Sumber Air Pulau Bintan Kian Menipis, BWSS IV Konservasi Tali Air Sungai Pulai

754
Pesona Indonesia
Kepala BWSS IV, Agus Rudyanto  menanam pohon mahoni di di sepanjang tali air satu Sungai Pulai, Tanjungppinang, Selasa (3/5). foto:jailani/batampos
Kepala BWSS IV, Agus Rudyanto menanam pohon mahoni di di sepanjang tali air satu Sungai Pulai, Tanjungppinang, Selasa (3/5). foto:jailani/batampos

batampos.co.id – Tak terbantahkan, air adalah urat nadi kehidupan. Tetapi ketersediaannya semakin menipis, karena terbatasnya sumber yang ada. Berangkat dari peringatan hari air dunia 2016, lewat Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA), Balai Wilayah Sungai Sumatera IV melakukan konservasi dengan menanam pohon mahoni di sepanjang tali air satu Sungai Pulai, Tanjungppinang, Selasa (3/5).

Sejak berlangsungnya pembangunan di Tanjungpinang dan Bintan, Sungai Pulai menjadi satu-satunya tumpuan untuk kebutuhan air bersih di Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang. Waduk tersebut hanya mengandalkan curah hujan. Belakangan kemampuan produksi airnya terus berkurang. Karena mulai berkurangnya debit air yang mengalir air ke waduk tersebut. Akibat kerusakan hutan disekitar waduk Sei Pulai. Sehingga tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Tanjungpinang.

Salah satu tali air yang hampir rusak dan khawatir tidak akan memberikan kontribusi bagi ketersediaan air di Waduk Sungai Pulai adalah tali air satu yang berada dikawasan hutan lindung sebelah lahan sawit tirta madu. Konservasi diwilayah tersebut adalah jawaban yang tempat untuk menjaga eksistensi tali air tersebut.

“GN-KPA adalah gerakan moral yang dicanangkan oleh Presiden sejak tahun 2005 lalu. Hal itu kembali dipertegas oleh Bapak Presiden Jokowi tahun 2015 lalu di Taman Waduk Pluit, Jakarta,” ujar Kepala BWSS IV, Agus Rudyanto dalam sambutannya pada acara Implementasi Revitalisasi GN-KPA dalam rangka hari air dunia tahun 2016 bersama masyarakat Sungai Pulai, Tanjungping, kemarin.

Gerakan tersebut ditandai dengan penandatangan MoU bersama delapan kementerian. Yakni, Menteri Dalam Negeri, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional /Bappenas,Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kehutanan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertahanan Nasional, dan Menteri Pembangunan Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Dijelaskannya juga, kesepahaman tersebut dilakukan untuk mewujudkan Nawa Cita yang diusung pemerintah saat ini. Sehingga seluruh pemangku kepentingan di bidang Sumber Daya Air dan masyarakat sadar akan pentingnya upaya penyelamatan air melalui pola kemitraan.

“Diharapkan dari gerakan ini, tumbuh kesepahaman dan kesesuaian langkah demi terwujudnya kelestarian sumber-sumber air yang ada,” jelas Agus.

Menurut Agus, dengan kesadaran akan pentingnya air sebagai sumber kehidupan baik masa kini maupun masa akan datang yang dibutuhkan oleh berbagai sektor kehidupan. Atas dasar itu, air menjadi urusan semua orang. Istilah ‘water is everdy body bussiness’ yang telah mendunia menjadi tonggak penting berkembangnya prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya air.

Kepala Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jaringan Sumber Air (PJSA) BWSS IV, David Marpaung juga mengungkapkan terkait rencana kerja pembangunan ketahanan air di Pulau Bintan kedepan. Untuk jangka menengah adalah menggesa pembangunan Waduk Sei Kawal, dengan kapasitas 400 liter perdetik. Rencana kerja lainnya adalah pembangunan Dam Dompak. Sedangkan untuk jangka panjang adalah pembangunan estuaridam Busung.

“Untuk melaksanakan rencana pembangunan ini, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah. Sehingga rencana pembangunan ketahanan air di Pulau Bintan ini bisa berjalan sesuai dengan target kami,” papar David.

Secara simbolis kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Badan Lingkungan Hidup, Yerry Suparna dalam sambutannya mengatakan ketersediaan air menjadi kunci kesejahteraan masyarakat. Disebutkannya saat ini, di Tanjungpinang dan Bintan sendiri masih banyak masyarakat yang belum menikmati aliran air bersih.

“Masyarakat kita masih mengandalkan sumur. Apalagi kondisi Sungai Pulai masih begini-begini saja dari sejak dulu. Tentu ini butuh kerja cepat, tepat untuk membangun sumber-sumber air yang baru,” ujar Yerry dalam sambutannya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Kasubdit Operasi dan Pemeliharaan Bendungan Direktorat Bina Operasi dan Pemeliharaan Dirjen Sumber Daya Air Kemen PU Pera, Joko Mulyono. Selain itu adalah perwakilan pemerintah daerah dan penggiat lingkungan hidup yang ada di Tanjungpinang dan Pulau Bintan, BP Batam dan sejumlah Universitas serta sekolah di Kepri. Kegiatan ini, digelar oleh BWS Sumatera IV Kepri. (jpg/bpos)

Respon Anda?

komentar