalu bikin Rahmie tertawa. Karena baginya, ada kepuasan yang melebih nominal kala berkesempatan menari di atas panggung. Rahmie mengaku benar-benar merasakan itu. “Itulah makanya, kalau habis menari dapat tepuk tangan saja kami sudah merasa senang sekali. Artinya, tarian kami menghibur, diapresiasi dan bisa dinikmati,” ungkapnya.

Makna Hari Tari Dunia? Rahmie hanya menginginkan agar seni, apa pun itu, tidak dipandang sekadar sebagai pemanis-manis hidup. Seni tari, kata dia, harus punya tempat istimewa di hati setiap manusia. “Tari itu bergerak. Manusia mana yang tidak bergerak. Bayangkan kalau sepanjang hari kita hanya diam di atas kasur saja,” ucapnya.

Sama halnya dalam benak Vivi Yuliandari, penari Sanggar Tuah Pusaka Bintan Timur. Dalam sanubarinya, menari telah menjadi jalan hidup yang sulit baginya untuk diingkari. Sedari kecil ia menempa kemampuannya agar mampu menyajikan olah gerak tubuh yang bukan hanya menghibur tapi bernilai. “Ya, walaupun kadang nilai ekonomisnya rendah sekali. Tapi penari mana yang bisa menolak panggung,” ungkapnya.

Cinta tak bersyarat pada tari malah telah menguatkan Vivi. Memberinya banyak pelajaran sekaligus perjalanan spiritual yang tak tepermanai. “Dulu, aku gak tahu apa itu Melayu. Tapi menari malah bikin aku banyak tahu tentang Melayu,” kata mahasiwi ini.

Tidak ada harapan yang lebih baik, kata Vivi, sempena Hari Tari Dunia ini melebihi keinginan untuk tetap memajukan seni tari berlandaskan nilai-nilai budaya Melayu. Menurutnya, seluruh penari di muka bumi ini punya tanggung jawab besar yang sama. Memajukan seni tari dengan kearifan lokalnya masing-masing. “Dan aku pilih Melayu,” tegasnya.

Menyimak harapan Rahmie dan Vivi sempena Hari Tari Dunia adalah menyaksikan betapa seni tetap hidup di hati. Tak peduli seberapapun kerasnya kehidupan. Karena seni itu panjang dan punya daya menghaluskan yang tak mudah lekang.

Karena itu, penari kawakan Tanjungpinang, Peppy Chandra menilai, sudah sepatutnya masyarakat, apa pun lapisan dan latar belakangnya, mulai membuka mata. Melihat kenyataan bahwasanya seni adalah entitas mutlak dari kehidupan. “Jangan sampai lagi masih ada yang minta gratisan,” ungkap Peppy.

Tari Persembahan, misalnya. Selama ini, kata Peppy, tari yang nyaris wajib pada setiap kegiatan ini senantiasa dipandang penuh cemeeh. Sang empunya gawai kadang-kadang memberi harga kelewat murah. Yang bahkan, kata Peppy, untuk biaya dandan saja para penari saja bisa tidak mencukupi.

Paradigma jadi kunci. “Melek budaya, istilahnya. Dengan begitu bisa mengapresiasi seni dengan baik. Ini bukan lagi hitungan mahal atau murah. Tapi, soal apresiasi. Betapa menjadi penari itu tidak pernah mudah,” tegas pendiri PLS Sanggam ini.

Sudah lebih dari tiga dekade, Hari Tari Dunia dirayakan. Sudah saatnya, tari naik kelas jadi primadona yang bukan melulu tentang pelengkap, tapi makanan inti bagi hati. Selamat Hari Tari Dunia.(muf/bpos)

Respon Anda?

komentar