Dana RTLH 2015 Tahap II Belum Jelas, Warga Menanggung Hutang

528
Pesona Indonesia
Rumah Nasri, penerima RTLH yang tak selesai karena defisit anggaran tahun lalu. foto:hasbi/batampos
Rumah Nasri, penerima RTLH yang tak selesai karena defisit anggaran tahun lalu. foto:hasbi/batampos

batampos.co.id – Pencairan dana rumah tidak layak huni (RTLH) tahap II belum juga jelas. Dana sebesar 30 persen, belum juga dicairkan hingga bulan Mei dan membuat warga penerima terus menunggu karena terlilit hutang menyelesaikan pembangunan secara perorangan.

Pada tahap I tahun 2015 lalu, warga penerima RTLH baru menerima Rp 12.600.000 ribu dari total Rp 18.000.000 untuk masih-masih rumah tangga sasaran (RTS). Sisanya di tahap II, masih Rp 5. 400.000 yang belum dicairkan untuk 1.419 RTLH se Kabupaten Lingga. Jumlahnya mencapai puluhan miliar.

Persoalan ini, beberapa waktu lalu juga sempat disinggung Alias Wello, Bupati Lingga dalam sidang paripurna LKPJ 2015. Awe sapaan akrab orang nomor satu di Lingga ini sangat menyayangkan kondisi dilapangan yang terjadi terhadap rumah warga yang telah dibongkar habis namun tidak dapat selesai dibangun karena belum ada dana tahap II.

“Sisa dana 30 persen, hingga hari ini, belum kita terima dari Provinsi Kepulauan Riau,” kata Awe.

Sementara dilapangan, kondisi rumah-rumah warga terbengkalai. Bahkan, banyak pula warga yang berusaha dengan cara meminjam uang untuk menyelesaikan tempat berteduhnya tersebut. Belum lagi, tukang yang mengerjakan belum juga dapat dibayar padahal telah masuk pertengahan tahun 2016.

“Persoalan ini penting, nasib masyarakat kita,” jelas Awe kepada legislatif Kabupaten Lingga yang menjadi corong aspirasi masyarakat untuk terus memperjuangkan bantuan sosial ini.

Di tempat lain, salah seorang warga yang tidak mau namanya dikorankan mengatakan, kodisi rumahnya belum dapat selesai dengan sempurna. Ruang-ruang sekat kamar belum dapat dibuat. Karena bantuan pemerintah belum cair, terapksa berhutang dulu kepada tukang.

“Kita mau bayar tukang pakai apa. Yang kasian warga yang berhutang menyelesaikan rumah. Tidak diselesaikan, mereka tinggal dimana. Dipaksanakan selesai, ya terpaksa berhutang,” tutupnya. (mhb/bpos)

Respon Anda?

komentar