Nadhira dan Nadhiba Bayi Kembar Siam di Tanjungpinang

1639
Pesona Indonesia
Juarnes dan Siti merawat bayinya Nadhiva, Nadhira dan Nadhiba di rumhanya lorong Bawean jalan Pramuka  Tanjungpinang, Selasa (3/5). F.Yusnadi/Batam Pos
Juarnes dan Siti merawat bayinya Nadhiva, Nadhira dan Nadhiba di rumhanya lorong Bawean jalan Pramuka Tanjungpinang, Selasa (3/5). F.Yusnadi/Batam Pos

batampos.co.id – Sebagai orang tua, Juarnes dan Siti ingin anak-anaknya bahagia. Harapan terbesarnya adalah buah hatinya yang terlahir kembar siam dapat dipisahkan dan hidup normal layaknya anak-anak lainnya.

Pagi itu, di rumah yang beralamat di Jalan Pramuka Lorong Bawean nomor 7, dengan telaten Siti Nuryaningsih memegangi dot susu di mulut kedua anaknya, Nadhira Alifah Putri dan Nadhiba Aisyah Putri. Nadhira dan Nadhiba tengah asyik minum susu di ruang keluarga.

Sesekali perempuan berusia tiga puluh tahun itu mengusap lembut kedua anaknya, yang dibaringkan di atas kasur. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir perempuan berjilbab tersebut, kala mengusap lembut kepala kedua anaknya. Mungkin saja, dalam hatinya dia tengah memanjatkan doa terbaik untuk puteri-puteri kesayangannya.

Di dekat Siti, sang suami, Juarnes yang berusia sama dengan sang istri, tengah memangku Nadhiva Alinka Putri, puteri lainnya yang juga tengah asyik menyusu botol.

Ketiga puteri pasangan Juarnes dan Siti sangat menggemaskan, karena terlihat ceria dan begitu cantik. Tapi, seperti ada mendung yang menggantung di sudut mata sang suami, karena melihat dua puteri kesayangannya menyatu satu sama lain di bagian kepala. Ya, dua dari tiga puteri kembar yang dilahirkan Siti kembar siam. Kembar siam merupakan keadaan di mana anak kembar yang tubuhnya masih bersatu.

“Saya tentu saja bahagia mengetahui anak saya lahir. Melihat kondisi ini saya pasrah,” ujar Juarnes. Nada bicaranya terdengar ganjil. Ada rasa bahagia dan duka tercampur disitu. Sejenak dia tidak melanjutkan kata-kata.

Nadhira Alifah Putri, Nadhiba Aisyah Putri dan Nadhiva Alinka Putri dilahirkan Siti di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tanjungpinang 21 Januari 2016 lalu, melalui operasi caesar. Nadhiva lahir dengan kondisi normal dan sehat, sementara Nadhira dan Nadhiba mengalami dempet di bagian puncak kepala.

”Mereka lahir tepat selesai Adzan Zuhur,” ujar Juarnes sambil menggendong Nadhiva.

Itu bukanlah persalinan pertama, karena si kembar memiliki seorang abang, bernama Radhitya Alifinno Pranadinata dan telah berusia 3,5 tahun.

Siti menjelaskan, saat mengandung, dia belum mengetahui kalau anak yang ada dalam perutnya kembar tiga. ”Awalnya, tahunya kembar dua,” ujar ibu rumah tangga ini.

Saat melakukan pemeriksaan, dia diberi tahu bahwa ada kelainan di janin yang dikandung. ”Saat USG dibilang kayak benjolan. Tapi belum tahu benjolan itu air atau apa,” tambahnya. Delapan hari sebelum proses caesar, kata Siti, dokter mengatakan benjolan tersebut adalah daging tumbuh. ”Saat proses caesar baru diketahui kembar tiga,” ujar Siti

Sebagai orang tua, Juarnes dan Siti tentu ingin dua anaknya normal. Pada 29 Januari 2016 lalu, Juarnes membawa si kembar, ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta. Disana, si kecil melalui proses pemeriksaan, seperti computerized tomography scanner (CT-Scan) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Tomogrtafi Resonasi Magnetik (MRT).

”Tapi tindaklanjut pemisahan belum bisa dilakukan. Karena berat badan belum memenuhi,” ujar Jurnaes. Saat dibawa ke RSCM Jakarta, berat badan total Nadhira dan Nadhiba baru 6 kg. ”Kalau berat totalnya sudah 20 Kg, kami akan ke RSCM lagi untuk kontrol,” ujarnya.

Biaya pemeriksaan yang dijalani, tentu tidak sedikit. Beruntung, biaya perobatan diatasi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. ”Biaya transportasi ditanggung Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tanjungpinang,” ujar mantan karyawan agen oli Pertamina ini.

Saat ini, tidak banyak yang diinginkan kedua pasangan ini. Melihat kedua anaknya dapat melewati operasi pemisahan, dan dapat hidup normal adalah yang paling didambakannya. (lra/bpos)

Respon Anda?

komentar