Mengoptimalkan Pendidikan Anak Melalui Keluarga

Refleksi Hari Pendidikan Nasional

587
Pesona Indonesia

Pendidikan memiliki peran penting dalam kemajuan suatu bangsa. Negara yang memiliki Sumber Daya Alam (SDA) berlimpah, tidak otomatis menjadi negara maju bila tak didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni. Keunggulan suatu bangsa, tak hanya bertumpu pada kekayaan alam, namun juga sangat tergantung pada peran SDM.

Ada banyak contoh negara yang minim SDA, namun mampu menjadi bangsa yang sangat diperhitungkan di kancah internasional. Contoh terdekat adalah Singapura. Meski tidak dikaruniai kekayaan melimpah, negara yang hanya sepelemparan batu dari Kota Batam, Kepulauan Riau tersebut mampu menjadi bangsa maju karena memiliki SDM yang handal.

Peran SDM dalam kemajuan suatu negara memang tak terbantahkan. Bagaimana suatu bangsa bisa meningkatkan pembangunan bila tidak ada SDM yang dapat diandalkan? Membangun jalan dan gedung pencakar langit itu perlu ilmu, memanfaatkan batu bara dan gas alam juga tidak bisa dilakukan begitu saja. Perlu pengetahuan ilmiah agar hasil dari pemanfaatan kekayaan alam dapat dirasakan dengan optimal.

Meski pendidikan Indonesia masih jauh tertinggal dibanding Singapura, Malaysia maupun Brunai Darussalam, pemerintah sepertinya sudah sangat sadar akan pentingnya pendidikan untuk mendongkrak kemajuan bangsa. Pemerintah terus berbenah agar pendidikan di Indonesia semakin baik.

Ada berbagai upaya yang dilakukan pemerintah agar kualitas pendidikan di Indonesia terus meningkat, mulai dari menggulirkan program wajib belajar, membantu finansial siswa melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), hingga menyebar guru ke berbagai pelosok nusantara.

Perlu Peran Serta Keluarga
Peran pemerintah dalam pendidikan sangat penting. Tanpa kebijakan yang mendukung, pendidikan di Indonesia akan jalan di tempat. Indonesia akan terus tertinggal. Meski memiliki kekayaan alam melimpah, kita hanya akan menjadi penonton bila generasi muda tidak dibekali dengan pendidikan yang baik.

Namun harus diingat, pendidikan tidak semata menjadi tanggung jawab pemerintah. Seluruh elemen masyarakat seharusnya berperan agar kualitas pendidikan di Indonesia semakin membaik. Bila seluruh lingkungan mendukung pendidikan, target pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia pasti tercapai.

Selain guru, sosok krusial dalam dunia pendidikan adalah keluarga. Keberhasilan seorang anak dalam bidang akademis, sangat berkorelasi erat dengan keterlibatan orangtua dalam pendidikan. Keterlibatan orangtua dalam proses belajar, akan berdampak positif pada prestasi dan keberhasilan anak di sekolah.

Peran serta keluarga dalam kegiatan belajar-mengajar juga dapat memberi efek positif pada perilaku anak di sekolah. Keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak akan berpengaruh pada perkembangan emosi dan sosial anak. Semakin orangtua terlibat, tingkat emosi dan sosial anak akan semakin baik.

Peran serta orangtua dalam pendidikan anak, diharapkan tidak hanya sekadar memilihkan sekolah yang baik, namun juga terlibat langsung dalam kegiatan belajar-mengajar – termasuk mengerjakan tugas sekolah. Keterlibatan orangtua diharapkan dapat membantu membangun mental anak. Selain itu, membantu memahami potensi dan minat anak.

Kejelian orangtua dalam mengidentifikasi potensi yang dimiliki anak, sangat diperlukan untuk melakukan perencanaan pendidikan. Sehingga, orangtua dapat memilih lembaga pendidikan yang mampu mengakomodasi kemampuan dan bakat anak, agar dapat mengembangkan potensi diri lebih optimal.

Ada banyak penelitian yang mengungkapkan pentingnya partisipasi keluarga dan komunitas dalam pendidikan anak. United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF) cukup konsen menyuarakan orangtua agar terlibat dalam pendidikan anak. Lembaga yang ada di bawah naungan Perserikatan Bangsa Bangsa tersebut terus mengkampanyekan agar orang tua dan komunitas terlibat dalam proses pendidikan anak sejak dini.

