60.205 Warga Kepri Pecandu Narkoba

999
Pesona Indonesia
Beberapa petugas BNNP Kepri sedang melaksanakan razia penyalahgunaan Narkoba kepada pengunjung beberapa tempat hiburan malam di Tanjung Pinang. BNN juga akan mengawasi Lapas dan TKI. Foto : dok. BNN Kepri.
Beberapa petugas BNNP Kepri sedang melaksanakan razia penyalahgunaan Narkoba kepada pengunjung beberapa tempat hiburan malam di Tanjung Pinang.  Foto : dok. BNN Kepri.

batampos.co.id – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kepri mencatat dari 2015-2016 sebanyak 60.205 warga yang berdomisili di tujuh kabupaten/kota se-Kepri menjadi korban pecandu narkoba atau 2,075 persen dari 1.973.043 jiwa penduduk di Kepri. Berdasarkan rinciannya yakni korban coba pakai 19.510 orang, teratur pakai 33.319 orang, pecandu suntik 756 orang dan pecandu non suntik 6.620 orang.

”Dari jumlah tersebut, 50 persennya disumbangkan dari golongan pekerja di antaranya Pegawai Negeri Sipil (PNS), Polri dan Swasta. Sedangkan 50 persennya lagi berasal dari warga biasa, pelajar maupun mahasiswa,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (Cemas) BNNP Kepri, AKBP Ahmad Yani, Selasa (3/5).

Kenyataan di lapangan selama ini banyak pecandu narkoba yang ditahan kepolisian. Bahkan penahanan yang dilakukan tidak melihat unsur kesalahan yang dilakukan baik hanya sebatas korban pecandu ataupun pelaku pengedar narkoba. Akibatnya, setelah para pecandu ini keluar dari tahanan atau bebas, bukannya kesembuhan yang didapati melainkan berubah menjadi pengedar ataupun bandar besar.

Dari hasil investigasi serta inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukannya selama ini, banyak ditemukan aktivitas peredaran narkoba di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Bahkan dari lapas tersebut bisa mengendalikan peredaran narkoba di lingkungan masyarakat luar. Guna menekan peredaran serta korban pecandu narkoba, BNNP akan meningkatkan kegiatan pencegahan serta merehabilitasi korban pecandu narkoba di seluruh kawasan Kepri.

”Kami sepakat untuk melakukan rehabilitasi bagi pecandu yang ditahan di lapas. Jadi saat bebas nantinya pecandu itu sembuh dari kecanduan narkoba bahkan tidak melakukan tindakan penyalahgunaan narkoba lagi,” katanya.

Untuk memerangi peredaran narkoba ini juga BNNP Kepri dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) menandatangani Memorandum Of Understanding (MoU) pada 27 April 2016, lalu. MoU berisikan tata cara ataupun sistem dalam melaksanakan upaya hukum terhadap warga binaan maupun pegawai lapas yang melakukan kriminal narkoba di dalam Lapas.

Semua ini dilakukan agar BNNP tidak menemui kendala lagi untuk melakukan penyelidikan maupun penyidikan terhadap jaringan pengedar narkoba di dalam Lapas. Bahkan saat ini telah disediakan blok khusus di dalam lapas untuk melakukan rehabilitasi. Ruangan reahabilitasi itu tidak campur dengan warga binaan lainnya.

”Jadi dengan MoU inilah kita bisa bertindak di seluruh lapas jika mendapati adanya jaringan narkoba,” timpalnya.

Selain MoU yang dilakukannya dalam upaya mengurangi jumlah pecandu maupun pengedar. BNNP juga berupaya mencegah dengan cara menghimbau kepada warga di seluruh kawasan Kepri secara sukarela melapor apabila mendapati adanya pecandu narkoba. Karena dengan cara melaporkan secara resmi, pecandu tidak akan dipidana melainkan wajib direhabilitasi. Sedangkan untuk proses hingga selesai rehabilitasinya tidak akan dikenakan biaya alias gratis sebab negara yang menjamin semuanya

Kemudian juga akan meningkatkan pengawasan terhadap pelabuhan-pelabuhan ilegal atau tikus yang rawan digunakan sebagai lokasi masuknya narkoba. Besar harapannya kepada warga untuk tidak takut dengan keberadaan BNNP. Melainkan ikut mendukung memerangi serta memberantas narkoba.

”Jangan takut jika mendapati adanya pecandu maupun peredaran narkoba bisa laporkan ke kita. Kita tidak akan pidanakan orang yang melapor,” ungkapnya. (ary/bpos)

Respon Anda?

komentar