Saya Bukan Profesor Keledai

1911
Pesona Indonesia
Prof Dr Firdaus LN MSi, Wakil Rektor I UMRAH Tanjungpinang, sekaligus Guru Besar Universitas Riau, Pekanbaru. Foto: riaupos.co
Prof Dr Firdaus LN MSi, Wakil Rektor I UMRAH Tanjungpinang, sekaligus Guru Besar Universitas Riau, Pekanbaru. Foto: riaupos.co

batampos.co.id – “Tidak ada dalam kamus hidup saya main-main,” tegas Profesor Firdaus LN. Ini pernyataan pertamanya mengenai keikutsertaannya dalam kontestasi Calon Rektor UMRAH. Penegasan sekaligus pembantahan atas tudingan yang menyebutnya sebagai pelengkap administratif belaka.

Ketika Kemenristek Dikti mengembalikan berkas Pemilihan Rektor Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, semua orang mempertanyakan pasalnya. Dengar punya dengar, ternyata ada kabar bahwa dalam penyelenggaraan pemilihan orang nomor satu dalam perguruan tinggi negeri itu sepaling sedikit diikuti tiga nama calon.

Kala itu hanya ada Profesor Syafsir Akhlus, selaku rektor petahana, dan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Doktor Abdul Malik. Dua nama yang sudah memastikan keikutsertaannya pada pemilihan rektor. Padahal saat itu, tiga nama lain yang punya kapabilitas untuk ikut serta.

Rapat Dewan Senat UMRAH kembali digelar. Pembahasan utamanya adalah permintaan tiga nama calon rektor sebagaimana surat dari Kemenristek Dikti Nomor 1321/A.A2/KP/2016 tanggal 6 April 2016. Rapat berlangsung alot. Sempat terjadi skors. Lobi-lobi pun tak terelakkan. Hingga semua sepakat, demi kelangsungan institusi dan marwah UMRAH, tiga dosen lain yang punya kepatutan dan kelayakan harus ikut mendaftar.

Wakil Rektor I UMRAH Tanjungpinang, Profesor Firdaus LN adalah satu di antaranya. Setelah melalui sidang senat penjaringan penetapan calon rektor, namanya terverifikasi dan dinyatakan memenuhi syarat untuk menemani Syafsir dan Malik pada pemilihan rektor 9 Mei mendatang.

Seketika merebak kesangsian mengenai partisipasi profesor kelahiran Dabo Singkep, 21 Mei 1964 silam ini. Banyak pihak yang meragukan dan bahkan menuding Firdaus hanya kontestan pelengkap administratif. Langkah antisipatif agar Syafsir dan Malik tetap dapat berkompetisi meraih kursi jabatan tertinggi.

Apa kata Firdaus mengenai tudingan yang berembus kencang ini? “Tidak ada dalam kamus hidup saya main-main,” tegasnya, “Saya tidak berniat meraih gelar akademik tambahan sebagai Profesor Keledai – yang hanya mendaftarkan diri sebagai pelengkap administratif.”

Ya, Firdaus enggan jadi keledai sekalipun bertitel awalan profesor – yang selalu mengikut arah kemana tali congornya ditarik. Guru Besar Ekofisiologi Tumbuhan Universitas Riau ini adalah seorang pribadi merdeka. Pantang baginya dihambasahayakan. “Saya punya banyak pertimbangan mengapa tidak maju sebagai calon rektor sedari dini,” ungkapnya, ditemui Batam Pos, awal pekan kemarin.

Setelah mereguk kopi, Firdaus enggan banyak berkutat soal pertimbangannya yang bersifat pribadi. “Kenapa kita tak berbual tentang visi-misi saja. Visi adalah ide, dan ide melampaui waktu, ide melampaui umur, ide melampaui zaman. Mari bicara tentang hal besar dari orang kecik macam saya ini,” ajaknya.

Fisik pembawaan Firdaus memang paling kecik-nonet bila dibandingkan Syafsir dan Malik. Namun, bukan berarti lulusan Program Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XVI Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia ini tidak dapat menyajikan cetak-biru pembangunan dan pengembangan UMRAH yang lebih mentereng dibandingkan dua calon rektor lainnya.

Dibalut dalam tajuk Transformasi Minda berisikan 38 halaman, visi-misi Firdaus bilamana dipercaya menjadi orang nomor satu di UMRAH selama empat tahun ke depan tertuang. “Bukan tak penat ngetik barang itu, wai,” ungkapnya.

Visi Firdaus adalah Terbangunnya Minda UMRAH yang Transformatif sebagai Fondasi Menuju Universitas Maritim yang Terkemuka di Indonesia. Untuk menuju visinya, Firdaus telah menyiapkan misi sebagai amunisi. Dalam benak lulusan Ecôle Nationale Supériure Agronomique (ENSA) de Montpellier, Perancis, bidang Ekofisiologi Tumbuhan ini, satu hal yang tidak boleh ditunda lagi adalah kerja untuk melakukan perubahan fundamental pada minda sivitas akademika sebagai syarat mutlak (conditio sine qua non) transformasi UMRAH saat ini.

