Bom Meledak di Kawasan Oval Plaza, Filipina Makin Memanas

520
Pesona Indonesia
Tentara Filipin terus memburu militan Abu Sayyaf dan jaringannya. Foto: istimewa
Tentara Filipin terus memburu militan Abu Sayyaf dan jaringannya. Foto: istimewa

batampos.co.id – Situasi politik di Filipina makin memanas jelang pemilu nasional pada 9 Mei nanti.

Seiring hal tersebut, keamanan Filipina juga terus goyah dengan isu penyanderaan Abu Sayyaf sebagai bagian dari kelompok separatis. Salah satunya, pengeboman yang terjadi di Kota General Santos Jumat lalu (29/4/2016).

Inquirer melansir sekelompok orang telah meledakkan bom di kawasan Oval Plaza, General Santos, pukul 12.30 waktu setempat. Ledakan tersebut diakui berasal dari kompartemen sepeda motor yang diparkir di wilayah tersebut.

’’Tiga sepeda motor yang terletak dekat bom terkena dampak langsung. Namun, kami tidak menemukan adanya korban manusia dari insiden ini,’’ ujar Direktur Kepolisian Mindanao Tengah Noel Armilla seperti dilansir situs berita tersebut.

Hingga saat ini, lanjut dia, otoritas masih melakukan penyidikan terkait kasus ini. Pasalnya, sampai saat ini masih belum ada pihak yang mengklaim aksi tersebut.

’’Ahli bahan peledak kami masih meniliti tentang tipe peledak yang dilakukan. Kami juga sedang melacak siapakah yang dibalik insiden ini,’’ terangnya.

Meski belum terdapat keterangan resmi, insiden ini dikaitkan dengan terbunuhnya dua anggota Ansarul Khilafah Philippines (AKP). Kelompok simpatisan ISIS itu juga diduga berkaitan dengan Kelompok Abu Sayyaf yang menjadi perhatian internasional satu bulan ini.

Menurut situs berita The Manila Times, dua anggota tersebut terbunuh pada Kamis (28/4/2016) saat pasukan elit kepolisian melakukan penyerbuan di tempat persembunyian AKP tersebut di Kota Massim, Provinsi Sangarani. Tempat itu berjarak sekitar 54 kilometer dari lokasi pengeboman yang dilakukan keesokan harinya.

’’Operasi yang dilakukan dengan kerjasama beberapa instansi telah sukses untuk mengamankan markas mereka usai kontak senjata,’’ imbuhnya.

Sementara itu, Angkatan Bersenjata Filipina mengaku masih kukuh untuk melakukan operasi militer di Kepulauan Sulu.

Dalam lansiran situs berita CBC, Juru Bicara Tentara Filipina Restituto Padill Jr, mengaku operasi tersebut diakui karena pihaknya meragukan negosiasi menjadi cara tepat untuk menyelamatkan sandera asing. Terutama, dari negara-negara maju seperti John Ridsdel dan kawan.

’’Saya kira mereka menilai bahwa sandera asing terutama warga Kanada dan Norwegia punya nilai yang lebih tinggi. Jadi, negosiasi tebusan tak akan mendapatkan hasil baik. Karena itu, kami menerapkan tekanan agar mereka harus terus bergerak dan lama-lama melepaskan sandera agar mereka lebih leluasa melarikan diri,’’ ungkapnya.

Dia tak menampik terkait kemungkinan membunuh sandera daripada melepaskan saat didesak. Namun, Padilla meyakinkan bahwa keselamatan sandera masih menjadi prioritas nomor satu otoritas Filipina.

Sementara itu, Pengamat Hubungan Internasional Teuku Rezasyah masih menilai bahwa pembelaan Filipina masih tak masuk akal. Dengan melakukan tekanan, tentu saja kelompok separatisme yang diprovokasi bisa bertindak ekstrim. Hal tersebut sudah dibuktikan dengan terbunuhnya John Ridsdel.

’’Setelah kelompok John Ridsdel mendapatkan respon usai ancaman, saat ini pemerintah Malaysia juga kebingungan menghadapi tenggat waktu yang dikatakan hari ini. Jika Filipina masih bermain api, tentu kelompok separatis merespon keras,’’ ungkapnya. Sayangnya, hingga saat ini belum ada kejelasan tentang nasib empat sandera warga Malaysia yang menghadapi tenggat waktu penebusan.

Terkait keselamatan WNI, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha masih pelit bicara. Dia hanya menegaskan bahwa informasi terakhir yang diterima bahwa 14 WNI masih hidup. Namun, pihaknya belum mau mengungkapkan detil tentang lokasi terbaru mereka. (bil/jpgrup)

Respon Anda?

komentar