Mengenal Unit Satwa K-9 Polda Sumsel, Pernah Ada Berpangkat Kapten

599
Pesona Indonesia
Ilustrasi. Foto: Dokumen Batam Pos
Ilustrasi. Foto: Dokumen Batam Pos

ANJING kerap dijadikan sahabat oleh manusia. Ada yang dirawat sebagai teman bermain di rumah. Ada pula memeliharanya di luar rumah untuk berjaga-jaga dari tindak kejahatan. Lalu, bagaimana dengan anjing yang menjalankan tugasnya di kepolisian?

—-NOVI HARIYANTO, Palembang—

SUARA gonggongan anjing saling bersahutan di markas Unit Satwa K-9 Polda Sumsel. Pagi itu, wartawan koran ini berkesempatan melongok aktivitas anjing-anjing K-9. Terlihat ganas. Taring mereka tajam, bikin keder siapapun.

Direktorat Sabhara Polda Sumsel memang dilengkapi fungsi pendukung Unit Satwa K-9. Disebut K-9 (K-Nine) karena homophone dengan canine, yang artinya taring. Kesatuan ini merupakan tulang punggung keberhasilan Polri, khususnya Polda Sumsel dalam mengungkap berbagai kasus.

“Saat ini kami memiliki 11 anjing pelacak,” ujar Ipda Suparno, Kasubnit Pelacakan dan Penangkalan (Cakkal) K-9 Polda Sumsel. Masing-masing dari jenis Rottweiler (Jerman), Golden Retriever (Inggris), Labrador Retriever (Amerika Serikat), Herder atau Shepherd (Jerman), dan Melanois (Belgia).

Semuanya punya nama, usia, dan keahlian. Juga ada sertifikatnya. Trool (betina/10 tahun), Alfa (jantan/10 tahun), Quanda (betina/5 tahun), dan Essy (betina/5 tahun). Semuanya dari trah Rottweiler. Punya keahlian pelacakan umum (cak-um) dan pengendalaian massa (dalmas).

Lalu, ada Bento (jantan/10 tahun) dan Buddy (jantan/10 tahun). Keduanya dari jenis Golden Retreiver. Keahliannya juga cak-um dan dalmas. Kemudian, Alfanso (jantan/10 tahun) dari trah labrador. Keahliannya pelacakan narkoba (cak-nar).

Ada juga Aldo (jantan/6 tahun), Arow (jantan/ 5 tahun), dan Quilk (jantan/2 tahun). Ketiganya dari trah Herder. Keahliannya cak-um dan cak-nar. Serta ada Tosca (betina/4 tahun) dari trah melanois. Keahliannya, search and rescue (SAR).

Diungkap Suparno, dulu, sekitar tahun 80-an, setiap anjing K-9 punya pangkat. “Pernah ada anjing K-9 yang berpangkat Kapten. Tapi sekarang kepangkatan itu tidak digunakan lagi,” bebernya.

Trah Melanois, termasuk paling garang. Ukurannya cukup besar. Berat yang betina sekitar 25–30 kg, sedangkan jantan 29–34 kg. Moncong panjang, telinga naik. Teknik menyerangnya juga cepat. Anjing ini akan berlari ke arah seseorang, meloncat untuk menggigit tangan atau yang lainnya, dan menggunakan momentum loncatan untuk menjatuhkan orang tersebut.

Kemudian trah Labrador. Bodinya atletis, cerdas, dan tenang. Termasuk perenang handal. Seperti Rretriever yang lain, rahangnya sangat “ramah”. “Dia bisa membawa telor dengan rahangnya tanpa memecahkan cangkangnya,” kata Suparno. Tak butuh rahang kuat sebagai anjing pendeteksi, cuma butuh hidung dan disiplin. Cocok untuk cak-nar.

Dari trah Herder atau Shepherd, paling terkenal dan paling cerdas. Lalu, trah Rottweiler, dengan berat 50 sampai 60 kg dan tinggi badan 56 sampai 63 cm. Jenis ini tangguh dan kuat serta memiliki daya tahan yang prima. ”Penciuman anjing lebih baik dibandingkan alat buatan manusia seperti metal detektor,” ungkapnya.

