Ketika Taman Laman Bunda Tepi Laut Disalahgunakan, Warga pun Geram

1018
Pesona Indonesia
Ditemukan alat kontrasepri di Taman Laman Budaya Tepi laut Tanjungpinang, Senin (2/5). F.Yusnadi/Batam Pos
Ditemukan alat kontrasepri di Taman Laman Budaya Tepi laut Tanjungpinang, Senin (2/5). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Taman Laman Bunda Tepi Laut, yang dicitakan menjadi ruang publik sekaligus ikon wisata Kota Tanjungpinang justru disalahgunakan. Penemuan kondom jadi bukti telah ada praktik asusila di sana. Masyarakat memekik; ini tidak boleh dibiarkan begitu saja.

Tiap penghujung pekan, cobalah bertandang ke taman Laman Bunda Tepi Laut Tanjungpinang. Ada keriuhan sarat keriangan di sana. Utamanya anak-anak. Kehadiran wujud dari proyek multitahunan ini memberi warna lain bagi masyarakat untuk menghabiskan waktu senggang. Penantian lama akan keberadaan ruang publik sebagai tempat bersantai sudah terobati.

Memang pengerjaannya belum seratus persen rampung, tapi dibukanya sebagian kawasan telah menarik perhatian. Anak-anak terlihat antusias dan riang sekali bermain di sini. Ada ayunan, kuda-kudaan, perosotan, dan bahkan lantainya dilapisi karpet agar menghindarkan anak-anak dari cedera.

Taman Laman Bunda bukan hanya milik kanak-kanak. Orang tua mereka juga kerap menjadikannya sebagai tempat bersua dengan teman sebaya. Bersembang di hari petang. Bertukar canda dan tawa. Semua yang meriung di Taman Laman Bunda berbahagia. “Anak saya kalau hari Sabtu atau Minggu selalu minta ke main ke sini,” kata Suhartini, warga Tanjungpinang.

Anak gadisnya yang berusia empat tahun dapat bermain sepuasnya dengan teman barunya. Sementara ia mengaku juga mendapat hal yang sama. Duduk bersebelahan dengan orang tua lain, menambah panjang daftar teman Suhartini. Di tempat ini pula, ibu dua anak ini juga kerap berjumpa dengan teman lama.

“Dari kecil dulu memang suka duduk-duduk ‘makan angin’ di sini. Sekarang, jadi lebih sering ke sini, karena anak-anak dan tempatnya memang sudah jauh lebih baik dari dulu,” ungkap Suhartini.

Maka, ketika sampai ke telinganya bahwa petugas kebersihan di sana menemukan kondom, bukan main Suhartini terkejut. Bahkan dengan nada tinggi, ia mengutuk perbuatan asusila di ruang publik terbuka semacam itu. “Kok bisa ya,” katanya heran, “apa mungkin karena kalau malam di sana itu gelap ya.”

Keterkejutan tidak milik Suhartini seorang. Aminah, warga Tanjungpinang lainnya, juga mengungkapkan kekecewaannya telah terjadi penyalahgunaan fungsi ruang publik. Taman Laman Budaya Tepi Laut Tanjungpinang, kata ibu tiga anak ini, adalah milik bersama. Sudah semestinya dijaga bersama pula. “Itu dibangun dari uang pajak kami juga kan,” ungkapnya.

Ia juga tak memungkiri bahwasanya putra bungsunya yang berusia enam tahun juga sering meminta diajak ke sana. Menghabiskan petang dengan bermain perosotan adalah kegiatan favoritnya di Taman Laman Bunda Tepi Laut Tanjungpinang. Karena ada banyak anak-anak yang suka bermain di sana, Aminah meminta pemerintah daerah bisa lebih tanggap dengan persoalan ini.

“Kami harapkan jangan dianggap sepele. Pak Wali harus segera bergerak. Masih untung yang nemu kondom itu petugas kebersihan. Bayangkan kalau anak-anak yang menemukannya. Apa tak pening kami nak jelaskan,” keluhnya.

Sebuah suara yang sekiranya memang mesti ditanggapi secepatnya. Total anggaran yang telah dikucurkan untuk merampungkan pembangunan proyek multi tahunan ini mencapai Rp 16,5 miliar. Dimulai sejak tahun 2011 dan masih belum rampung seratus persen. Namun, sebagian yang telah rampung dan dilengkapi fasilitas bermain anak-anak telah dibuka menjadikan taman ini sebagai tempat favorit menghabiskan petang.

Sementara itu, sedari awal pengerjaan, anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tanjungpinang, Peppy Chandra, menginginkan keberadaan Taman Laman Bunda Tepi Laut menjadi sarana multifungsi bagi masyarakat. Bukan cuma tempat bersantai menikmati senja sehadapan Pulau Penyengat, tapi juga bisa diperuntukkan sebagai tempat berkesenian.

“Kan sudah terbukti bisa dipakai untuk panggung seni. Beberapa kali sudah ada panggung musik atau baca puisi di sana,” ungkapnya.

Dengan begitu, sambung politisi perempuan ini, tempat berkesenian di ruang terbuka yang sudah dinanti banyak insan seni, sebenarnya bisa terjawab di sini. Hanya saja, untuk itu, tidak dipungkiri perlu banyak pembenahan. Semisal, penerangan yang lebih mumpuni dan ketersediaan panggung terbuka.

“Tepi laut dari dulu itu idola orang Tanjungpinang. Kalau panggung seni bisa dibangun di sana pasti bisa kian mendekatkan seni dengan masyarakat,” ujar Peppy.

Ada pun mengenai penemuan alat kontrasepsi awal pekan kemarin, Peppy menanggapi dengan bijak. Menurutnya, pengawasan yang dilakukan oleh personel Satpol PP memang sudah semestinya. Tapi, kata dia, tidak boleh juga terlupakan untuk mulai menyiapkan langkah-langkah antisipatif untuk menghindari perbuatan tak senonoh di sana.

“Misalnya, beri penerangan yang cukup. Kalau lampunya terang, bakal juga menambah keindahan Kota Tanjungpinang di malam hari. Seniman yang bikin acara di sana pun bakal lebih terbantu,” ujar Peppy.

Siapa yang paling merah wajahnya ketika sesuatu yang tak pantas itu ditemukan? Tentu orang nomor satu di Tanjungpinang. Sang Wali Kota Lis Darmansyah naik pitam. Raut mukanya menegas ketika disinggung soal temuan ini.

Buru-buru Lis mempertanyakan kinerja Satpol PP Kota Tanjungpinang yang seharusnya melakukan pengawasan selama sehari semalam di sana. Kekecewaan melingkupinya. Baginya, kinerja Satpol PP di sana jadi catatan merah. “Kalau Taman Laman Bunda yang kecil itu saja tidak bisa ditangani. Kasatpol dan Kabidnya pakai rok saja,” ungkap Lis, “masa harus saya juga yang turun tangan.”

Luahan kekesalan Lis dapat dimaklumi. Taman Laman Bunda Tepi Laut memang adalah sebuah dedikasi kerja yang ingin ia berikan kepada masyarakat Tanjungpinang. Namun, ketika keceriaan dan keriangan yang sudah hadir di sana mulai ternodai oleh praktik-praktik asusila, sirna pula kebanggaannya.

“Pak Lis harus bergerak,” begitu warga Tanjungpinang memekik kepada pemimpinnya.(muf/bpos)

Respon Anda?

komentar