Mary Jane Tak Masuk Daftar Eksekusi Mati Jilid III, Ada Kaitannya dengan Pembabasan 10 Sandera?

2184
Pesona Indonesia
 Mary Jane didampingi penerjemah bahasa Tagalog Jefry K. Tindik dalam sidang PK kasusnya di PN Sleman, Jogjakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Setiaky/Jawa Pos
Mary Jane didampingi penerjemah bahasa Tagalog Jefry K. Tindik dalam sidang PK kasusnya di PN Sleman, Jogjakarta, beberapa waktu lalu. Foto: Setiaky/Jawa Pos

batampos.co.id – Mary Jane Fiesta Veloso, terpidana mati kasus narkoba asal Filipina, kembali tidak masuk dalam daftar eksekusi mati jilid III yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Ini berarti sudah dua kali Mary Jane lolos dari maut.

Berbagai kalangan menilai, tidak masuknya Mary Jane dalam daftar eksekusi jilid III di Nusakambangan dalam waktu dekat ini bisa jadi karena balas budi atas upaya pemerintah Filipina membantu membebaskan 10 WNI yang disandera militan Abu Sayyaf.
Bahkan, militer Filipinan kehilangan 18 pasukan terbaiknya dan lebih dari 50 orang luka-luka saat bentrok dengan militan Abui Sayyaf beberapa pekan lalu sebelum 10 anak buah kapal (ABK) Brahma 12 dibebaskan.
Namun berbagai anggapan itu ditepis Jaksa Agung, HM Prasetyo. Beberapa waktu lalu ia mengatakan alasan Mary Jane belum dieksekusi karena masih menunggu proses hukum di Filipina.

“Kita menghormati proses hukum yang berlangsung di Filipina. Selama ini kan ada yang bilang kenapa Jaksa Agung gak eksekusi? Ya kita kan ada prosedurnya,” ujar Prasetyo di Kejagung, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Dia mengakui upaya mengeksekusi mati Mary Jane tidak mudah karena Mary Jane masih memiliki hak hukum yang belum dipenuhi. Maka itu, kata dia, pihaknya tidak bisa asal menembak mati tanpa mempertimbangkan aspek yuridisnya.

“Ketika semua hak hukumnya sudah diberikan, baru kita bisa meningkat ke aspek teknisnya. Jangan cuma nembak-nembak tapi ternyata masih punya hak hukum yang belum dipenuhi kemudian putusannya lain, kita yang salah nanti,” jelasnya.

Mary Jane lolos dalam kesekusi mati jilid II karena keterangannya masih dibutuhkan untuk pengembangan kasus Maria Kristina Sergio tersangka perdagangan orang di Filipina yang diduga menjebak Mary Jane membawa narkoba ke Indonesia.
Seperti diketahui, selain Mary ada satu lagi terpidana mati narkoba asal Perancis, Sergei Atloui yang batal dieksekusi. Sergei di detik terakhir mengajukan upaya hukum menggugat keputusan presiden (keppres) soal grasi, ke Pengadilan Tata Usaha Negara.

Belakangan, gugatan itu ditolak. Namun Sergei tak kunjung dieksekusi. Kejagung membantah tidak dieksekusinya Sergei karena ada tekanan dari Prancis. (nur/boy/jpnn)

Respon Anda?

komentar