Kuartal Pertama 2016, Ekonomi Tumbuh di Bawah Ekspektasi

872
Pesona Indonesia
Ilustrasi
Ilustrasi

batampos.co.id – Proyeksi sejumlah pihak bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2016 bakal di kisaran 5 persen ternyata meleset. Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) pada triwulan pertama tahun ini hanya 4,92 persen. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang hanya 4,73 persen.

Namun, pertumbuhan pada kuartal I tahun ini lebih rendah jika dibandingkan dengan kuartal IV 2015 yang mencapai 5,04 persen. Tetapi, hal tersebut tergolong wajar.

’’Sebab, pada kuartal I biasanya kegiatan ekonomi dan sektoral baru dimulai. Apalagi, pembandingnya dengan kuartal IV 2015 yang keadaannya sudah tinggi (penyerapan anggaran) karena ada penggenjotan anggaran dan swasta,’’ papar Kepala BPS Suryamin Rabu (4/5/2016).

Dia memaparkan, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi perlambatan pertumbuhan PDB. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga melemah. Penurunan tersebut terjadi di seluruh kelompok, kecuali kelompok transportasi dan komunikasi serta kelompok restoran dan hotel. Di sisi lain, dana bansos pemerintah juga menurun. Komponen pengeluaran lainnya yang melambat adalah ekspor dan impor.

’’Ekspor terkontraksi, khususnya barang nonmigas, akibat melambatnya perekonomian negara tujuan ekspor serta penurunan harga komoditas di pasar internasional. Selain itu, impor menurun seiring permintaan domestik yang masih lemah dan depresiasi rupiah (terhadap triwulan I 2015),’’ paparnya.

Sebaliknya, pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga (LNPRT) tumbuh tinggi. Hal tersebut disebabkan beberapa kegiatan berskala nasional seperti mukernas, rakernas, dan kongres berbagai parpol dan ormas. Kemudian, pengeluaran konsumsi pemerintah juga meningkat. Hingga saat ini, belanja pemerintah sudah mencapai 18 persen dari total anggaran.

’’PMTB (pembentukan modal tetap bruto) juga tumbuh signifikan. Hal itu terutama didorong tingginya realisasi investasi berupa bangunan dan konstruksi lain. Artinya, belanja modal pemerintah pusat mengalami ekspansi. Kemudian, pertumbuhan barang modal jenis peralatan lainnya juga tinggi,’’ lanjutnya.

Selain itu, ada beberapa peristiwa di sepanjang triwulan I yang turut memengaruhi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Yakni, harga berbagai komoditas di pasar internasional masih rendah. Di samping itu, kondisi perekonomian global pada triwulan pertama masih lesu.

Hal tersebut ditandai dengan perekonomian Tiongkok yang melambat dari 6,8 persen menjadi 6,7 persen, Amerika Serikat tumbuh 2 persen seperti triwulan sebelumnya dan Singapura tumbuh 1,8 persen seperti triwulan sebelumnya.

Dari dalam negeri, inflasi Januari hingga Maret 0,62 persen. Kemudian, kurs rupiah menguat 3,76 persen pada akhir triwulan I jika dibandingkan dengan akhir triwulan IV 2015.

’’Kemudian, penerimaan negara juga naik 6,16 persen year-on-year (yoy). Yang terakhir, penerimaan pajak sudah 13,24 persen dari target tahun ini,’’ urainya.

Menko Perekonomian Darmin Nasution memaklumi kondisi pertumbuhan ekonomi kuartal I yang melambat. Dia menguraikan, perlambatan pertumbuhan disebabkan beberapa hal. Misalnya, melambatnya pertumbuhan kredit dan bergesernya masa panen padi.

Di sisi lain, belanja pemerintah sudah cukup baik untuk mendongkrak pertumbuhan pada periode pertama. Begitu pula dengan investasi. Karena itu, pihaknya meyakini upaya pemerintah tersebut bakal terlihat di triwulan berikutnya.

Darmin meminta pemerintah konsisten dalam menyerap anggaran. ’’Pada triwulan II akan terlihat (dampak dari belanja pemerintah). Saya kira memang APBN realisasinya sudah terlihat cepat di awal, tapi kemudian tidak berlanjut. Khususnya pada belanja barang dan modal,’’ terangnya. (ken/c5/oki/jpgrup)

Respon Anda?

komentar