“Tanpa pola pikir yang positif dan mantap, arsitektur UMRAH 25 tahun ke depan untuk menjadi universitas maritim kelas dunia adalah jauh panggang dari api,” kata Firdaus.

Titik tolak Firdaus adalah transformasi pola pikir. Sebuah rencana kerja yang kerap memicingkan mata khalayak yang mendengarnya. Stigma bahwasanya mengubah pola pikir adalah mustahil, di tangan dan benak Firdaus itu mudah-mudah saja. Profesor bernama timang Liong A Heng ini sudah menyiapkan sejak jauh-jauh hari mesin penggeraknya.

Menariknya, Firdaus merumuskannya melalui kearifan-kearifan lokal yang sudah lama hidup di tengah-tengah masyarakat. Ada lima mesin penggerak perubahan pola pikir. Kata Firdaus, yang pertama dan paling utama adalah pemahaman visi. “Mereka yang kurang jelas arah atau visi UMRAH niscaya akan bingung sehingga malas bergerak. Dan di sini peran pemimpin yang harus bisa mengantarkan timnya untuk meraih pencapaian terbaik,” ujarnya.

Mesin penggerak kedua adalah kompetensi. Firdaus mengutip kearifan lokal Melayu, kalau kail panjang sejengkal, jangan laut hendak diduga. Tidak ada pilihan lain bagi seorang pemimpin untuk terus mentransformasi keandalan timnya, dalam hal ini sivitas akademika UMRAH Tanjungpinang. Jika tidak, ada sesuatu yang Firdaus takutkan bakal terjadi.

“Jika, mereka akan mati meminum racun sendiri melalui pola pikir penumpang akademik. Lalu bertransformasi menjadi penebar viral mematikan gairah akademik sebagai akademisi beracun,” kata Firdaus.

Visi sudah, kompetensi sudah. Mesin penggerak selanjutnya adalah insentif. Sisi ini dimaklumi sebagai persoalan sentral yang belum jua terselesaikan dengan baik di kalangan sivitas akademika UMRAH Tanjungpinang hingga hari ini. Padahal, kata Firdaus, Nabi Muhammad telah memberikan teladan. “Bayarlah upah budakmu sebelum kering keringatnya,” sitir Firdaus. Nilai sosial ini yang menurutnya bisa tutur lekas mengerek UMRAH sebagai pusat kecemerlangan peradaban.

Mesin penggerak selanjutnya adalah sumberdaya. Firdaus mengutip petitih kuna Melayu, layar hanya berguna jika angin berembus ke arah tujuan. Ada nilai di balik kearifan ini. Katanya, hal ini memulangkan ingatannya pada pentingnya keandalan seorang pemimpin dalam memilih, memilah, dan menetapkan alokasi anggaran untuk pengadaan dan pemeliharaan sumberdaya. “Dengan begitu, mereka tidak frustrasi dalam menampilkan performa yang bermutu tinggi. Bedelau sekaligus memukau serta tahan lama dalam ingatan orang,” ujarnya.

Terakhir, adalah rencana aksi. Bila terpilih menjadi Rektor UMRAH Tanjungpinang, Firdaus enggan apa-apa yang sudah direncanakan dengan baik, tidak diiringi dengan aksi alias perwujudnyataan yang baik. “Kalau tidak, maka terimalah maki-hamun orang-orang tua dulu, cakap tak serupe buat,” jelas Firdaus.

Kelima mesin penggerak ini akan dinyalakan Firdaus sekencang-kencangnya. Selama empat tahun lamanya bila diamanahi jabatan Rektor UMRAH Tanjungpinang. Karena bagi Firdaus, membangun UMRAH adalah membangun peradaban. Sebuah rumah pula tempat anak-anak Kepri mengasah ketajaman dan kecemerlangan pola pikirnya.

Semua azam Firdaus ini tak lekang dari pengalamannya semasa kecil memimpikan pendidikan setinggi langit. Lahir dan tumbuh besar di Dabo Singkep, Kabupaten Lingga, dengan ayah yang berkerjakan sebagai penambang timah kelas bawah, Firdaus hanya bisa merawat mimpinya sekaligus sepenuh hati berusaha untuk duduk di bangku kuliah. “Karena saat itu jarak daerah pesisir dengan kampus itu macam langit dan bumi. Jauhnya nak mampus,” kenang Firdaus.

Sebab itu, kehadiran UMRAH di mata Firdaus adalah sebuah oase di padang gurun. Tempat untuk melepas dahaga anak-anak pesisir akan pengetahuan. Sekaligus jadi laluan tempat budak-budak kampung memajukan kecakapannya lebih mumpuni untuk membangun daerahnya sendiri.

“Dan… dari sinilah segala hasrat saya untuk membangun UMRAH berpunca,” pungkas Firdaus.(muf/bpos)

Respon Anda?

komentar