Orangtua masa kini sebenarnya sudah sangat sadar terkait peran besar mereka dalam pendidikan anak. Namun sayang, orangtua umumnya cukup sibuk dengan rutinitas sehari-hari – terlebih bila ayah dan ibu sama-sama bekerja. Sehingga, peran pengasuhan tidak lagi menjadi hal utama. Pendampingan belajar bagi anak-anak banyak digantikan oleh lembaga pendidikan maupun guru les.

Beberapa orangtua memang ada yang menyiapkan waktu khusus untuk mendampingi anak mereka belajar. Namun porsinya lebih sedikit. Apalagi bila anak sudah memasuki jenjang yang lebih tinggi, terkadang orangtua tidak percaya diri untuk mengajari anak belajar. Khawatir, tidak menguasai pelajaran yang dajarkan di sekolah anak.

Padahal tak perlu ragu untuk mengajari anak. Terlebih saat ini banyak tutorial yang bisa kita unduh melalui internet. Bila tidak bisa mengajarkan Matematika, tinggal googling, bila tidak paham mengenai sejarah, cukup searching. Jangan enggan mendampingi anak belajar karena khawatir dengan kemampuan diri.

Saat mendampingi anak belajar, sebenarnya kesempatan bagi orangtua untuk menjalin kedekatan dengan anak. Orangtua dapat menenyakan perkembangan anak di sekolah saat mengajari Bahasa Inggris, atau Geografi misalkan . Sehingga, bila ada hambatan atau tantangan yang dihadapi anak, orangtua bisa ikut serta memberi solusi atau masukan.

Didukung Peraturan Menteri
Untuk mengoptimalkan peran keluarga dalam pendidikan anak, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendkbud) menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 11 Tahun 2015 tentang Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga.

Melalui pembentukan direktorat tersebut, pemerintah berharap penguatan prestasi belajar, pendidikan kecakapan hidup, serta pendidikan karakter dan kepribadian siswa dapat lebih optimal. Apalagi Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga juga memiliki beberapa program utama, mulai dari penanganan perilaku perundungan (bullying), pendidikan penanganan remaja, hingga penanganan perilaku destruktif.

Program yang dijalankan oleh direktorat tersebut untuk meningkatkan akses dan mutu layanan pendidikan, khususnya pendidikan keluarga bagi masyarakat Indonesia. Apalagi pendidikan keluarga itu tidak hanya mencakup orangtua kandung, namun juga wali atau orangtua dewasa yang bertanggung jawab dalam mendidik anak.

Selain menjalankan program utama, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga juga sedang mengembangkan beberapa program tambahan. Direktorat tersebut menyusun program pencegahan perdagangan orang, narkoba, dan HIV AIDS. Tujuannya tentu saja agar keluarga Indonesia lebih kuat. Bukankan ada istilah Indonesia Strong from Home?

Bantu Pemerintah Tingkatkan Mutu Pendidikan
Hari Pendidikan Nasional 2016 ini, ayo kita jadikan sebagai tonggak untuk menjadikan pendidikan di Indonesia semakin baik. Mari kita bersama-sama mendukung peningkatan pendidikan di Indonesia. Bagi para guru, ayo lebih giat lagi mengajari siswa agar sukses secara akademis maupun sosial.

Sementara bagi orangtua, mari kita sisihkan waktu yang cukup untuk mendidik anak-anak kita di rumah. Jangan hanya mengandalkan guru untuk mengajari dan mendidik anak yang kita cintai. Tanpa peran serta orangtua dalam pendidikan anak, apa yang diajarkan guru di sekolah tidak akan terasa optimal. Bukankah anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, dibanding di sekolah?

Ingat, seorang anak akan sangat melekat pada orangtua, bukan pada guru yang mendidik. Saat anak sukses dan menjadi seseorang yang diharapkan, seumur hidup orangtua akan bangga. Sebaliknya, saat anak terpeleset dan tidak bisa bangkit, selamanya orangtua akan menyesal karena tidak mendidik anak dengan baik.

Ingat pepatah yang di ungkapkan seorang filusuf dan penyair Spanyol, George Santayana, a child educated only at school is an educated child. Jadi, ayo kota berpartisipasi dalam pendidikan anak. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2016! ***

 

Cucum-Suminar

Respon Anda?

komentar