Dengan bantuan anjing-anjing itu, Suparno dan jajaran telah banyak membantu Polda Sumsel dan jajaran mengungkapberbagai kasus besar. Diantaranya, kasus pencurian di sebuah ruko di Desa Bandar Agung Primer 16 B, Kecamatan Lalan, Muba. “Tersangka ditemukan dan mengakui perbuatannya,” kata pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, 1 Juli 1964.

Lalu, lanjut Suparno, kasus pencurian di ruko di Jalan Residen Abdul Rozak. Tiga tersangka ditemukan, berikut barang bukti uang Rp2,5 juta. Pernah juga menemukan 5 paket sabu dan buku tabungan berisi Rp1,5 juta di pasar Prabumulih.

Unit K-9 juga sukses ungkap kasus pencurian di SMAN 17 Plus Palembang. “Anjing K-9 menemukan tersangka serta barang bukti dua unit kamera digital dan uang Rp500 ribu,” lanjut suami Nirwana (52) dan ayah dari Irma Setianingsih (19) dan Teguh Saputra (12).

Ada kepuasan tersendiri yang dirasakan Suparno ketika Unit K-9 berhasil menjalankan tugasnya. Alumni Sekolah Tamtama tahun 1982-1983 di Depo Pendidikan dan Latihan, Betung dan jajarannya biasanya melacak sidik jari dan telapak kaki. Namun kerap ditemukan kendala di lokasi kejadian. Terutama ketika ramai masyarakat yang datang.

Sedang untuk kemungkinan berhasil lebih besar, tempat kejadian perkara (TKP) harus steril. “Satwa harus masuk duluan. Kalau sudah ramai orang, sulit cari titik tolak, apalagi kalau TKP-nya sudah rusak,” katanya.

Setiap anjing K-9, harganya cukup fantastis. Sama atau bahkan lebih mahal dari satu unit kendaraan. Ada yang seharga Rp175 juta, Rp150 juta, dan ada yang Rp125 juta. Setidaknya setara dengan 1 unit mobil Brio 1.2L Limited Edition A/T. Begitu pun perawatannya, membutuhkan anggaran yang cukup besar.

Anjing K-9 diberi makan khusus, dog food. Juga dicampur kornet dan susu. Selain itu, juga diberikan vitamin dan obat-obatan. Berikut kebersihan (sanitasi) kandangnya. Jadi, seekor anjing K-9, rata-rata butuh biaya sekitar Rp65 ribu. “Dalam setahun, dana yang harus dikeluarkan sekitar Rp261 juta, lumayan mahal,” lanjut polisi yang bertugas di Polda Sumsel sejak Januari 1983 itu.

Agar anjing K-9 menjalankan tugasnya dengan baik, pemeliharaan menjadi sangat penting. Meskipun sebenarnya tidak rumit, tapi bila dibiarkan anjing bisa sakit. Anjing juga harus dijemur. Hal penting untuk mengetahui sehat atau tidaknya itu dari hidungnya. “Jika berair berarti anjing tidak sehat, termasuk ketika kulitnya kering. Yang bagus, anjing dalam keadaan lembab,” lanjutnya.

Untuk pelatihan, anjing K-9 dilatih di pusat pendidikan khusus K-9 Kelapa Dua, Jawa Barat. Program pelatihannya berstandar internasional. Tentunya disesuaikan dengan trah anjing. Materinya, mulai dari kepatuhan dasar, anjing sahabat, penjaga madya, pelacak madya, anjing karyaguna (kepatuhan, pelacakan, proteksi) dan ketangkasan (agility).

“Di sini (Polda Sumsel, red), anjing-anjing ini juga rutin dilatih lari. Tujuannya agar terbiasa saat tugas dan tidak mudah lelah,”tutur Suparno.

Namun, ada saatnya masa pensiun bagi Satwa K-9. Rata-rata, kalau sudah diatas delapan tahun, akan dikeluarkan dari “kedinasan”. “Jika K-9 gugur, harus diautopsi oleh dokter hewan dan dibuat BAP-nya. Bahkan, sampai kematian dan proses penguburannya pun, harus dibuat surat-suratnya,” beber Suparno yang bertugas di Unit Satwa K-9 sejak 1995.

Seingatnya, sudah ada beberapa yang mati. Di antaranya, Bruno (3 tahun) dan Daq (3 tahun). Terbaru, ada Trully (Labrador/betina) mati setelah sakit kena parasit darah dan dikubur di Pakri. (JPG)

Respon Anda?

komentar